alexametrics
29C
Probolinggo
Thursday, 22 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

LPA Pasuruan Pertanyakan Kasus Laporan Pencabulan Santriwati

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

BANGIL, Radar Bromo – Menggantungnya kasus dugaan pencabulan yang menimpa NS, 16, remaja asal Winongan membuat Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pasuruan berang. LPA pun berharap agar pihak kepolisian segera menuntaskan kasus persetubuhan yang menimpa anak tersebut.

Desakan itu disampaikan Daniel Effendi, wakil ketua LPA Kabupaten Pasuruan saat mendatangi Mapolres Pasuruan, Selasa (16/2). Daniel menyampaikan, kedatangannya ke Mapolres Pasuruan untuk mempertanyakan kejelasan kasus yang menimpa NS. Sebab, sejak kasus itu dilaporkan 8 Januari 2021 lalu, hingga saat ini belum ada kejelasan.

“Kami ingin mengetahui perkembangan kasusnya. Sudah sejauh mana pihak kepolisian menindaklanjuti laporan yang dilakukan pihak keluarga korban,” ungkap Daniel mewakili pihak keluarga korban.

Daniel menguraikan, kasus ini bermula saat korban meminta bantuan kepada terlapor RM untuk membiayai kebutuhan selama di pondok. Kebetulan, korban memang merupakan santriwati di salah satu pondok pesantren di wilayah Pasuruan.

RM pun menyanggupinya. Bahkan, juga menyanggupi untuk membayar indekos korban. Tapi, terlapor meminta persyaratan. Agar korban mau menikah siri dengannya. Alasannya, untuk menghindari zina.

Dari situlah, korban harus melayani terlapor sejak Agustus 2020 hingga September 2020 lalu. “Tapi, semua itu tanpa sepengetahuan keluarga korban,” bebernya.

Pihak keluarga yang mengetahui hal itu, akhirnya tak terima. Pihak keluarga kemudian memilih untuk mengadukan terduga ke pihak kepolisian. Aduan itu dilayangkan atas dugaan persetubuhan dan pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Karena tidak terima itulah, pihak keluarga kemudian mengadukan ke PPA Satreskrim Polres Pasuruan, Januari 2021. Namun hingga saat ini, masih belum jelas perkembangannya. “Anak ini kan masih di bawah umur. Itu yang menjadi persoalan. Kami datang ke sini untuk mengetahui kelanjutan kasusnya,” sambung dia.

Pengacara terlapor RM, Yudi Mustofa menyampaikan, laporan yang dilayangkan tersebut adalah sebuah fitnah terhadap kliennya. Tidak ada pernikahan siri ataupun pencabulan apalagi persetubuhan yang dilakukan oleh kliennya.

Justru, pihaknya menganggap kalau kliennya itu berniat untuk membantu korban. Namun, pertolongan yang diberikan malah berakhir dengan sebuah pelaporan. “Justru klien kami ini adalah korban. Klien kami sebenarnya mencarikan tempat dan biaya untuk mondok, tapi malah dilaporkan. Kita lihat pembuktiannya nanti,” tandasnya.

Kanit PPA Satreskrim Polres Pasuruan Aiptu Nidhom menguraikan, masih mendalami kasus tersebut. Saat ini sudah tahap penyidikan. Meski belum ada tersangka yang ditetapkan.

“Masih kami dalami. Sudah kami naikkan statusnya dari penyelidikan menjadi penyidikan. Jadi kami tidak diam. Tapi memang masih berproses,” bebernya saat mendampingi Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Adrian Wimbarda. (one/mie)

Mobile_AP_Rectangle 1

BANGIL, Radar Bromo – Menggantungnya kasus dugaan pencabulan yang menimpa NS, 16, remaja asal Winongan membuat Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pasuruan berang. LPA pun berharap agar pihak kepolisian segera menuntaskan kasus persetubuhan yang menimpa anak tersebut.

Desakan itu disampaikan Daniel Effendi, wakil ketua LPA Kabupaten Pasuruan saat mendatangi Mapolres Pasuruan, Selasa (16/2). Daniel menyampaikan, kedatangannya ke Mapolres Pasuruan untuk mempertanyakan kejelasan kasus yang menimpa NS. Sebab, sejak kasus itu dilaporkan 8 Januari 2021 lalu, hingga saat ini belum ada kejelasan.

“Kami ingin mengetahui perkembangan kasusnya. Sudah sejauh mana pihak kepolisian menindaklanjuti laporan yang dilakukan pihak keluarga korban,” ungkap Daniel mewakili pihak keluarga korban.

Mobile_AP_Half Page

Daniel menguraikan, kasus ini bermula saat korban meminta bantuan kepada terlapor RM untuk membiayai kebutuhan selama di pondok. Kebetulan, korban memang merupakan santriwati di salah satu pondok pesantren di wilayah Pasuruan.

RM pun menyanggupinya. Bahkan, juga menyanggupi untuk membayar indekos korban. Tapi, terlapor meminta persyaratan. Agar korban mau menikah siri dengannya. Alasannya, untuk menghindari zina.

Dari situlah, korban harus melayani terlapor sejak Agustus 2020 hingga September 2020 lalu. “Tapi, semua itu tanpa sepengetahuan keluarga korban,” bebernya.

Pihak keluarga yang mengetahui hal itu, akhirnya tak terima. Pihak keluarga kemudian memilih untuk mengadukan terduga ke pihak kepolisian. Aduan itu dilayangkan atas dugaan persetubuhan dan pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Karena tidak terima itulah, pihak keluarga kemudian mengadukan ke PPA Satreskrim Polres Pasuruan, Januari 2021. Namun hingga saat ini, masih belum jelas perkembangannya. “Anak ini kan masih di bawah umur. Itu yang menjadi persoalan. Kami datang ke sini untuk mengetahui kelanjutan kasusnya,” sambung dia.

Pengacara terlapor RM, Yudi Mustofa menyampaikan, laporan yang dilayangkan tersebut adalah sebuah fitnah terhadap kliennya. Tidak ada pernikahan siri ataupun pencabulan apalagi persetubuhan yang dilakukan oleh kliennya.

Justru, pihaknya menganggap kalau kliennya itu berniat untuk membantu korban. Namun, pertolongan yang diberikan malah berakhir dengan sebuah pelaporan. “Justru klien kami ini adalah korban. Klien kami sebenarnya mencarikan tempat dan biaya untuk mondok, tapi malah dilaporkan. Kita lihat pembuktiannya nanti,” tandasnya.

Kanit PPA Satreskrim Polres Pasuruan Aiptu Nidhom menguraikan, masih mendalami kasus tersebut. Saat ini sudah tahap penyidikan. Meski belum ada tersangka yang ditetapkan.

“Masih kami dalami. Sudah kami naikkan statusnya dari penyelidikan menjadi penyidikan. Jadi kami tidak diam. Tapi memang masih berproses,” bebernya saat mendampingi Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Adrian Wimbarda. (one/mie)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2