Suami Tak Kerja, Ibu 2 Anak asal Pandaan Nekat Edarkan Sabu

BANGIL, Radar Bromo – Beratnya beban hidup yang dipikul Sri Andayani, 35, membuatnya menjadi gelap mata. Ia nekat menjadi penjual sabu-sabu demi menghidupi diri dan keluarganya.

Namun, gara-gara bisnis haram yang dilakoninya itu, bukannya keuntungan yang didapat. Yang ada, ia kini harus berurusan dengan hukum.

Perempuan yang setiap harinya merupakan ibu rumah tangga tersebut, ditangkap polisi sesaat setelah bertransaksi. Kini, kasur empuk tak lagi dinikmati. Ia harus merasakan kerasnya dinding penjara untuk waktu lama. Ia juga tak lagi bisa merawat dua anaknya di rumah.

Waka Polres Pasuruan Kompol Hendy Kurniawan menyampaikan, Sri Andayani diringkus anggota Satreskoba Polres Pasuruan, Selasa, 4 Februari 2020.

Perempuan yang tinggal di Dusun Kedondong, Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, itu ditangkap polisi di rumahnya saat baru saja menjalankan transaksi, jualan sabu-sabu.

Penangkapan itu berawal dari penyelidikan yang dilakukan petugas. Tersangka disebut-sebut menjadi pengedar serbuk kristal putih berupa sabu-sabu. “Informasi itu, menjadi jalan bagi petugas untuk melakukan penelusuran,” tukas Hendy.

Upaya petugas membuahkan hasil. Setelah melakukan pengintaian, petugas kemudian melakukan penangkapan. Ibu dua anak ini ditangkap sesaat setelah bertransaksi.

Beberapa barang bukti berhasil ditemukan. Selain satu kantong plastik berisi sabu-sabu seberat 0,85 gram, petugas juga mengamankan handphone dan uang tunai Rp 200 ribu. Bersama barang bukti yang ditemukan itulah, tersangka kemudian digiring ke Mapolres Pasuruan untuk dimintai keterangan.

Kepada awak media, tersangka baru semingguan menjalankan bisnis haram itu. Ia memperoleh titipan barang dari seseorang yang memang baru dikenalnya.

Ia nekat menjalankan bisnis haram itu lantaran kepepet kebutuhan. Maklum, meski sudah memiliki suami, tapi suaminya tak memiliki pekerjaan.

“Saya baru dua kali ini (jual sabu). Pertama dapat titipan, saya dapat bagian Rp 50 ribu. Dan yang kedua ini, saya ditangkap,” ujarnya.

Kini, ia hanya bisa menyesali apa yang dilakukannya. Karena perbuatannya itu, ia dijerat pasal 114 jo pasal 112 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ia terancam hukuman 10 tahun penjara. (one/mie)