Dipolisikan Kasus Cek Bodong, Kades Dringu Lapor Balik

MAYANGAN, Radar Bromo– Kepala Desa/Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Bukhari Subhan benar-benar tak terima dituding memberikan cek bodong dan dipolisikan. Kemarin, dia mendatangi Mapolres Probolinggo Kota melaporkan balik Prasetio Adi Cahyono.

Bukhari datang ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapolresta bersama Selly Arisandi. Dia merupakan salah seorang ahli waris dari pemilih lahan yang dibeli oleh Bukhari.

Bukhari mengatakan, mempolisikan Prasetio karena perbuatan tidak menyenangkan dan pencorengan nama baiknya. Apalagi, urusan bisnisnya tidak ada hubungannya dengan jabatan yang kini diembannya. Karenanya, pihaknya juga akan menggugat Prasetio sebesar Rp 1 miliar.

“Apa urusannya dengan jabatan saya selaku kepala desa. Saya pengembang perumahan. Jabatan saya tidak ada urusannya dengan persoalan ini. Intinya, marwah kepemimpinan saya sebagai kepala desa tercoreng atau terganggu. Saya punya komitmen dan saat ini ternodai. Makanya saya laporkan balik,” ujarnya.

Selain namanya tercemarkan, menurut Bukhari, tiga user perumahannya memutuskan keluar dari kerja sama. Sehingga, pihaknya juga rugi materi. “Akibat laporan yang dibuatnya, tiga user saya mundur. Artinya, saya juga mengalami kerugian materi dan inmateri,” ujarnya.

Baca Juga: Kades Dringu Dilaporkan ke Polresta Terkait Cek Bodong

Mengenai cek yang tidak bisa dicairkan, menurut Bukhari, uangnya masih ada. Hanya saja, saat pencairan pihak bank mengonfirmasi dirinya. Sebab, yang mencairkan bukan Selly Arisandi, sesuai nama yang tercantum dalam cek. Karenanya, pihaknya tidak mengizinkan pencairan.

“Ceknya itu atas nama Selly. Saat ada yang mau mencairkan, pihak bank menghubungi saya. Saya bilang jika bukan Bu Selly, jangan dicairkan. Dan itu bisa dikroscek ke bank,” ujarnya.

Selly yang juga hadir menerangkan, dirinya hanya ikut atau menjadi saksi dan tidak ikut terlibat dalam laporan yang dilakukan Bukhari. Menurutnya, ahli waris tanah dan bangunan berukuran sekitar 336 meter persegi itu milik tiga orang, salah satunya dirinya dan budenya.

LAPORAN: Kepala Desa/Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo Bukhari Subhan (pakai peci) melaporkan Prasetio Adi Cahyono ke Mapolresta, (13/2). (Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

“Bude saya ini ibunya Prasetio dan saat ini masih hidup. Saya tidak tahu perkara ini. Yang jelas, saat pembayaran pertama Rp 150 juta, uangnya sudah saya bagi dan serahkan. Jadi, tinggal sisanya Rp 270 dari total pembelian Rp 420 juta,” ujarnya.

Sebelumnya, Prasetio melaporkan Bukari karena cek yang diterimanya tak bisa dicairkan. Cek senilai Rp 100 juta itu, berusaha dicairkan Prasetio pada 30 September 2019. Namun, karena tak bisa, Prasetio berusaha menghubungi Bukhari. Namun, tak pernah berhasil.

Prasetio juga mengaku berusaha mencari Bukhari ke kantor dan rumahnya, termasuk menghubungi melalui telepon. Semunya gagal hingga akhirnya ia mempolisikan Bukhari. Kemarin, warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu dilaporkan balik.

Kanit IV Satreskrim Polres Probolinggo Kota Iptu Joko M mengatakan, karena baru masuk, pihaknya masih akan mendalami laporan yang dibuat Bukhari. “Yang jelas semua laporan yang masuk kami terima. Sebab, tugas kami melayani masyarakat,” ujarnya.

Terkait dengan laporan yang dilakukan Prasetio, Joko mengatakan, laporanya juga diterima. Namun, pihaknya belum menerbitkan laporan polisi. Sebab, masih ada berkas yang harus dipenuhi.

“Setelah diterangkan oleh pihak SPKT, ada berkas yang kurang. Sehingga, pihak Prasetio pulang dan akan kembali dengan melengkapi berkasnya. Namun, hingga saat ini (kemarin) yang bersangkutan belum kembali,” ujarnya. (rpd/rud)