
DODI Irawan hafal betul perasaan itu. Pulang kerja saat matahari baru naik, sementara tetangga sudah mulai beraktivitas, anak-anak berangkat sekolah, dan suara lingkungan makin ramai. Di saat itulah ia harus menutup pintu kamar, menarik tirai, dan berharap bisa tidur.
Puluhan tahun menjalani sistem kerja sif tidak membuatnya kebal. Tubuh bisa terbiasa dengan rutinitas, tapi tidak pernah benar-benar berdamai dengan pembalikan ritme alami yang terjadi setiap kali jadwal malam datang.
”Awalnya memang terasa berat, terutama kalau mendapat jadwal malam. Ketika orang lain tidur, kami justru harus berangkat kerja. Setelah pulang pagi, tantangannya mencari waktu tidur karena suasana rumah dan lingkungan sudah ramai,” ujar Dodi.
Yang dirasakan Dodi bukan hanya soal kantuk. Tubuh manusia memiliki ritme sirkadian, jam biologis internal yang mengatur kapan seseorang mengantuk, terjaga, lapar, atau waspada.
Ritme ini terbentuk mengikuti siklus terang dan gelap selama 24 jam. Ketika seseorang bangun saat matahari terbit dan tidur saat malam, tubuhnya bergerak selaras dengan ritme itu.
Kerja malam memaksa tubuh berjalan melawan arus. Otak mendapat sinyal bahwa sudah waktunya tidur, kadar melatonin naik, suhu tubuh turun, kewaspadaan menurun, tapi pekerja justru harus tetap terjaga dan fokus di lantai produksi.
Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan menjelaskan, gangguan irama sirkadian akibat kerja sif dapat memengaruhi pengaturan hormon, termasuk melatonin dan kortisol.
Dampaknya tidak berhenti di rasa kantuk. Gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes tipe 2 ikut masuk daftar risiko jangka panjang.
Dodi merasakannya secara bertahap. Tubuh yang dulu terasa lebih tahan kini memberi respons berbeda ketika istirahat berkurang.
”Dulu mungkin badan masih lebih kuat. Sekarang kalau kurang istirahat, efeknya lebih terasa. Badan cepat lelah dan konsentrasi juga harus lebih dijaga,” kata pekerja pabrik di Sukorejo itu.
