Ini Duplik Sidang Polemik Sengketa Tanah Ibu-Anak di Tiris

KRAKSAAN, Radar Bromo – Perseteruan antara Naise, 44, warga Desa Ranuagung, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, dengan ibu kandungnya, Surati, 66, masih berlanjut. Rabu (23/9), persidangan anak yang menggugat ibunya karena masalah tanah ini memasuki tahapan pembacaan duplik.

Dalam dupliknya, kuasa hukum tergugat tetap menyakini tanah yang disengketakan berbeda dengan objek yang diajukan penggugat. Kuasa Hukum Surati sebagai tergugat, Samsul Huda mengatakan, setelah mempelajari bukti-bukti, ternyata objek sengketa bukan bagian dari tanah penggugat.

Menurutnya, ada dasar hak sendiri yang dipunyai para tergugat. Berupa akta hibah dan akta jual beli. “Kami ada bukti kalau tanah ibu (Surati) berbeda lokasi dari tanah Naise. Tanah yang ditempati Surati itu ada akta hibah dan jual belinya,” ujarnya.

Karena masa pendemi Covid-19, kemarin persidangan digelar dengan electronic court. Yaitu, hanya pengiriman duplik dari tergugat kepada Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan. Sidang ini merupakan sidang keempat dari agenda sebelumnya, replik penggugat.

Sebelumnya, Samsul Huda mengatakan, bukti yang pihaknya gunakan dan sebagai pegangan didapat dari keterangan kepolisian. Sebelumnya, Surati dilaporkan anaknya atas perusakan pohon sengon. Namun, kasusnya di-SP3 (Surat Perintah Pemberhentian Penyelidikan). “Seperti yang saya sampaikan sebelumnya. Bukti kuat dari kepolisian. Dan ini menjadi pegangan kami,” ujarnya.

Sementara itu, penasihat hukum Naise sebagai penggugat, Taufik mengaku tetap yakin tanah yang disengketakan milik kliennya. “Katanya punya akta hibah. Kami tidak gentar dan kami tetap pada gugatan kami,” ujarnya.

Dalam persidangan sebelumnya, ia menjelaskan sertifikat kliennya keluar pada 2015. Sedangkan, akta hibah tergugat keluar pada 2017. “Dari situ kan sudah bisa dibayangkan seperti apa. Jadi, kami terus yakin,” ujar Taufik.

Diberitakan sebelumnya, Naise menggugat ibu kandungnya, Surati, ke PN Kraksaan. Masalahnya, Surati disebut-sebut menempati dan mendirikan rumah di pekarangannya. Sedangkan, Surati menyakini tanah yang ditempati masih miliknya. Mendapati kasus ini, PN Kraksaan berusaha mendamaikan mereka. Namun, mentok dan kasusnya berlanjut ke meja hijau. (sid/rud)