Usaha Kecil-Menengah Kesulitan Pemasaran-Terancam Gulung Tikar

ANGKUT: Babul Jannah mengangkut hasil produksi keripik singkong. Belakangan pelaku IKM ini mengaku kesulatan memasarkan produknya sulitnya mendapat bahan baku. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PAKUNIRAN, Radar Bromo – Pandemi yang tak kunjung berakhir sangat dirasakan Industri Kecil Menengah (IKM) rumahan di Probolinggo. Beberapa IKM terancam gulung tikar alias menutup lahan usahanya, lantaran mulai kesulitan memasarkan produk.

Hal itu dirasakan Babul Jannah, 30, salah satu produsen keripik singkong yang asal Desa Pakuniran, Kecamatan Pakuniran. Dia mengatakan, akibat pandemi Covid-19, dirinya sangat kesulitan dalam membesarkan hasil produksinya. “Saat ini susah dalam penjualan. Sebab sebelumnya pasar-pasar kan sempat ada batasan jam. Meski sekarang sudah normal, tapi pemasarannya masih susah. Kalau seperti ini, terus saya bisa gulung tikar, karena rugi,” ujarnya, Rabu (2/9).

Selain pemasaran, pandemi Covid-19 mempengaruhi bahan baku yang digunakan untuk usahanya. Biasanya Babul mengambil bahan ke petani setempat, namun hal itu tidak lagi dilakukan karena petani di desanya mulai beralih banyak yang beralih tanam.

“Sekarang beli ke tengkulak singkong. Hanya saja barangnya jarang ada. Para pengepul juga sulit mendapatkan barang. Ditambah lagi para petani sudah banyak yang beralih tanam,” ujarnya.

Ia membeber, dari 1 kuintal singkong yang diolah akan menghasilkan 30 kilogram keripik. Dengan sulitnya bahan baku dan pemasaran produknya, usahanya itu memang terancam.

“Saya juga memiliki tiga pekerja. Kalau kesulitan ini tetap berlanjut, untuk membayar pekerja ini juga kebingungan,” ujarnya.

Imbas pandemi juga dirasakan Ulil Amri, 38, salah satu produsen kue kering asal Desa Kertosono, Kecamatan Gading. Dia mengaku, usahanya yang baru setahun dirintisnya, sudah mulai tidak produksi sejak beberapa bulan belakangan.

“Sudah lama tidak mendapatkan orderan, sebab beberapa toko yang biasanya saya taruh barang, tidak mengambil lagi. Alasannya, karena susah dijual pada masa pandemi ini. Kalau seperti ini kemungkinan besar usaha saya akan tutup,” ujar pria yang dua hari lahiran anak ketinya. (mu/fun)