Warga Kepel Dibekuk Polisi usai Gelapkan Mobil Warga Grati

GRATI, Radar Bromo – Suhardono, 30, warga Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, harus menjalani hari-harinya di balik jeruji besi. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani ini melakukan aksi penggelapan mobil. Kini, dia sudah mendekam di tahanan Mapolres Pasuruan Kota.

Suhardono diamankan Senin (25/5) oleh Unit Reskrim Polsek Grati sekitar pukul 08.00 saat ia pulang ke rumahnya. Dari tangan pelaku, pihak kepolisian berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, surat keterangan yang dikeluarkan sebuah perusahaan finance dan surat perjanjian pindah tangan angsuran mobil.

Kasubbag Humas Polres Pasuruan Kota AKP Endy Purwanto mengungkapkan, aksi penggelapan ini bermula pada Minggu (17/5), sekitar pukul 14.00. Saat itu pelaku menyewa kendaraan Daihatsu Xenia warna putih nopol N 1964 FW milik Agus Widianto, 38, warga Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati. Keduanya melakukan kesepakatan sewa selama 2 hari dengan biaya sewa sebesar Rp 250.000 per harinya.

Tetapi, setelah jatuh tempo sewa, pelaku tidak mengembalikan kendaraan dan tidak memberikan uang sewa. Setelah dihubungi, nomor handphone pelaku sudah tidak aktif serta GPS kendaraan juga dalam kondisi tidak aktif. Korban sempat berusaha untuk melakukan pencarian, namun tidak berhasil menemukan pelaku dan kendaraan miliknya.

Sabtu (23/5) lalu korban melaporkan kejadian ini ke Polsek Grati. Usai dilakukan pengejaran, pelaku berhasil dibekuk pada senin (25/5) sekitar pukul 08.00. Dari keterangan pelaku bahwa pada senin (18/5) sekitar pukul 20.00, kendaraan korban digadaikan kepada S, warga Kelurahan Kebonagung, Kecamatan Purworejo senilai 15 juta.

Selanjutnya mobil tersebut digadaikan kembali ke wilayah Probolinggo yang tidak dikenal oleh pelaku. Saat ini Polres Pasuruan Kota masih melakukan pencarian keberadaan kendaraan. Kepada polisi, pelaku melalukan hal ini karena terdesak kebutuhan ekonomi.

“Pelaku dikenakan pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dengan ancaman pidana maksimal empat tahun penjara. Alasannya karena kebutuhan ekonomi,” sebut Endy. (riz/fun)