alexametrics
29.8 C
Probolinggo
Monday, 16 May 2022

Jumlah Bencana Angin Kencang-Tanah Longsor Menurun

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Dalam kurun waktu tahun 2020, beberapa bencana melanda Kabupaten Probolinggo. Dua bencana yakni angin kencang dan tanah longsor menjadi bencana yang sering terjadi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo justru mencatat telah terjadi penurunan kejadian dua bencana tersebut dibandingkan tahun sebelumnya.

Angin kencang dan tanah longsor kerap terjadi saat masuk musim hujan. Oleh karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi risiko bencana. Upaya ini dilakukan untuk meminimalisir risiko yang dapat ditimbulkan akibat bencana.

“Dua bencana (angin kencang dan tanah longsor, Red) memang kerap terjadi saat musim hujan. Kalau tidak waspada bisa menimbulkan korban jiwa,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Probolinggo, Sugeng Suprisayoga.

Dari data BPBD Kabupaten Probolinggo, hingga pekan ketiga telah terjadi 43 kejadian bencana angin kencang. Dimana kejadian tertinggi pada bulan februari ada 11 kejadian. Namun demikian kejadian mengalami penurunan, tahun lalu tercatat 50 kejadian angin kencang. Dimana terbanyak pada bulan januari ada 21 kejadian.

Sedangkan kejadian bencana tanah longsor saat ini ada 23 kejadian. Di bulan Februari angka tertinggi mencapai 6 kejadian. Jika dibandingkan dengan tahun lalu juga mengalami penurunan. Pada tahun sebelumnya ada 26 kejadian, dan kejadian terbanyak di Januari dan Desember. Masing-masing ada 6 kejadian.

“Trennya menurun, sebab bencana dipengaruhi oleh kondisi alam dan lingkungan. Penurunan bisa terjadi akibat mitigasi risiko bencana yang sudah baik, atau memang cuaca yang masih cukup bersahabat,” ungkapnya.

Berdasarkan pemantauan dan data kejadian bencana, wilayah rawan terjadi bencana angin kencang adalah Kecamatan Paiton, Pakuniran, Kotaanyar, Pajarakan, Tiris, Krucil, Kuripan, Lumbang, Leces dan Wonomerto. Kemudian wilayah rawan tanah longsor meliputi Kecamatan Pakuniran, Tiris, Gading, Krucil, Lumbang, Sumber dan Sukapura.

“Sebenarnya semua wilayah memiliki tingkat kerawanan yang sama, sebab alam tidak bisa ditebak. Namun ada pemetaan sesuai data kejadian. Ini yang intens kami awasi,” ujar Sugeng. (ar/fun)

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Dalam kurun waktu tahun 2020, beberapa bencana melanda Kabupaten Probolinggo. Dua bencana yakni angin kencang dan tanah longsor menjadi bencana yang sering terjadi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo justru mencatat telah terjadi penurunan kejadian dua bencana tersebut dibandingkan tahun sebelumnya.

Angin kencang dan tanah longsor kerap terjadi saat masuk musim hujan. Oleh karena itu masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi risiko bencana. Upaya ini dilakukan untuk meminimalisir risiko yang dapat ditimbulkan akibat bencana.

“Dua bencana (angin kencang dan tanah longsor, Red) memang kerap terjadi saat musim hujan. Kalau tidak waspada bisa menimbulkan korban jiwa,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Probolinggo, Sugeng Suprisayoga.

Dari data BPBD Kabupaten Probolinggo, hingga pekan ketiga telah terjadi 43 kejadian bencana angin kencang. Dimana kejadian tertinggi pada bulan februari ada 11 kejadian. Namun demikian kejadian mengalami penurunan, tahun lalu tercatat 50 kejadian angin kencang. Dimana terbanyak pada bulan januari ada 21 kejadian.

Sedangkan kejadian bencana tanah longsor saat ini ada 23 kejadian. Di bulan Februari angka tertinggi mencapai 6 kejadian. Jika dibandingkan dengan tahun lalu juga mengalami penurunan. Pada tahun sebelumnya ada 26 kejadian, dan kejadian terbanyak di Januari dan Desember. Masing-masing ada 6 kejadian.

“Trennya menurun, sebab bencana dipengaruhi oleh kondisi alam dan lingkungan. Penurunan bisa terjadi akibat mitigasi risiko bencana yang sudah baik, atau memang cuaca yang masih cukup bersahabat,” ungkapnya.

Berdasarkan pemantauan dan data kejadian bencana, wilayah rawan terjadi bencana angin kencang adalah Kecamatan Paiton, Pakuniran, Kotaanyar, Pajarakan, Tiris, Krucil, Kuripan, Lumbang, Leces dan Wonomerto. Kemudian wilayah rawan tanah longsor meliputi Kecamatan Pakuniran, Tiris, Gading, Krucil, Lumbang, Sumber dan Sukapura.

“Sebenarnya semua wilayah memiliki tingkat kerawanan yang sama, sebab alam tidak bisa ditebak. Namun ada pemetaan sesuai data kejadian. Ini yang intens kami awasi,” ujar Sugeng. (ar/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/