alexametrics
24.9 C
Probolinggo
Tuesday, 17 May 2022

Pamitan ke Istri Kerja Kuli, Ternyata Jambret Perhiasan Anak

PANGGUNGREJO, Radar Bromo-Baikuni jambret spesialis perhiasan anak yang dibekuk Polres Pasuruan Kota, bukanlah residivis. Lelaki 25 tahun itu mengaku terpaksa menjambret karena tidak punya pekerjaan. Hasil menjambret itu pula yang dia berikan kepada istrinya untuk berbelanja sehari-hari. Juga, buat membelikan bubur dan susu anaknya yang masih kecil.

”Awalnya saya bantu kakak karyawan PLN. Kemudian berhenti dan tidak punya pekerjaan. Sekarang ya njambret,” kata Baikhuni kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Baikhuni berdalih dirinya terpaksa. Dan, baru dua bulan ini terjun ke dunia gelap. Bola ireng kata orang Jawa. Bapak satu anak itu mengaku benar-benar menyesal. Dia juga tidak menyangka polisi bisa tahu dirinyalah yang suka menjambret kalung anak-anak. Ditangkap pas bulan puasa Ramadan lagi. Baikhuni membayangkan dirinya akan berlebaran di penjara. ”Nggak ngira saya,” ujarnya.

Di tahanan polisi, kata Baikhuni, dirinya merenung. Setiap hari selalu membohongi istrinya. Dia pamit bekerja menjadi kuli bangunan. Cari nafkah halal. Tapi, kenyataannya, semua itu hanya untuk menenangkan hati sang istri. Baikhuni sebenarnya berangkat njambret. ”Istri saya nggak tahu. Tidak curiga,” ungkapnya.

Dia berangkat pukul 07.00-an. Pulang sekitar pukul 16.00. Jadi, dia benar-benar seperti punya pekerjaan normal, bukan penjahat. Tujuannya memang agar istrinya tidak curiga.

Begitu pun saat mendapatkan hasil. Baikhuni menjual perhiasan curian ke pedagang emas di pinggir jalan di Kota Pasuruan. Berapa pun hasilnya dia berikan kepada istri yang disayanginya. Untuk anaknya yang masih butuh gizi dan perhatian.

Pernah dia menjambret kalung dan menjualnya. Kalung itu laku Rp 700 ribu. Begitu sore pulang. Uang tersebut langsung diberikan kepada istrinya untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

”Aslinya nggak tega memberi makan keluarga dari uang pencurian ini. Tapi, bagaimana lagi, saya tidak kerja. Ini terpaksa,” tutur Baikhuni. (sid/far)

PANGGUNGREJO, Radar Bromo-Baikuni jambret spesialis perhiasan anak yang dibekuk Polres Pasuruan Kota, bukanlah residivis. Lelaki 25 tahun itu mengaku terpaksa menjambret karena tidak punya pekerjaan. Hasil menjambret itu pula yang dia berikan kepada istrinya untuk berbelanja sehari-hari. Juga, buat membelikan bubur dan susu anaknya yang masih kecil.

”Awalnya saya bantu kakak karyawan PLN. Kemudian berhenti dan tidak punya pekerjaan. Sekarang ya njambret,” kata Baikhuni kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Baikhuni berdalih dirinya terpaksa. Dan, baru dua bulan ini terjun ke dunia gelap. Bola ireng kata orang Jawa. Bapak satu anak itu mengaku benar-benar menyesal. Dia juga tidak menyangka polisi bisa tahu dirinyalah yang suka menjambret kalung anak-anak. Ditangkap pas bulan puasa Ramadan lagi. Baikhuni membayangkan dirinya akan berlebaran di penjara. ”Nggak ngira saya,” ujarnya.

Di tahanan polisi, kata Baikhuni, dirinya merenung. Setiap hari selalu membohongi istrinya. Dia pamit bekerja menjadi kuli bangunan. Cari nafkah halal. Tapi, kenyataannya, semua itu hanya untuk menenangkan hati sang istri. Baikhuni sebenarnya berangkat njambret. ”Istri saya nggak tahu. Tidak curiga,” ungkapnya.

Dia berangkat pukul 07.00-an. Pulang sekitar pukul 16.00. Jadi, dia benar-benar seperti punya pekerjaan normal, bukan penjahat. Tujuannya memang agar istrinya tidak curiga.

Begitu pun saat mendapatkan hasil. Baikhuni menjual perhiasan curian ke pedagang emas di pinggir jalan di Kota Pasuruan. Berapa pun hasilnya dia berikan kepada istri yang disayanginya. Untuk anaknya yang masih butuh gizi dan perhatian.

Pernah dia menjambret kalung dan menjualnya. Kalung itu laku Rp 700 ribu. Begitu sore pulang. Uang tersebut langsung diberikan kepada istrinya untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

”Aslinya nggak tega memberi makan keluarga dari uang pencurian ini. Tapi, bagaimana lagi, saya tidak kerja. Ini terpaksa,” tutur Baikhuni. (sid/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/