28.7 C
Probolinggo
Monday, February 6, 2023

Diversi Kasus Santri Tewas Terbakar Gagal, Pemohon Legawa

BANGIL, Radar Bromo – Perbuatan MAM membawa dan menyiramkan Pertalite berakibat meninggalnya INF. Santri Ponpes Al-Berr berusia 16 tahun itu terancam hukuman berat setelah korban meninggal. Diversi pun gagal.

Selasa (24/1), berlangsung pertemuan membahas kemungkinan diversi untuk MAM. Kasus itu semula diharapkan diselesaikan di luar jalur hukum. Namun, hingga akhir pertemuan, upaya diversi gagal. Sebab, korban yang masih berusia 13 tahun dan merupakan junior korban di ponpes ternyata meninggal. Perkara tersebut tidak bisa diselesaikan di luar persidangan.

Ketua Bidang Hukum Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPT-PPA) Kabupaten Pasuruan Dani Harianto menjelaskan, beberapa pihak diundang terkait upaya diversi tersebut. Ada perwakilan PPT PPA, kejaksaan, badan pemasyarakatan (bapas), dan lain-lain.

”Diversinya gagal,” katanya.

Menurut Dani, beberapa hal menjadi pemicu gagalnya diversi tersebut. Salah satunya, korban meninggal dunia. Selain itu, ancaman hukuman terhadap pelaku di atas 7 tahun. Bahkan, berdasar hasil pemeriksaan psikologis terhadap tersangka, MAM secara sadar melakukan perbuatannya. Kesimpulan tersebut dikeluarkan oleh Lembaga Pelayanan Psikologi Geofira Konsultasi, Pengembangan SDM, dan Psikoterapi.

Kasi Pidum Kejari Kabupaten Pasuruan Yusuf Akbar Amin menyatakan, diversi tersebut memang gagal. Sebab, tidak ada kesepakatan antarpihak. Karena itu, perkara ini pun akan berlanjut ke persidangan.

MASIH DI BAWAH USIA: MAM saat bertemu keluarganya. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

BANGIL, Radar Bromo – Perbuatan MAM membawa dan menyiramkan Pertalite berakibat meninggalnya INF. Santri Ponpes Al-Berr berusia 16 tahun itu terancam hukuman berat setelah korban meninggal. Diversi pun gagal.

Selasa (24/1), berlangsung pertemuan membahas kemungkinan diversi untuk MAM. Kasus itu semula diharapkan diselesaikan di luar jalur hukum. Namun, hingga akhir pertemuan, upaya diversi gagal. Sebab, korban yang masih berusia 13 tahun dan merupakan junior korban di ponpes ternyata meninggal. Perkara tersebut tidak bisa diselesaikan di luar persidangan.

Ketua Bidang Hukum Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (PPT-PPA) Kabupaten Pasuruan Dani Harianto menjelaskan, beberapa pihak diundang terkait upaya diversi tersebut. Ada perwakilan PPT PPA, kejaksaan, badan pemasyarakatan (bapas), dan lain-lain.

”Diversinya gagal,” katanya.

Menurut Dani, beberapa hal menjadi pemicu gagalnya diversi tersebut. Salah satunya, korban meninggal dunia. Selain itu, ancaman hukuman terhadap pelaku di atas 7 tahun. Bahkan, berdasar hasil pemeriksaan psikologis terhadap tersangka, MAM secara sadar melakukan perbuatannya. Kesimpulan tersebut dikeluarkan oleh Lembaga Pelayanan Psikologi Geofira Konsultasi, Pengembangan SDM, dan Psikoterapi.

Kasi Pidum Kejari Kabupaten Pasuruan Yusuf Akbar Amin menyatakan, diversi tersebut memang gagal. Sebab, tidak ada kesepakatan antarpihak. Karena itu, perkara ini pun akan berlanjut ke persidangan.

MASIH DI BAWAH USIA: MAM saat bertemu keluarganya. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru