alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Perlunya Ikuti Pendidikan Pranikah untuk Kurangi Perceraian

KRAKSAAN – Tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Probolinggo juga menjadi penyebab jumlah perceraian yang banyak. Di tahun 2018 saja, Pengadilan Agama (PA) Kraksaan mencatat, sepanjang 2018 ada 2.208 kasus perceraian. Belum lagi angka perceraian di PA Probolinggo yang cakupan wilayahnya juga menangani perkara sebagian kawasan Kabupaten Probolinggo.

Angka perceraian yang masih cukup tinggi menjadi pekerjaan tersendiri bagi pemerintah Kabupaten Probolinggo. Pihak Pemkab terus berusaha untuk menurunkan angka perceraian yang masih di atas 2 ribuan. Caranya yaitu dengan pendidikan pranikah dan penyadaran bagi orang tua. Cara itu diklaim mampu menurunkan angka perceraian.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk (Dalduk) Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) mengatakan, upaya untuk mengurangi jumlah perceraian masih terus dilakukan oleh pihaknya. Salah satu caranya yaitu dengan cara melakukan pendidikan pranikah.

“Pendidikan pranikah ini kami melakukannya bersama dengan KUA. Jadi, calon pengantin yang telah mendaftar di KUA itu mendapatkan pendidikan. Mereka diberikan pemahaman mengenai pernikahan dan berkeluarga. Tujuannya, tentu mengurangi angka perceraian,” katanya.

Pria yang akrab disapa Herman ini juga menjelaskan, dengan cara itu diharapkan bisa mempertahankan pernikahannya nanti. Dari pelajaran atau pemahaman yang diberikan seperti halnya pemahaman mengenai pernikahan bisa membantu. Dengan telah memahami situasi kondisi pernikahan, maka mereka akan mulai terbayang etika menikah nanti bakal seperti apa.

“Ini penting. Sebab, para calon pengantin yang notabene masih muda, semua mungkin berpikiran hanya bersenang-senang saja. Tetapi, jika sudah dihadapkan dengan suatu masalah kebanyakan mereka akan mudah mengambil keputusan yang tidak tepat. Karenanya, ini sangat membantu untuk memberikan mereka wawasan mengenai pernikahan,” paparnya.

Bukan hanya itu, pihak BPPKB melaui para penyuluh kecamatan juga berupaya menyadarkan para orang tua yang anaknya mau menikah. Penyadaran itu juga dianggap penting. Pasalnya, dari sebagian kasus perceraian juga ada peran orang tua.

“Contohnya saat ada masalah di rumah tangga pasangan muda. Salah satunya pulang ke rumahnya. Nah, saat itu orang tuanya biasanya menjadi kompor dan menyebabkan pernikahan anaknya kandas. Karenanya peran orang tua juga harus diikutsertakan,” terangnya.

Program yang terus dijalankan oleh pihak BPPKB yaitu kerja sama dengan sekolah. Sayangnya, saat ini hanya satu sekolah saja yang diajak berkerja sama. “Satu lagi strategi yang mulai dilakukan BPPKB untuk mengurangi nikah dini dan mengurangi angka perceraian. Yaitu, melalui pendidikan kependudukan di sekolah dengan membentuk sekolah siaga kependudukan. Dengan ini, kami harapkan baik nikah dini dan perceraian semakin turun,” tandasnya. (sid/fun)

KRAKSAAN – Tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Probolinggo juga menjadi penyebab jumlah perceraian yang banyak. Di tahun 2018 saja, Pengadilan Agama (PA) Kraksaan mencatat, sepanjang 2018 ada 2.208 kasus perceraian. Belum lagi angka perceraian di PA Probolinggo yang cakupan wilayahnya juga menangani perkara sebagian kawasan Kabupaten Probolinggo.

Angka perceraian yang masih cukup tinggi menjadi pekerjaan tersendiri bagi pemerintah Kabupaten Probolinggo. Pihak Pemkab terus berusaha untuk menurunkan angka perceraian yang masih di atas 2 ribuan. Caranya yaitu dengan pendidikan pranikah dan penyadaran bagi orang tua. Cara itu diklaim mampu menurunkan angka perceraian.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk (Dalduk) Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) mengatakan, upaya untuk mengurangi jumlah perceraian masih terus dilakukan oleh pihaknya. Salah satu caranya yaitu dengan cara melakukan pendidikan pranikah.

“Pendidikan pranikah ini kami melakukannya bersama dengan KUA. Jadi, calon pengantin yang telah mendaftar di KUA itu mendapatkan pendidikan. Mereka diberikan pemahaman mengenai pernikahan dan berkeluarga. Tujuannya, tentu mengurangi angka perceraian,” katanya.

Pria yang akrab disapa Herman ini juga menjelaskan, dengan cara itu diharapkan bisa mempertahankan pernikahannya nanti. Dari pelajaran atau pemahaman yang diberikan seperti halnya pemahaman mengenai pernikahan bisa membantu. Dengan telah memahami situasi kondisi pernikahan, maka mereka akan mulai terbayang etika menikah nanti bakal seperti apa.

“Ini penting. Sebab, para calon pengantin yang notabene masih muda, semua mungkin berpikiran hanya bersenang-senang saja. Tetapi, jika sudah dihadapkan dengan suatu masalah kebanyakan mereka akan mudah mengambil keputusan yang tidak tepat. Karenanya, ini sangat membantu untuk memberikan mereka wawasan mengenai pernikahan,” paparnya.

Bukan hanya itu, pihak BPPKB melaui para penyuluh kecamatan juga berupaya menyadarkan para orang tua yang anaknya mau menikah. Penyadaran itu juga dianggap penting. Pasalnya, dari sebagian kasus perceraian juga ada peran orang tua.

“Contohnya saat ada masalah di rumah tangga pasangan muda. Salah satunya pulang ke rumahnya. Nah, saat itu orang tuanya biasanya menjadi kompor dan menyebabkan pernikahan anaknya kandas. Karenanya peran orang tua juga harus diikutsertakan,” terangnya.

Program yang terus dijalankan oleh pihak BPPKB yaitu kerja sama dengan sekolah. Sayangnya, saat ini hanya satu sekolah saja yang diajak berkerja sama. “Satu lagi strategi yang mulai dilakukan BPPKB untuk mengurangi nikah dini dan mengurangi angka perceraian. Yaitu, melalui pendidikan kependudukan di sekolah dengan membentuk sekolah siaga kependudukan. Dengan ini, kami harapkan baik nikah dini dan perceraian semakin turun,” tandasnya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/