alexametrics
25.5 C
Probolinggo
Friday, 12 August 2022

Dituding Pernah Dipenjara, Wanita asal Purwosari Sulit Dapat Pekerjaan, Akhirnya Polisikan Penyebar Hoax

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Menyebar berita yang belum tentu kebenarannya, bisa merugikan seseorang. Hal inilah yang dirasakan Suci Devita Aristianti, 32, warga Desa Pager, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Wanita berjilbab ini menjadi korban pencemaran nama baik oleh seorang oknum pria yang tidak dikenalnya berinisial Z, yang diketahui seorang kepala sekolah.

Tidak terima dengan perbuatan Z ini, ia pun melaporkan hal ini pada Polres Pasuruan Kota. Laporan itu dilakukan Suci Kamis (11/6). Dia mengungkapkan, peristiwa ini bermula saat ia berada di Alun-alun Pasuruan Sabtu silam (7/3). Pagi itu, sekitar pukul 09.00, ia tiba-tiba mendapatkan pesan dari temannya yang bernama YS melalui pesan WhatsApp. Dalam pesan itu, YS memberitahu jika Z ini telah mengirimkan pesan pada temannya yakni AN.

Isi pesan ini bertuliskan “Hati-hati terhadap kedua orang yang berbaju batik cokelat dan baju putih di atas. Kedua orang itu mengatasnamakan travel telah melarikan uang study tour di dua lembaga SMP negeri di Kabupaten Pasuruan. Dan sudah ditangkap Polresta Pasuruan. Waspada!!! Tolong share ke grup yang Anda punya agar tidak terjadi korban-korban berikutnya”.

Dalam pesan ini juga memperlihatkan foto Suci Devita yang mengenakan baju warna putih. Awalnya ketika menerima pesan ini, ia berusaha untuk tidak menggubrisnya. Namun, ternyata pesan ini berdampak pada kehidupannya.

Usai resign dari salah satu agen travel perjalanan di Kabupaten Pasuruan, ia berusaha mencari pekerjaan lain. Namun, ditolak karena dikira pernah berurusan dengan Polres Pasuruan Kota. Begitu pula saat ia berupaya mengambil kredit di salah satu bank, pengajuannya juga ditolak karena alasan yang serupa. Bahkan, ibunya pun sampai menangis karena pemberitaan ini. Atas dasar inilah ia pun melaporkan Z pada Polres Pasuruan Kota.

“Mulanya saya tidak mau ambil pusing. Ternyata saya sangat dirugikan. Melamar kerja di sana-sini tidak diterima. Ibu saya juga menangis terus karena pesan ini, padahal saya tidak pernah dipenjara. Padahal, saya tidak kenal sama dia. Ketemu tatap muka saja tidak pernah,” ungkap Devita.

Kasatreksrim Polres Pasuruan Kota Iptu Rahmad Ridho menjelaskan, pihaknya sudah menerima laporan dari korban. Saat ini penyidik dari Satreskrim Polres Pasuruan Kota sudah meminta keterangan dari sejumlah saksi. Seperti korban, pihak yang dilaporkan yakni Z maupun teman dari korban yakni YS. Keterangan dari para saksi ini masih didalami.

“Untuk laporannya sudah kami terima dan sedang ditangani. Saat ini masih pemeriksaan saksi dan pengumpulan alat bukti,” sebutnya. (riz/fun)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Menyebar berita yang belum tentu kebenarannya, bisa merugikan seseorang. Hal inilah yang dirasakan Suci Devita Aristianti, 32, warga Desa Pager, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Wanita berjilbab ini menjadi korban pencemaran nama baik oleh seorang oknum pria yang tidak dikenalnya berinisial Z, yang diketahui seorang kepala sekolah.

Tidak terima dengan perbuatan Z ini, ia pun melaporkan hal ini pada Polres Pasuruan Kota. Laporan itu dilakukan Suci Kamis (11/6). Dia mengungkapkan, peristiwa ini bermula saat ia berada di Alun-alun Pasuruan Sabtu silam (7/3). Pagi itu, sekitar pukul 09.00, ia tiba-tiba mendapatkan pesan dari temannya yang bernama YS melalui pesan WhatsApp. Dalam pesan itu, YS memberitahu jika Z ini telah mengirimkan pesan pada temannya yakni AN.

Isi pesan ini bertuliskan “Hati-hati terhadap kedua orang yang berbaju batik cokelat dan baju putih di atas. Kedua orang itu mengatasnamakan travel telah melarikan uang study tour di dua lembaga SMP negeri di Kabupaten Pasuruan. Dan sudah ditangkap Polresta Pasuruan. Waspada!!! Tolong share ke grup yang Anda punya agar tidak terjadi korban-korban berikutnya”.

Dalam pesan ini juga memperlihatkan foto Suci Devita yang mengenakan baju warna putih. Awalnya ketika menerima pesan ini, ia berusaha untuk tidak menggubrisnya. Namun, ternyata pesan ini berdampak pada kehidupannya.

Usai resign dari salah satu agen travel perjalanan di Kabupaten Pasuruan, ia berusaha mencari pekerjaan lain. Namun, ditolak karena dikira pernah berurusan dengan Polres Pasuruan Kota. Begitu pula saat ia berupaya mengambil kredit di salah satu bank, pengajuannya juga ditolak karena alasan yang serupa. Bahkan, ibunya pun sampai menangis karena pemberitaan ini. Atas dasar inilah ia pun melaporkan Z pada Polres Pasuruan Kota.

“Mulanya saya tidak mau ambil pusing. Ternyata saya sangat dirugikan. Melamar kerja di sana-sini tidak diterima. Ibu saya juga menangis terus karena pesan ini, padahal saya tidak pernah dipenjara. Padahal, saya tidak kenal sama dia. Ketemu tatap muka saja tidak pernah,” ungkap Devita.

Kasatreksrim Polres Pasuruan Kota Iptu Rahmad Ridho menjelaskan, pihaknya sudah menerima laporan dari korban. Saat ini penyidik dari Satreskrim Polres Pasuruan Kota sudah meminta keterangan dari sejumlah saksi. Seperti korban, pihak yang dilaporkan yakni Z maupun teman dari korban yakni YS. Keterangan dari para saksi ini masih didalami.

“Untuk laporannya sudah kami terima dan sedang ditangani. Saat ini masih pemeriksaan saksi dan pengumpulan alat bukti,” sebutnya. (riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/