alexametrics
29C
Probolinggo
Friday, 22 January 2021

Intens Monitoring Lokasi Bencana Longsor di Akhir Tahun

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Potensi bencana saat musim hujan perlu diwaspadai. Salah satunya tanah longsor. Seperti yang terjadi di Kecamatan Pakuniran dan Lumbang beberapa waktu lalu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mencatat, tahun ini kejadian tanah longsong menurun dibanding tahun lalu.

Bencana tanah longsor dapat terjadi akibat tingginya curah hujan di dataran tinggi. Sehingga perlu dilakukan upaya mitigasi risiko bencana agar dapat diantisipasi. Menjelang akhir tahun, monitoring wilayah rawan tanah longsor dilakukan lebih intensif.

“Tanah longsor memang menjadi ancaman saat musim hujan, oleh karena itu warga khususnya yang ada di pegunungan perlu meningkatkan kewaspadaan,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Probolinggo, Sugeng Suprisayoga.

Berdasarkan data kejadian BPBD Kabupaten Probolinggo, bencana tanah longsor hingga bulan November terdapat 17 kejadian. Angka ini lebih sedikit dibandingkan dengan bencana tanah longsor tahun sebelumnya yang terdapat 26 kejadian.

“Sudah masuk akhir tahun namun kejadian lebih sedikit dibanding tahun lalu. Semoga tidak ada kenaikan yang signifikan. Sebab puncak hujan kami prediksikan masuk pada bulan Desember sampai Januari,” ungkapnya.

Sugeng mengatakan bahwa bencana tanah longsor dapat terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya adalah tingginya curah hujan membuat struktur tanah jauh lebih gembur; erosi tanah akibat sungai mengikis tebing yang tidak memiliki penahan tanah berupa pohon; adanya lahan pertanian dan perkebunan di lereng, di mana tanaman hanya memiliki akar yang kecil tak mampu menahan material tanah.

Pihaknya telah memetakan wilayah yang berpotensi terjadi tanah longsor di Kabupaten Probolinggo. Yakni Wilayah Pakuniran, Tiris, Gading, Krucil, Lumbang, Sumber dan Sukapura. Tim Reaksi Cepat (TRC) pun telah disiagakan sekaligus melakukan monitoring secara rutin pada wilayah tersebut.

“Sudah kami petakan, mayoritas memang di dataran tinggi dan pegunungan. Upaya mitigasi risiko dengan mengajak untuk menanam pohon di lahan gundul juga telah dilakukan. Bencana tidak bisa dihindari, tapi setidaknya dapat diantisipasi,” pungkasnya. (ar/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU