alexametrics
27.1 C
Probolinggo
Tuesday, 28 June 2022

Banyak yang Sepakat Pelaku Pemukulan Harus Diproses Hukum

PASURUAN, Radar Bromo- Aksi kekerasan pria berisial AB terhadap tunangannya, juga dikecam oleh aktivis perempuan. Salah satunya, aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pasuruan, Nicky Nurjannah. Dia menilai perilaku laki-laki itu terlihat meremehkan perempuan.

Menurutnya, tindakan kekerasan dan perlakuan kasar terhadap perempuan terjadi karena masih kentalnya stigma bahwa perempuan adalah manusia tanpa daya. Perempuan masih menjadi manusia nomor dua setelah laki-laki dalam hal fisik, kekuatan, hingga kekuasaan.

”Jadi kami dipandang nomor dua setelah laki-laki. Padahal, seharusnya laki-laki dan perempuan sejajar. Sesuai dengan kesetaraan gender,” katanya.

Melihat kasus yang terjadi baru-baru ini, laki-laki yang melakukan tindakan kekerasan terhadap pasangan sudah pasti menganggap dirinya superior. ”Berpikiran dapat mengendalikan serta mendominasi dalam hubungan,” ujar perempuan yang menjabat wakil ketua di DPC GMNI Pasuruan tersebut.

Nicky yakin, melihat viralnya pemberitaan mengenai kasus tersebut, kekerasan sudah terjadi lebih dari sekali. Hal ini tentu sudah termasuk dalam kategori toxic relationship, racun dalam hubungan.

Dia menilai pelaku telah melakukan kekerasan, bahkan pelecehan secara verbal. Toxic relationship semacam ini dapat dihindari dengan lebih bertoleransi serta meningkatkan kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan adalah manusia yang sejajar.

Nicky mengecam aksi pemukulan tersebut. Sebab, sudah tidak zamannya perilaku-perilaku seperti itu terjadi. “Semoga segera diproses. Ini menjadi pembelajaran terhadap pelaku-pelaku lain yang melakukan aksi serupa,” terangnya. (sid/far)

PASURUAN, Radar Bromo- Aksi kekerasan pria berisial AB terhadap tunangannya, juga dikecam oleh aktivis perempuan. Salah satunya, aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pasuruan, Nicky Nurjannah. Dia menilai perilaku laki-laki itu terlihat meremehkan perempuan.

Menurutnya, tindakan kekerasan dan perlakuan kasar terhadap perempuan terjadi karena masih kentalnya stigma bahwa perempuan adalah manusia tanpa daya. Perempuan masih menjadi manusia nomor dua setelah laki-laki dalam hal fisik, kekuatan, hingga kekuasaan.

”Jadi kami dipandang nomor dua setelah laki-laki. Padahal, seharusnya laki-laki dan perempuan sejajar. Sesuai dengan kesetaraan gender,” katanya.

Melihat kasus yang terjadi baru-baru ini, laki-laki yang melakukan tindakan kekerasan terhadap pasangan sudah pasti menganggap dirinya superior. ”Berpikiran dapat mengendalikan serta mendominasi dalam hubungan,” ujar perempuan yang menjabat wakil ketua di DPC GMNI Pasuruan tersebut.

Nicky yakin, melihat viralnya pemberitaan mengenai kasus tersebut, kekerasan sudah terjadi lebih dari sekali. Hal ini tentu sudah termasuk dalam kategori toxic relationship, racun dalam hubungan.

Dia menilai pelaku telah melakukan kekerasan, bahkan pelecehan secara verbal. Toxic relationship semacam ini dapat dihindari dengan lebih bertoleransi serta meningkatkan kesadaran bahwa laki-laki dan perempuan adalah manusia yang sejajar.

Nicky mengecam aksi pemukulan tersebut. Sebab, sudah tidak zamannya perilaku-perilaku seperti itu terjadi. “Semoga segera diproses. Ini menjadi pembelajaran terhadap pelaku-pelaku lain yang melakukan aksi serupa,” terangnya. (sid/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/