KEBIASAAN menggertakkan gigi (grinding) saat tidur atau yang biasa disebut bruxism mungkin biasa bagi sejumlah orang. Tapi, terkadang menjadi hal aneh bagi sebagian yang lain. Terlebih ketika suaranya terdengar begitu nyaring. Rupanya, grinding bisa berbahaya bagi kesehatan gigi, bahkan dapat menyebabkan komplikasi penyakit.
Sejauh ini, belum diketahui secara pasti penyebab dari gangguan bruxism. Namun, diyakini ada kombinasi antara gangguan fisik, psikologis, hingga genetik. Bruxism bisa terjadi saat pengidapnya terjaga maupun tertidur.
“Gangguan bruxism bukan karena penyakit. Namun, kebiasaan yang tidak disadari,” ujar drg. Kyagus Badius Sani, M.H., CMC.
Bagi mereka yang mengalami gangguan bruxism, biasanya dilatarbelakangi sejumlah faktor. Mulai dari stres, depresi, cemas, rasa marah, dan ketegangan akan suatu kondisi.
“Bruxism yang terjadi saat pengidapnya tertidur biasanya disebabkan riwayat gangguan tidur. Bisa karena mimpi yang menyebabkan kecemasan berlebihan, bisa jadi karena genetik atau keturunan,” ujar kepala Klinik Pratama Rawat Jalan Rumah Sakit Rizani Paiton ini.
Kebiasaan bruxism ini lebih banyak terjadi ketika malam hari. Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai saat terjadi bruxism pada malam hari atau ketika pengidapnya tertidur. Pengidap bruxism akan merasa kelelahan ketika bangun tidur karena mengalami gangguan tidur. Wajah akan terasa pegal dan sakit kepala.
Tanda lain bisa diperhatikan pada bentuk gigi. Pengidap bruxism akan lebih sering mengalami gigi retak, patah, atau goyang. Selain itu, gigi akan menjadi lebih sensitif dan otot rahang sering lelah atau terkunci.
Juga, merasakan nyeri saat mengunyah makanan. Khususnya makanan yang keras. Komplikasi lainnya, pengidap bruxism bisa mengalami sakit telinga.
“Penyebab bruxism juga bisa terjadi karena narkoba dan merokok. Bruxism dapat menyebabkan gigi aus atau terkisis. Diagnosis bruxism dapat diketahui berdasarkan laporan penderita dan observasi klinik adanya keausan gigi,” katanya.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegahnya adalah mengatasi stres, melakukan pola tidur sehat, dan mengunjungi dokter gigi secara rutin.
Mengatasi stres atau penyebab bruxism karena psikologi, bisa dilakukan dengan olahraga, membawa suasana hati lebih baik. Jika dikarenakan obat-obatan terlarang atau narkoba, dokter akan memberi edukasi sampai melanjutkannya pada psikiater.
“Bisa dengan yoga atau melakukan sesuatu yang positif yang bisa menenangkan pikiran. Bisa juga menggujakan mouth guard. Kalau parah, diberi crown gigi atau mahkota gigi. Misalnya, ototnya tegang, bisa diberi pelumas otot agar lebih rileks. Kalau sudah sakit, beri obat nyeri,” jelasnya. (mu/rud)
DAMPAK BRUXISM
- Ketika terjadi pada malam hari atau ketika pengidapnya tertidur, pengidap akan merasa kelelahan ketika bangun tidur karena mengalami gangguan tidur. Wajah akan terasa pegal dan sakit kepala.
- Pengidap bruxism akan lebih sering mengalami gigi retak, patah, atau goyang. Selain itu, gigi akan menjadi lebih sensitif dan otot rahang sering lelah atau terkunci.
- Pengidap akan merasakan nyeri saat mengunyah makanan. Khususnya makanan yang keras. Komplikasi lainnya, pengidap bruxism bisa mengalami sakit telinga.