KRAKSAAN, Radar Bromo–Siapa Ahmad Hadi, yang tega membunuh kerabat terhitung neneknya sendiri di Desa Legundi, Kecamatan Bantaran itu? Lelaki 24 tahun itu masih kerabat korban. Cucu keponakan. Sehari-harinya, ia dikenal sebagai pengangguran.
Bapak satu anak itu, juga ternyata kecanduan game judi online. Bahkan, tersangka Ahmad Hadi pernah menggadaikan sertifikat tanah rumahnya ke tentangga sebesar Rp 20 juta. Saat ini, belum juga ditebus.
https://radarbromo.jawapos.com/news/27/04/2022/pembunuh-perempuan-tanpa-busana-di-bantaran-ditangkap-masih-saudara/
”Janjinya satu bulan dikembalikan. Namun, hingga saat ini tak kunjung dikembalikan,” ungkap Kapolsek Bantaran AKP Sugeng Harianto, saat jumpa pers kemarin.
Perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu mengatakan, tiap harinya pelaku Ahmad memang sering cekcok dan ribut dengan korban Jamina.
Diduga kuat, pelaku yang tidak memiliki pekerjaan, sering meminta uang pada korban yang masih kerabatnya itu. ”Antar korban dan pelaku sering terjadi cekcok. Bahkan, pernah korban dibanting oleh pelaku,” kata Kapolsek.
Sementara itu, tersangka Ahmad Hadi mengakui perbuatannya. Ia pun mengaku menyesalinya. Bapak satu anak itu mengaku dirinya sakit hati sering dihina oleh korban Jamina. “Saya sering dihina, Pak, sejak almarhum ibu meninggal,” ujar tersangka Ahmad.
KRAKSAAN, Radar Bromo–Siapa Ahmad Hadi, yang tega membunuh kerabat terhitung neneknya sendiri di Desa Legundi, Kecamatan Bantaran itu? Lelaki 24 tahun itu masih kerabat korban. Cucu keponakan. Sehari-harinya, ia dikenal sebagai pengangguran.
Bapak satu anak itu, juga ternyata kecanduan game judi online. Bahkan, tersangka Ahmad Hadi pernah menggadaikan sertifikat tanah rumahnya ke tentangga sebesar Rp 20 juta. Saat ini, belum juga ditebus.
https://radarbromo.jawapos.com/news/27/04/2022/pembunuh-perempuan-tanpa-busana-di-bantaran-ditangkap-masih-saudara/
”Janjinya satu bulan dikembalikan. Namun, hingga saat ini tak kunjung dikembalikan,” ungkap Kapolsek Bantaran AKP Sugeng Harianto, saat jumpa pers kemarin.
Perwira polisi dengan tiga setrip di pundaknya itu mengatakan, tiap harinya pelaku Ahmad memang sering cekcok dan ribut dengan korban Jamina.
Diduga kuat, pelaku yang tidak memiliki pekerjaan, sering meminta uang pada korban yang masih kerabatnya itu. ”Antar korban dan pelaku sering terjadi cekcok. Bahkan, pernah korban dibanting oleh pelaku,” kata Kapolsek.
Sementara itu, tersangka Ahmad Hadi mengakui perbuatannya. Ia pun mengaku menyesalinya. Bapak satu anak itu mengaku dirinya sakit hati sering dihina oleh korban Jamina. “Saya sering dihina, Pak, sejak almarhum ibu meninggal,” ujar tersangka Ahmad.