alexametrics
30.2 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Diparkir di Alun-alun Probolinggo, Motor Karyawan JNE Dicuri

MAYANGAN, Radar Bromo – Warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Listio Hadi Pranomo, 37, sedang diuji. Usai memanjakan anak-anaknya, bapak dua anak ini harus kehilangan motornya. Sabtu (19/6), pukul 19.00, motornya dimaling ketika dipakir di sekitar Alun-alun Kota Probolinggo.

Pria yang bekerja di JNE itu mengaku, malam itu bersama istri dan dua anaknya mengitari alun-alun. Mereka mengendarai sepeda motor Honda Beat putih bernopol N 2885 SY.

Namun, kemudian anaknya meminta masuk alun-alun. Listio pun memutuskan berhenti dan memarkir motornya di sisi timur alun-alun. Dekat dengan pintu Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Probolinggo.

“Saya parkir sekitar pukul 18.00 dengan kondisi terkunci stang dan katup kuncinya tertutup. Dekat dengan pintu timur atau di samping orang jualan helm dan ibu-ibu berjualan mainan,” ujarnya.

Usai azan isya, mereka hendak pulang. Mereka kaget. Motornya raib. “Yang keluar istri dan dua anak saya dulu. Istri saya tanya motor ditaruh di mana? Akhirnya, kami mencarinya dan menanyakan kepada penjual helm dan ibu-ibu yang jual mainan. Mereka mengaku tidak tahu,” katanya.

Di samping motornya, kata Listio, juga ada motor anggota Satpol PP. Setelah mendapati motornya raib, korban melapor ke Polsek Mayangan. “Saya laporan diantar teman. Pulangnya saya minta diantar ke kantor JNE, untuk meminjam motor kantor dan membawa istri serta anak pulang,” jelasnya.

Kapolsek Mayangan Kompol Eko Hari Suprapto mengakui, malam itu ada laporan kehilangan motor. Namun, sampai kemarin surat laporannya belum diterbitkan. “Sepertinya yang bersangkutan masih mengambil kelengkapan berkasnya. Kemungkinan Senin akan datang lagi untuk melengkapi berkas agar terbit LP,” ujarnya.

Terkait dengan aksi pencurian kendaraan bermotor, kata Hari, pihaknya kerap melakukan upaya preventif. Baik dengan operasi terbuka maupun tertutup. Masyarakat juga diimbau menjaga dan mengamankan barang miliknya. Mengingat jumlah personel terbatas.

“Selain itu, kadang pelaku tahu jika ada petugas, karena kami juga minta kerja sama dengan masyarakat. Minimal mampu menjaga barang miliknya serta lingkungannya,” ujarnya.

 

Agar Aman, Butuh Jukir

Saban malam minggu, banyak warga yang menghabiskan waktunya di Alun-alun Kota Probolinggo. Karenanya, keamanan dan kenyamanan pengunjung juga perlu diperhatikan. Termasuk keamanan kendaraan yang mereka bawa agar tak jadi sasaran maling.

Listio Hadi Pranomo, korban pencurian sepeda motor di alun-alun, tak pernah menyangka motornya akan dimaling. Meski Sabtu (19/6) malam, di tempat motornya diparkir tidak ada juru parkir (jukir)-nya.

Karenanya, ia berharap ada petugas parkir di lokasi tersebut, sehingga tingkat keamanannya lebih terjaga. “Tidak ada petugas parkirnya. Infonya hal serupa juga kerap terjadi,” ujarnya.

Menyikapi masalah jukir, Kepala Dinas Perhubungan Kota Probolinggo Agus Effendi mengatakan, di alun-alun sebelah timur memang tidak ada petugas jukir.

“Di depan Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) ada jukirnya Lapas. Di sisi timur, rata-rata (pengunjung) hanya beli di depannya penjual. Terawasi oleh pemilik sepeda. Kalau mau lama-lama di alun-alun, baik rekreasi atau main, biasanya parkir di depan Masjid Agung (sisi barat alun-alun),” jelasnya.

