alexametrics
29.1 C
Probolinggo
Sunday, 22 May 2022

Keluarga Sebut Ada Oknum Dispendik, Dalam Kasus Ijazah Palsu Anggota DPRD

KRAKSAAN, Radar Bromo – Kasus dugaan ijazah palsu milik anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Abdul Kadir, terus bergulir. Terlebih setelah keluarga tersangka “bernyanyi” menyebut sejumlah orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Termasuk yang disebut oknum dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo.

Nyanyian itu terungkap ketika keluarga beserta pendukung tersangka Abdul Kadir melakukan demo di depan gedung DPRD dan Polres Probolinggo, Senin (14/10) lalu. Ketika perwakilan kuasa hukum dan keluarga tersangka beraudiensi dengan pimpinan DPRD, mereka mulai menyebutkannya.

Dalam audiensi itu sempat disebutkan kertas ijazah atau blangko ijazah milik Abdul Kadir asli. Itu, dilihat dari hologram dan hasil laboratorium pihak kepolisian. Karenanya, pihak keluarga juga meminta kepada DPRD segera melakukan hearing. Dengan aslinya blangko ijazah itu, mereka menduga ada permainan oknum Dispendik.

Mendapati itu, Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina mengatakan, pihaknya menyerahkan semuanya terhadap proses hukum. Apapun hasilnya nanti, pihaknya akan tetap patuh pada hukum. “Curiga boleh. Nggak apa-apa. Nanti biar fakta yang berbicara,” ujarnya.

Pihaknya berharap apa yang disebutkan tentang oknum orang Dispendik terlibat, tidak terjadi. Mengantisipasi adanya kejadian yang tidak diinginkan itu, ke depan pihaknya akan lebih meningkatkan pembinaan dan pengawasan. “Itu yang akan kami lakukan, sehingga tidak ada lagi hal-hal semacam ini,” ujarnya.

Dewi mengaku akan berhati-hati dalam proses penanganan ujian nasional. Mulai sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah pertama, termasuk hingga sekolah paket. Apalagi, dalam kasus ijazah palsu ini merupakan sekolah paket C, sehingga nanti tidak ada makelar ijazah. “Sekarang ujian sudah menggunakan UNBK. Kami akan hati-hati betul dalam melakukan pengawasan,” ujarnya.

Sementara itu, pihak kepolisian dalam kasus ini baru menetapkan seorang tersangka. Yakni, Abdul Kadir. Namun, pihak kepolisian masih mencurigai adanya pelaku lain. Sebab, yang ditetapkan menjadi tersangka saat ini hanya dijerat dengan pasal pengguna. (sid/rud)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Kasus dugaan ijazah palsu milik anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Abdul Kadir, terus bergulir. Terlebih setelah keluarga tersangka “bernyanyi” menyebut sejumlah orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut. Termasuk yang disebut oknum dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo.

Nyanyian itu terungkap ketika keluarga beserta pendukung tersangka Abdul Kadir melakukan demo di depan gedung DPRD dan Polres Probolinggo, Senin (14/10) lalu. Ketika perwakilan kuasa hukum dan keluarga tersangka beraudiensi dengan pimpinan DPRD, mereka mulai menyebutkannya.

Dalam audiensi itu sempat disebutkan kertas ijazah atau blangko ijazah milik Abdul Kadir asli. Itu, dilihat dari hologram dan hasil laboratorium pihak kepolisian. Karenanya, pihak keluarga juga meminta kepada DPRD segera melakukan hearing. Dengan aslinya blangko ijazah itu, mereka menduga ada permainan oknum Dispendik.

Mendapati itu, Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina mengatakan, pihaknya menyerahkan semuanya terhadap proses hukum. Apapun hasilnya nanti, pihaknya akan tetap patuh pada hukum. “Curiga boleh. Nggak apa-apa. Nanti biar fakta yang berbicara,” ujarnya.

Pihaknya berharap apa yang disebutkan tentang oknum orang Dispendik terlibat, tidak terjadi. Mengantisipasi adanya kejadian yang tidak diinginkan itu, ke depan pihaknya akan lebih meningkatkan pembinaan dan pengawasan. “Itu yang akan kami lakukan, sehingga tidak ada lagi hal-hal semacam ini,” ujarnya.

Dewi mengaku akan berhati-hati dalam proses penanganan ujian nasional. Mulai sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah pertama, termasuk hingga sekolah paket. Apalagi, dalam kasus ijazah palsu ini merupakan sekolah paket C, sehingga nanti tidak ada makelar ijazah. “Sekarang ujian sudah menggunakan UNBK. Kami akan hati-hati betul dalam melakukan pengawasan,” ujarnya.

Sementara itu, pihak kepolisian dalam kasus ini baru menetapkan seorang tersangka. Yakni, Abdul Kadir. Namun, pihak kepolisian masih mencurigai adanya pelaku lain. Sebab, yang ditetapkan menjadi tersangka saat ini hanya dijerat dengan pasal pengguna. (sid/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/