Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dampak Makanan Pedas Ber-Level Bagi Lambung

Achmad Arianto • Sabtu, 13 September 2025 | 19:00 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

Makanan pedas akhir-akhir ini telah menjadi sebuah sajian kuliner yang cukup digemari oleh masyarakat. Mengkonsumsi makanan pedas dalam jangka waktu tertentu rupanya berdampak bagi kesehatan.

JAJANAN dan makanan kekinian dengan tingkat kepedasan yang ekstrim sudah menjamur di masyarakat.

Sajian kuliner ini menyasar pada masyarakat yang menggemari makanan pedas. Baik dari tingkat pedas yang masih normal hingga level ekstrim. Pada umumnya tingkat kepedasan makanan diukur dengan level 1 hingga level 15 bahkan lebih.

Makanan dengan level kepedasan sesuai selera ini bukan hanya dikonsumsi oleh masyarakat pecinta makanan pedas. Beberapa orang juga mencoba makanan pedas hanya karena penasaran dan merasa tertantang lantaran sudah terbiasa makan-makanan pedas dengan level normal. Namun tren makanan pedas ini patut diperhatikan karena dalam jangka waktu tertentu akan berdampak pada kesehatan.

“Saat ini memang marak makanan seblak, keripik, mie instan, dan berbagai camilan lain. Yang menjadikan rasa pedas menyengat sebagai daya tarik utama. Namun, dibalik kenikmatan sensasi pedas yang bikin nagih, tersimpan dampak kesehatan yang perlu diwaspadai. Terutama bagi organ pencernaan,” kata Dokter Umum RS Graha Sehat Kraksaan, dr. Susanti Sugianto, M.ARS.

Makanan pedas yang berasal dari cabai memiliki kandungan gizi dan manfaat bila dikonsumsi dalam batas wajar. Cabai sebagai sumber rasa pedas alami mengandung berbagai gizi yang bermanfaat yang kaya akan Vitamin C. Berperan sebagai antioksidan penangkal radikal bebas dan pendukung sistem imun.

Cabai juga mengandung Vitamin A untuk kesehatan mata, serta senyawa bioaktif yang paling terkenal, yaitu kapsaisin. Kapsaisin inilah yang memberikan sensasi pedas dan panas. Dalam jumlah yang tepat, kapsaisin justru memiliki sejumlah manfaat.

Mulai dari meningkatkan metabolisme tubuh, anti inflamasi alami, dan membantu meredakan hidung tersumbat. Bahkan dalam beberapa studi juga bermanfaat bagi kesehatan jantung.

“Mengkonsumsi cabai atau makanan pedas alami dalam batas normal. Misalnya sebagai sambal atau bumbu pelengkap masakan justru dapat memberikan manfaat bagi tubuh. Kuncinya adalah tidak berlebihan,” ucapnya.

Dokter umum sekaligus Direktur RS Graha Sehat Kraksaan ini menjelaskan mengonsumsi makanan dengan level pedas yang sangat tinggi. Dapat memberikan efek negatif bagi kesehatan. Dalam jangka pendek beberapa hal yang akan dirasakan mulai dari iritasi lambung (gastritis akut). Kapsaisin dalam dosis tinggi dapat mengiritasi dinding lambung, menyebabkan rasa perih, mulas, dan sensasi terbakar (heartburn) sesaat setelah dikonsumsi.

Lalu dispepsia munculnya gejala seperti sakit perut bagian atas, kembung, dan rasa tidak nyaman.

Kemudian asam lambung naik (refluks) makanan pedas dapat memicu otot sphincter esofagus bagian bawah menjadi rileks, sehingga asam lambung mudah naik ke kerongkongan.

Makanan pedas juga menyebabkan diare, sebab kapsaisin dapat mengiritasi usus halus dan besar, mempercepat gerak usus.

Sementara mengkonsumsi makanan pedas dalam jangka panjang akan menyebabkan gastritis kronis, iritasi yang terjadi secara berulang-ulang dapat menyebabkan peradangan lambung yang berkepanjangan. Lambung yang terus-menerus terpapar iritan pedas berlevel tinggi berisiko mengalami luka atau tukak (ulkus). Kondisi ini jika dibiarkan dapat memicu masalah yang lebih serius.

“Dalam jangka panjang makanan pedas juga akan meningkatkan risiko Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Kebiasaan makan pedas dapat memperparah kondisi refluks asam menjadi GERD yang gejalanya lebih persisten dan mengganggu kualitas hidup,” jelasnya. 

Rasa Pedas Bisa Diganti Dengan Rempah Lainnya

SENSASI pedas tidak hanya dapat diperoleh dari cabai. Beberapa rempah-rempah saat diolah juga memiliki sensasi pedas di lidah. Sehingga dapat menjadi salah satu bumbu alternatif yang dapat digunakan untuk mengganti pedas yang dihasilkan oleh cabai.

Dokter Susanti menjelaskan selain cabai, rasa pedas atau heat juga bisa didapat dari rempah lain. Seperti jahe (gingerol) dan merica (piperin). Tapi rempah tersebut memiliki perbedaan dari segi rasa jahe memberikan sensasi pedas yang hangat dan sedikit manis. Sementara merica memberikan rasa tegas dan tajam.

“Meski sama-sama pedas, profil rasanya sangat berbeda sehingga substitusi untuk tujuan kuliner mungkin tidak selalu tepat,” katanya.

Sementara dari sisi kesehatan jahe dan merica memiliki manfaatnya masing-masing. Jahe dikenal sebagai anti-mual dan antiinflamasi. Sedangkan merica dapat membantu penyerapan nutrisi. Baik cabai, jahe, dan merica adalah rempah-rempah yang baik jika digunakan secara bijak dalam masakan.

Karena itulah untuk mendapatkan manfaat gizi dan rasa. Harus bisa mengombinasikan atau memvariasikan penggunaannya, bukan sekadar mencari substitusi demi tingkat kepedasan yang ekstrem.

“Menikmati rasa pedas hanya sebagai penambah selera. Bukan sebagai tantangan. Perlu mengetahui batasan dan peka terhadap sinyal dari tubuh akan makanan pedas. Jika perut sudah mulai mulas, itu adalah tanda untuk berhenti,” bebernya.

Susanti menambahkan begitu penting memilih sumber pedas alami. Baik berasal dari cabai, jahe, atau merica untuk digunakan dalam masakan rumahan. Hindari konsumsi makanan dengan level pedas ekstrem yang hanya mengandalkan sensasi tanpa mempertimbangkan kesehatan lambung dalam jangka panjang.

“Hidup sehat sejatinya dimulai dari pola makan yang bersahabat dengan tubuh,” pungkasnya. (ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#pedas #makan sehat #level pedas