PDP Rujukan dari RS di Porong Warga Sogaan Meninggal, Sakit Komplikasi    

GENDING, Radar Bromo-Jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Kabupaten Probolinggo yang meninggal bertambah per Jumat (5/6). Itu setelah warga Kecamatan Pakuniran yang statusnya rujukan dari rumah sakit di Porong, Sidoarjo meninggal.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, penguburan PDP covid-19 tersebut dilakukan oleh tim penguburan Gugus Tugas Percepatan Penanganam Covid-19 setempat. Korban dimakamkan di pemakaman jenazah korona di Desa Curahsawo, Kecamatan Gending.

Ketua Check Poin setempat Ugas Irwanto yang mendampingi pemakaman tersebut mengatakan, korban merupakan pasien rujukan dari rumah sakit Porong, Sidoarjo. Karena ber Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kabupaten Probolinggo, akhirnya pihak rumah sakit di Porong itu merujuk yang bersangkutan ke RSUD Tongas.

“Korban memang sudah sakit. Sebenarnya keluarga ingin membawa ke porong. Tapi karena KTP Kecamatan Pakuniran makanya dirujuk ke RSUD Tongas,” kata Ugas.

Menurutnya, keluarga yang ada di Porong menginginkan yang bersangkutan untuk dibawa kembali kesana. Upaya yang dilakukan, yaitu melobi pihak rumah sakit Porong. Tetapi, pihak rumah sakit keberatan. Begitu juga keluarga yang di Pakuniran.

Sehingga, kemudian dipasrahkan untuk dimakamkan di pemakaman Covid-19 pemkab. “Karena itu, kesepakatannya dimakamkan di Probolinggo, ” katanya.

Sementara itu, Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid -19 setempat dr Anang Budi Yoelijanto mengatakan, tambahan satu orang PDP yang meninggal dunia ini adalah seorang perempuan berusia 62 tahun dari Desa Sogaan, Kecamatan Pakuniran. Yang bersangkutan ini sebenarnya sudah lama dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Porong.

“Karena yang bersangkutan merupakan warga Kabupaten Probolinggo akhirnya dirujuk kesini. Setelah di-tracking ternyata yang bersangkutan sudah lama berdomisili di Porong,” katanya.

Untuk penyakitnya, lanjut Anang, hasil pemeriksaan dokter banyak. Mulai dari kencing manis, jantung koroner, sesak napas dan ada pneumoli. Yang bersangkutan sudah dilakukan rapid test dan hasilnya non reaktif. Selain itu juga sudah dilakukan pemeriksaan swab sebanyak dua kali, tetapi hasilnya masih belum keluar.

“Untuk penanganan proses pemakaman dianggap sebagai penyakit infeksius sehingga menggunakan protokol pemakaman COVID-19. Dimana petugas yang memakamkan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap,” tuturnya. (sid/mie)