Sita Ratusan Jeriken Antre Premium di SPBU Mastrip dan Gang Salak

KEDOPOK, Radar Bromo – Kerapkali dikeluhkan warga, antrean bensin premium ratusan jeriken, akhirnya ditertibkan Polres Probolinggo Kota, Senin (17/2). Petugas menertibkan antrean jeriken itu di SPBU Mastrip, Jalan Mastrip, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.

Petugas menertibkan 100 jeriken. Semuanya lantas diamankan dan dibawa ke Mapolres Probolinggo Kota.

Kasat Sabhara Polres Probolinggo Kota AKP Dwi Sucahyo mengatakan, pembelian premium menggunakan jeriken tidak dibenarkan. Apalagi sampai antre panjang.

Selain menimbulkan keresahan, pelayanan kepada kendaraan yang lain menjadi terganggu. Baik pada kendaraan roda dua, maupun roda empat.

Dengan antrean ini, menurutnya, pelayanan pembelian premium pada pengendara roda dua maupun roda empat seakan diabaikan. SPBU kemudian seolah-olah lebih mengutamakan pembelian jeriken.

“Kami sering mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa terjadi antrean pembelian premium menggunakan jeriken. Pembelian menggunakan jeriken itu diduga untuk ditimbun,” ujarnya.

Penertiban sendiri, dilakukan pukul 10.30. Saat itu banyak pembeli premium antre menggunakan jeriken. Dengan mengerahkan sekitar 30 personel Sabhara, jeriken yang antre lantas ditertibkan. Ada yang dibawa menggunakan pikap, ada juga yang menggunakan motor.

Petugas juga mengamankan jeriken berisi premium di Gang Salak, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok. Tempat ini diduga sebagai lokasi penimbunan.

“Sekitar seratus jeriken diamankan. Sebanyak sepuluh di antaranya sudah penuh diisi premium dan sisanya masih menunggu antrean. Kami amankan juga jeriken yang ada di gang Salak sebelah timur SPBU,” tuturnya.

Tak hanya mengamankan seratus jeriken, sebanyak empat motor dengan tangki modifikasi turut diamankan di Mapolres Probolinggo Kota. Selanjutnya, pemilik jeriken dan motor didata. Untuk proses lebih lanjut, Sat Sabhara menurut Dwi, akan berkoordinasi dengan Satreskrim dan Satlantas Polresta.

“Kami masih berkoordinasi dengan Satreskrim dan Satlantas untuk proses lebih lanjut. Saat ini kami hanya fokus pada penertiban untuk memberikan efek jera kepada pelaku. Sebab, kegiatan tersebut meresahkan konsumen lain,” tandasnya.

Berdasarkan data sementara, menurutnya, mereka yang antre tidak hanya berasal dari Kota Probolinggo. Ada juga yang berasal dari luar Kota Probolinggo. Mereka rata-rata membeli premium dengan jeriken untuk dijual eceran di pelosok desa dan daerah di dataran tinggi.

“Kebanyakan mereka yang membeli dengan jeriken, kemudian menjualnya lagi secara eceran. Ada beberapa pelaku yang berasal dari Lumajang dan Pasuruan. Mereka membeli menggunakan jeriken dalam skala banyak,” ungkapnya. (ar/hn)