alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

Psikolog: Tanda Pasangan Tergolong Pemarah Seperti Ini

PURWOSARI, Radar Bromo – Perilaku Ab, pelaku kekerasan terhadap tunangannya di rumah makan Ruko Grand Parimas, mengundang keprihatinan. Kuat dugaan, dia marah karena frustrasi. Kemauannya tidak dituruti.

Kaprodi Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan (UYP) Nanik Kholifah menjelaskan, dari kacamata psikologi, kemarahan pelaku terhadap tunangannya itu bisa bersifat predisposisi. Itu meliputi bilogis, psikologis, dan sosial. Pelaku melakukan kekerasan sebagai akibat peningkatan frustrasi atau tidak tercapainya suatu tujuan.

”Kekerasan ini terjadi juga merupakan proses pembelajaran seseorang dari masa kanak-kanak. Kemudian perilaku itu menjadi bila perilakunya, setiap kali merespons stresor, yang keluar adalah perilaku agresif,” papar Nanik.

Faktor psikologis juga terkait dengan rendahnya pengendalian diri individu. Sifat agresif gampang bangkit jika tidak ada pengendalian diri. “Bisa juga dilihat dari faktor sosial. Apakah dalam keluarga pelaku jika menyelesaikan masalah menggunakan kekerasan,” terangnya.

Nanik mengaku miris melihat video yang viral itu. Gadis tunangan pelaku terlihat tidak mau bicara. Pemuda itu lantas terlihat stres dan memukul. Berkali-kali dia melakukannya dengan jelas. Si gadis tidak melawan. Jadi, ada hal yang tidak dipenuhi, lalu pelaku melakukan kekerasan.

Bisakah perilaku seperti itu dicegah atau disembuhkan? Nanik memaparkan, amarah dan kontrol diri rendah sebenarnya bisa diatasi jika pelaku menyadari kondisi emosinya. Kapan mudah marah, sedih, dan lainnya. ”Kita bisa melakukan terapi kontrol diri sendiri. Entah relaksasi, hobi, rekreasi, dan lainnya,” jelasnya.

Bagaimana mengetahui kalau calon pasangan tergolong pemarah? Nanik menyebutkan caranya. Yaitu, mengamati beberapa perilaku. Apakah pasangan cenderung pemarah atau agresif. Itu bisa dilihat juga dalam respons ketika dia menghadapi masalah.

Apakah calon pasangan suka bicara keras dan suka membatasi. Itu juga sudah bisa dilihat. Karena itu, perempuan harus bisa mengomunikasikan ketidaknyamanan seperti itu kepada calon pasangan. ”Sehingga, pasangan nanti bisa memahami,” tuturnya. (sid/far)

PURWOSARI, Radar Bromo – Perilaku Ab, pelaku kekerasan terhadap tunangannya di rumah makan Ruko Grand Parimas, mengundang keprihatinan. Kuat dugaan, dia marah karena frustrasi. Kemauannya tidak dituruti.

Kaprodi Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan (UYP) Nanik Kholifah menjelaskan, dari kacamata psikologi, kemarahan pelaku terhadap tunangannya itu bisa bersifat predisposisi. Itu meliputi bilogis, psikologis, dan sosial. Pelaku melakukan kekerasan sebagai akibat peningkatan frustrasi atau tidak tercapainya suatu tujuan.

”Kekerasan ini terjadi juga merupakan proses pembelajaran seseorang dari masa kanak-kanak. Kemudian perilaku itu menjadi bila perilakunya, setiap kali merespons stresor, yang keluar adalah perilaku agresif,” papar Nanik.

Faktor psikologis juga terkait dengan rendahnya pengendalian diri individu. Sifat agresif gampang bangkit jika tidak ada pengendalian diri. “Bisa juga dilihat dari faktor sosial. Apakah dalam keluarga pelaku jika menyelesaikan masalah menggunakan kekerasan,” terangnya.

Nanik mengaku miris melihat video yang viral itu. Gadis tunangan pelaku terlihat tidak mau bicara. Pemuda itu lantas terlihat stres dan memukul. Berkali-kali dia melakukannya dengan jelas. Si gadis tidak melawan. Jadi, ada hal yang tidak dipenuhi, lalu pelaku melakukan kekerasan.

Bisakah perilaku seperti itu dicegah atau disembuhkan? Nanik memaparkan, amarah dan kontrol diri rendah sebenarnya bisa diatasi jika pelaku menyadari kondisi emosinya. Kapan mudah marah, sedih, dan lainnya. ”Kita bisa melakukan terapi kontrol diri sendiri. Entah relaksasi, hobi, rekreasi, dan lainnya,” jelasnya.

Bagaimana mengetahui kalau calon pasangan tergolong pemarah? Nanik menyebutkan caranya. Yaitu, mengamati beberapa perilaku. Apakah pasangan cenderung pemarah atau agresif. Itu bisa dilihat juga dalam respons ketika dia menghadapi masalah.

Apakah calon pasangan suka bicara keras dan suka membatasi. Itu juga sudah bisa dilihat. Karena itu, perempuan harus bisa mengomunikasikan ketidaknyamanan seperti itu kepada calon pasangan. ”Sehingga, pasangan nanti bisa memahami,” tuturnya. (sid/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/