alexametrics
28.2 C
Probolinggo
Friday, 12 August 2022

Pembunuh Waria Minta Hukuman Diperingan, Ingin Kembali Sekolah

BANGIL – Tuntutan delapan tahun penjara terhadap ETF, 17, remaja yang membunuh Slamet Pujianto alias Metty, 44, warga Desa Arjosari, Kecamatan Rejoso, dianggap penasihat hukum (PH) terdakwa terlalu berat. PH terdakwa pun meminta hukuman itu diperingan.

Hal itu disampaikan Wiwik Tri Haryati, PH terdakwa ETF saat membacakan pleidoi. Pleidoi itu sendiri dibacakan usai pembacaan tuntutan dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Aswin.

Menurut Wiwik Tri Haryati, tuntutan itu dipandang terlalu berat. Mengingat, ETF masih berstatus sebagai anak-anak.

Selain itu, ETF yang tercatat masih pelajar, juga ingin ke sekolah kembali. “Kami ajukan pleidoi. Intinya, kami berharap agar hukumannya bisa ringan,” sambung dia.

Diketahui, Slamet alias Metty tewas dibunuh di rumahnya. Ia dihabisi oleh ETF, berondong bayarannya. Pembunuhan itu diketahui 26 September 2018. (one/mie)

BANGIL – Tuntutan delapan tahun penjara terhadap ETF, 17, remaja yang membunuh Slamet Pujianto alias Metty, 44, warga Desa Arjosari, Kecamatan Rejoso, dianggap penasihat hukum (PH) terdakwa terlalu berat. PH terdakwa pun meminta hukuman itu diperingan.

Hal itu disampaikan Wiwik Tri Haryati, PH terdakwa ETF saat membacakan pleidoi. Pleidoi itu sendiri dibacakan usai pembacaan tuntutan dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Aswin.

Menurut Wiwik Tri Haryati, tuntutan itu dipandang terlalu berat. Mengingat, ETF masih berstatus sebagai anak-anak.

Selain itu, ETF yang tercatat masih pelajar, juga ingin ke sekolah kembali. “Kami ajukan pleidoi. Intinya, kami berharap agar hukumannya bisa ringan,” sambung dia.

Diketahui, Slamet alias Metty tewas dibunuh di rumahnya. Ia dihabisi oleh ETF, berondong bayarannya. Pembunuhan itu diketahui 26 September 2018. (one/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/