Namun, Agus mengaku akan melihat potensinya. Jika memang dirasa perlu, di sana akan ditugaskan jukir. “Saya berharap warga waktu parkir sepeda dikunci atau kunci ganda,” ujarnya. (rpd/rud)

MAYANGAN, Radar Bromo – Warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Listio Hadi Pranomo, 37, sedang diuji. Usai memanjakan anak-anaknya, bapak dua anak ini harus kehilangan motornya. Sabtu (19/6), pukul 19.00, motornya dimaling ketika dipakir di sekitar Alun-alun Kota Probolinggo.

Pria yang bekerja di JNE itu mengaku, malam itu bersama istri dan dua anaknya mengitari alun-alun. Mereka mengendarai sepeda motor Honda Beat putih bernopol N 2885 SY.

Namun, kemudian anaknya meminta masuk alun-alun. Listio pun memutuskan berhenti dan memarkir motornya di sisi timur alun-alun. Dekat dengan pintu Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Probolinggo.

“Saya parkir sekitar pukul 18.00 dengan kondisi terkunci stang dan katup kuncinya tertutup. Dekat dengan pintu timur atau di samping orang jualan helm dan ibu-ibu berjualan mainan,” ujarnya.

Usai azan isya, mereka hendak pulang. Mereka kaget. Motornya raib. “Yang keluar istri dan dua anak saya dulu. Istri saya tanya motor ditaruh di mana? Akhirnya, kami mencarinya dan menanyakan kepada penjual helm dan ibu-ibu yang jual mainan. Mereka mengaku tidak tahu,” katanya.

Di samping motornya, kata Listio, juga ada motor anggota Satpol PP. Setelah mendapati motornya raib, korban melapor ke Polsek Mayangan. “Saya laporan diantar teman. Pulangnya saya minta diantar ke kantor JNE, untuk meminjam motor kantor dan membawa istri serta anak pulang,” jelasnya.

Kapolsek Mayangan Kompol Eko Hari Suprapto mengakui, malam itu ada laporan kehilangan motor. Namun, sampai kemarin surat laporannya belum diterbitkan. “Sepertinya yang bersangkutan masih mengambil kelengkapan berkasnya. Kemungkinan Senin akan datang lagi untuk melengkapi berkas agar terbit LP,” ujarnya.

Terkait dengan aksi pencurian kendaraan bermotor, kata Hari, pihaknya kerap melakukan upaya preventif. Baik dengan operasi terbuka maupun tertutup. Masyarakat juga diimbau menjaga dan mengamankan barang miliknya. Mengingat jumlah personel terbatas.

“Selain itu, kadang pelaku tahu jika ada petugas, karena kami juga minta kerja sama dengan masyarakat. Minimal mampu menjaga barang miliknya serta lingkungannya,” ujarnya.

 

Agar Aman, Butuh Jukir

Saban malam minggu, banyak warga yang menghabiskan waktunya di Alun-alun Kota Probolinggo. Karenanya, keamanan dan kenyamanan pengunjung juga perlu diperhatikan. Termasuk keamanan kendaraan yang mereka bawa agar tak jadi sasaran maling.

Listio Hadi Pranomo, korban pencurian sepeda motor di alun-alun, tak pernah menyangka motornya akan dimaling. Meski Sabtu (19/6) malam, di tempat motornya diparkir tidak ada juru parkir (jukir)-nya.

Karenanya, ia berharap ada petugas parkir di lokasi tersebut, sehingga tingkat keamanannya lebih terjaga. “Tidak ada petugas parkirnya. Infonya hal serupa juga kerap terjadi,” ujarnya.

Menyikapi masalah jukir, Kepala Dinas Perhubungan Kota Probolinggo Agus Effendi mengatakan, di alun-alun sebelah timur memang tidak ada petugas jukir.

“Di depan Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) ada jukirnya Lapas. Di sisi timur, rata-rata (pengunjung) hanya beli di depannya penjual. Terawasi oleh pemilik sepeda. Kalau mau lama-lama di alun-alun, baik rekreasi atau main, biasanya parkir di depan Masjid Agung (sisi barat alun-alun),” jelasnya.

Namun, Agus mengaku akan melihat potensinya. Jika memang dirasa perlu, di sana akan ditugaskan jukir. “Saya berharap warga waktu parkir sepeda dikunci atau kunci ganda,” ujarnya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/