alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Pengoplosan Elpiji Subsidi di Prigen, Sekali Kirim Untung Rp 2,5 Juta

BANGIL, Radar Bromo – Aksi pengoplosan elpiji subsidi di sebuah rumah di Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan berhasil dibongkar polisi. Para pelaku mengaku nekat melakukan aksi itu lantaran tergiur keuntungan yang lumayan tinggi.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Adhi Putranto menjelaskan, praktik curang yang dilakukan empat tersangka sudah berjalan sejak April 2021. Mereka tergiur keuntungan tinggi. Karena sekali pengiriman, mereka bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp 2,5 juta untuk sekali pengiriman.

Dalam sepekan, mereka tidak hanya sekali mendistribusikan barang. Tetapi, bisa tiga kali mendapatkan pesanan. “Kami masih mendalami ke mana saja mereka menjual elpiji yang dioplos tersebut,” beber Adhi.

Bila dirinci, harga tabung gas subsidi 3 kg sekitar Rp 17 ribu – Rp 18 ribu per buah. Untuk memenuhi tabung 12 kg, setidaknya dibutuhkan empat tabung. Artinya, hanya menghabiskan sekitar Rp 70 ribu.

Lalu, mereka menjual seharga Rp 95 ribu per tabung ukuran 12 kg. Lebih murah dari harga di pasaran yang sekitar Rp 150 ribuan. Dengan begitu, keuntungan tiap tabung sekitar Rp 55 ribu.

Empat tersangka yaitu Nur Kholik, 31, warga Lecari, Kecamatan Sukorejo; Dayono, 45, warga Dayurejo, Kecamatan Prigen; Ahmad Musyafak, 36, warga Sengonagung, Kecamatan Purwosari. Semuanya warga Kabupaten Pasuruan. Yang keempat yaitu, Muhammad Ferdi Abidin, 33, warga Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo.

Selain menangkap empat pelaku, petugas mengamankan sejumlah barang bukti. Selain puluhan tabung gas melon dan tabung gas 12 kg, juga dua unit pikap, handphone dan sejumlah barang bukti lain.

Keempat tersangka kini terancam hukuman 6 tahun dan denda Rp 6 Miliar. Mereka dijerat pasal 55 UU RI nomor 22/2001 tentang Migas sebagaimana telah diubah dalam pasal 40 UU RI nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja jo pasal 1 angka 8 Permen ESDM RI nomor 13/2018 tentang Kegiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas Dan Liquefied Petroleum Gas.

“Kami juga masih mendalami kasus ini untuk memastikan apakah ada keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut,” pungkasnya.

Ahmad Musyafak, salah satu tersangka mengaku nekat melakukan bisnis tersebut demi makan. Keuntungan yang didapatkannya pun tidak besar. (one/hn)

BANGIL, Radar Bromo – Aksi pengoplosan elpiji subsidi di sebuah rumah di Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan berhasil dibongkar polisi. Para pelaku mengaku nekat melakukan aksi itu lantaran tergiur keuntungan yang lumayan tinggi.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Adhi Putranto menjelaskan, praktik curang yang dilakukan empat tersangka sudah berjalan sejak April 2021. Mereka tergiur keuntungan tinggi. Karena sekali pengiriman, mereka bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp 2,5 juta untuk sekali pengiriman.

Dalam sepekan, mereka tidak hanya sekali mendistribusikan barang. Tetapi, bisa tiga kali mendapatkan pesanan. “Kami masih mendalami ke mana saja mereka menjual elpiji yang dioplos tersebut,” beber Adhi.

Bila dirinci, harga tabung gas subsidi 3 kg sekitar Rp 17 ribu – Rp 18 ribu per buah. Untuk memenuhi tabung 12 kg, setidaknya dibutuhkan empat tabung. Artinya, hanya menghabiskan sekitar Rp 70 ribu.

Lalu, mereka menjual seharga Rp 95 ribu per tabung ukuran 12 kg. Lebih murah dari harga di pasaran yang sekitar Rp 150 ribuan. Dengan begitu, keuntungan tiap tabung sekitar Rp 55 ribu.

Empat tersangka yaitu Nur Kholik, 31, warga Lecari, Kecamatan Sukorejo; Dayono, 45, warga Dayurejo, Kecamatan Prigen; Ahmad Musyafak, 36, warga Sengonagung, Kecamatan Purwosari. Semuanya warga Kabupaten Pasuruan. Yang keempat yaitu, Muhammad Ferdi Abidin, 33, warga Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo.

Selain menangkap empat pelaku, petugas mengamankan sejumlah barang bukti. Selain puluhan tabung gas melon dan tabung gas 12 kg, juga dua unit pikap, handphone dan sejumlah barang bukti lain.

Keempat tersangka kini terancam hukuman 6 tahun dan denda Rp 6 Miliar. Mereka dijerat pasal 55 UU RI nomor 22/2001 tentang Migas sebagaimana telah diubah dalam pasal 40 UU RI nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja jo pasal 1 angka 8 Permen ESDM RI nomor 13/2018 tentang Kegiatan Penyaluran Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas Dan Liquefied Petroleum Gas.

“Kami juga masih mendalami kasus ini untuk memastikan apakah ada keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut,” pungkasnya.

Ahmad Musyafak, salah satu tersangka mengaku nekat melakukan bisnis tersebut demi makan. Keuntungan yang didapatkannya pun tidak besar. (one/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU