24.7 C
Probolinggo
Sunday, November 27, 2022

Diiming-imingi Gaji Rp 25 Juta Jadi Purel Warkop, Dijual Jadi PSK di Tretes

SURABAYA, Radar Bromo – Kasus perdagangan orang untuk dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) modus jaga warung kopi di Gempol, ternyata sudah berjalan setahun terakhir. Hal itu dilakukan tersangka Dimas Galih Pratikno (DG), 29, dan Rose Nur Afni (RN), 30.

Modusnya, korban diiming-imingi jadi pemandu lagu dengan gaji puluhan juta per bulan. Padahal, mereka dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Ruko Gempol, Pasuruan dan Wisma Pesanggrahan Anggrek II atau kawasan Tretes, Prigen Kabupaten Pasuruan.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto mengatakan, tersangka DG dan RN bertindak sebagai muncikari. Mereka merekrut korban melalui media sosial (medsos) facebook. Modusnya, tersangka menawari pekerjaan korban sebagai pemandu lagu dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan.

“Tersangka menawarkan pekerjaan sebagai pemandu lagu dengan iming-iming gaji Rp 10 juta sampai 25 juta per bulan,” ujar Dirmanto, Senin (21/11).

Dari penawaran tersebut ada beberapa korban tertarik untuk bekerja. Namun, setelah direkrut, mereka tidak hanya dipekerjakan sebagai pemandu lagu. Akan tetapi juga dijual untuk menjadi PSK kepada para tamu. “Sehingga terjadilah perdagangan orang,” terang perwira polisi dengan tiga melati di pundaknya itu.

Ini Peran 5 Terduga Perdagangan Manusia Modus Warkop di Gempol

SURABAYA, Radar Bromo – Kasus perdagangan orang untuk dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) modus jaga warung kopi di Gempol, ternyata sudah berjalan setahun terakhir. Hal itu dilakukan tersangka Dimas Galih Pratikno (DG), 29, dan Rose Nur Afni (RN), 30.

Modusnya, korban diiming-imingi jadi pemandu lagu dengan gaji puluhan juta per bulan. Padahal, mereka dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Ruko Gempol, Pasuruan dan Wisma Pesanggrahan Anggrek II atau kawasan Tretes, Prigen Kabupaten Pasuruan.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto mengatakan, tersangka DG dan RN bertindak sebagai muncikari. Mereka merekrut korban melalui media sosial (medsos) facebook. Modusnya, tersangka menawari pekerjaan korban sebagai pemandu lagu dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan.

“Tersangka menawarkan pekerjaan sebagai pemandu lagu dengan iming-iming gaji Rp 10 juta sampai 25 juta per bulan,” ujar Dirmanto, Senin (21/11).

Dari penawaran tersebut ada beberapa korban tertarik untuk bekerja. Namun, setelah direkrut, mereka tidak hanya dipekerjakan sebagai pemandu lagu. Akan tetapi juga dijual untuk menjadi PSK kepada para tamu. “Sehingga terjadilah perdagangan orang,” terang perwira polisi dengan tiga melati di pundaknya itu.

Ini Peran 5 Terduga Perdagangan Manusia Modus Warkop di Gempol

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/