alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Direkonstruksi, Korban-Tersangka Penganiayaan Triwung Lor Beda Keterangan

KADEMANGAN, Radar Bromo – Kasus penganiayaan dengan tersangka pasangan suami istri (pasutri) Yuyun Abdul Rohman, 34 dan Suma, 32, warga Desa Mentor, Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, terus bergulir. Rabu (23/10), penyidik Polsek Kademangan, Polres Probolinggo Kota melakukan rekonstruksi ulang.

Rekonstruksi ulang dilakukan di rumah tersangka Patahati, 25, di Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Dalam rekonstruksi, para tersangka dan korban Supaidah, sama-sama datang. Mereka juga memperagakan setiap adegannya.

Dalam rekonstruksi ulang yang berlangsung kurang dari 30 menit dimulai pukul 10.30 tampak Supaidah dan rekannya, Cuplik turun dari motor. Mereka menuju rumah Patahati di Jalan Himalaya, Kelurahan Triwung Lor. Saat itu, pembantu Patahati, Suma bersama suaminya, Yuyun sedang duduk di teras.

Mendadak, Supaidah dan Suma cekcok hingga saling jambak. Namun, ada perbedaan keterangan antara tersangka dan korban. Supaidah menyatakan, Suma menjabaknya dulu. Sedangkan, Suma mengatakan menjambaknya setelah ditampar Supaidah. Pernyataan itu diperkuat oleh Yuyun dan Patahati.

Namun, adanya perbedaan kesaksian itu diabaikan penyidik. Mereka melanjutkan reka berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP). “Jika saling cari benar, akan sulit. Kami hanya melengkapi berkas yang kurang dari Kejaksaan, sehingga dilakukan reka adegan,” ujar Kanit Reskrim Polsek Kademangan Ipda Saniran. Menurutnya, terkait perbedaan keterangan dalam rekonstruksi, nantinya akan dilakukan konfrontasi.

Sementara itu, kuasa hukum para tersangka Djando Gadohoka, menilai langkah pihak kepolisian acak-acakan. Sebab, rekonstruksi seharusnya dilakukan sebelum gelar perkara, sehingga hasilnya dapat dijadikan acuan untuk menetapkan tersangka.

Namun, menurut Djando, gelar perkara dilakukan lebih awal. Begitu juga dengan penetapan tersangka. “Sekarang jelas mengapa korban datang ke rumah Patahati. Dia (Supaidah) yang datang duluan. Supaidah mengaku dijambak dulu, sementara dari rekonstruksi tadi sudah jelas. Yang datang dan menampar dulu Supaidah,” ujarnya.

Menurutnya, tersangka Yuyun dan Patahati hanya melerai. Namun, pada akhirnya mereka juga ditetapkan sebagai tersangka. “Mereka hanya melerai, kok juga ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Djando.

Diketahui, Juli lalu penyidik Polsek Kademangan menetapkan tiga tersangka kasus penganiayaan terhadap Supaidah. Yakni, Suma dan suaminya, Yuyun Abdul Rohman. Mereka tinggal di Desa Mentor, Kecamatan Sumberasih. Serta, seorang tersangka Patahati. Dia merupakan majikan Suma dan tinggal di Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan.

Informasinya, kasus ini bermula dari utang-piutang. Suma punya utang kepada kerabat Supaidah, Sri. Ternyata Supaidah ikut campur dalam urusan Sri. Mereka cekcok dan berakhir saling jambak. Tak terima, Supaidah melaporkan Suma ke Polsek Kademangan. (rpd/rud)

KADEMANGAN, Radar Bromo – Kasus penganiayaan dengan tersangka pasangan suami istri (pasutri) Yuyun Abdul Rohman, 34 dan Suma, 32, warga Desa Mentor, Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, terus bergulir. Rabu (23/10), penyidik Polsek Kademangan, Polres Probolinggo Kota melakukan rekonstruksi ulang.

Rekonstruksi ulang dilakukan di rumah tersangka Patahati, 25, di Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Dalam rekonstruksi, para tersangka dan korban Supaidah, sama-sama datang. Mereka juga memperagakan setiap adegannya.

Dalam rekonstruksi ulang yang berlangsung kurang dari 30 menit dimulai pukul 10.30 tampak Supaidah dan rekannya, Cuplik turun dari motor. Mereka menuju rumah Patahati di Jalan Himalaya, Kelurahan Triwung Lor. Saat itu, pembantu Patahati, Suma bersama suaminya, Yuyun sedang duduk di teras.

Mendadak, Supaidah dan Suma cekcok hingga saling jambak. Namun, ada perbedaan keterangan antara tersangka dan korban. Supaidah menyatakan, Suma menjabaknya dulu. Sedangkan, Suma mengatakan menjambaknya setelah ditampar Supaidah. Pernyataan itu diperkuat oleh Yuyun dan Patahati.

Namun, adanya perbedaan kesaksian itu diabaikan penyidik. Mereka melanjutkan reka berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP). “Jika saling cari benar, akan sulit. Kami hanya melengkapi berkas yang kurang dari Kejaksaan, sehingga dilakukan reka adegan,” ujar Kanit Reskrim Polsek Kademangan Ipda Saniran. Menurutnya, terkait perbedaan keterangan dalam rekonstruksi, nantinya akan dilakukan konfrontasi.

Sementara itu, kuasa hukum para tersangka Djando Gadohoka, menilai langkah pihak kepolisian acak-acakan. Sebab, rekonstruksi seharusnya dilakukan sebelum gelar perkara, sehingga hasilnya dapat dijadikan acuan untuk menetapkan tersangka.

Namun, menurut Djando, gelar perkara dilakukan lebih awal. Begitu juga dengan penetapan tersangka. “Sekarang jelas mengapa korban datang ke rumah Patahati. Dia (Supaidah) yang datang duluan. Supaidah mengaku dijambak dulu, sementara dari rekonstruksi tadi sudah jelas. Yang datang dan menampar dulu Supaidah,” ujarnya.

Menurutnya, tersangka Yuyun dan Patahati hanya melerai. Namun, pada akhirnya mereka juga ditetapkan sebagai tersangka. “Mereka hanya melerai, kok juga ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Djando.

Diketahui, Juli lalu penyidik Polsek Kademangan menetapkan tiga tersangka kasus penganiayaan terhadap Supaidah. Yakni, Suma dan suaminya, Yuyun Abdul Rohman. Mereka tinggal di Desa Mentor, Kecamatan Sumberasih. Serta, seorang tersangka Patahati. Dia merupakan majikan Suma dan tinggal di Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan.

Informasinya, kasus ini bermula dari utang-piutang. Suma punya utang kepada kerabat Supaidah, Sri. Ternyata Supaidah ikut campur dalam urusan Sri. Mereka cekcok dan berakhir saling jambak. Tak terima, Supaidah melaporkan Suma ke Polsek Kademangan. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/