alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Helmi Resmi Jadi Terdakwa, Penangguhan Penahanan Ditolak

PASURUAN, Radar Bromo – Kasus yang menyandung Helmi, anggota DPRD Kota Pasuruan, kini memasuki babak baru. Setelah ditahan Rabu (5/1) lalu, perkaranya kini sudah masuk ke pengadilan. Rabu (12/1), Helmi bahkan resmi menjadi terdakwa atas kasus penipuan.

Dalam sidang pertamanya, anggota dewan dari Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut didakwa dengan dua dakwaan alternatif. Helmi kini terancam hukuman maksimal empat tahun pidana penjara.

Dalam sidang yang digelar secara virtual daring tersebut, surat dakwaan dibacakan oleh Suci, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kota Pasuruan. Suci membeberkan jika Helmi beberapa kali memberikan bilyet giro (BG) kepada Khamisa sebagai jaminan pembayaran atas utangnya. Tercatat, Helmi menyerahkan jaminan pembayaran tersebut secara bertahap hingga enam kali.

Pertama pada 2 April 2015, di mana Helmi menyerahkan bilyet giro BRI senilai Rp 150 juta. Kemudian pada 9 April 2015 senilai Rp 50 juta; lalu masing-masing Rp 200 juta pada 13 April 2015 dan 4 Mei 2015; senilai Rp 100 juta pada 12 Juni 2015. Dan terakhir senilai Rp 200 juta pada 15 September 2015.

Suci menambahkan, Helmi juga berpesan kepada korbannya yakni Khamisa, ketika menyerahkan cek dan bilyet giro tersebut. Dia meminta agar Khamisa mengajaknya ketika hendak mencairkan cek dan bilyet giro yang diberikan. Sebab Helmi merasa malu apabila Khamisa mendatangi kantor bank sendiri untuk menguangkan cek dan bilyet giro darinya.

JPU juga menyinggung jika Helmi tak pernah menunjukkan dirinya tengah mengerjakan proyek yang dijanjikan kepada korban. Sehingga korban tidak mengetahui proyek apa yang sedang dikerjakan Helmi. Di samping itu, Helmi juga disebut tidak pernah memberikan komisi atau fee sebesar 5 persen dari nilai peminjaman. Padahal itu sudah menjadi kesepakatan sejak awal Helmi meminjam uang kepada Khamisa.

PASURUAN, Radar Bromo – Kasus yang menyandung Helmi, anggota DPRD Kota Pasuruan, kini memasuki babak baru. Setelah ditahan Rabu (5/1) lalu, perkaranya kini sudah masuk ke pengadilan. Rabu (12/1), Helmi bahkan resmi menjadi terdakwa atas kasus penipuan.

Dalam sidang pertamanya, anggota dewan dari Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut didakwa dengan dua dakwaan alternatif. Helmi kini terancam hukuman maksimal empat tahun pidana penjara.

Dalam sidang yang digelar secara virtual daring tersebut, surat dakwaan dibacakan oleh Suci, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kota Pasuruan. Suci membeberkan jika Helmi beberapa kali memberikan bilyet giro (BG) kepada Khamisa sebagai jaminan pembayaran atas utangnya. Tercatat, Helmi menyerahkan jaminan pembayaran tersebut secara bertahap hingga enam kali.

Pertama pada 2 April 2015, di mana Helmi menyerahkan bilyet giro BRI senilai Rp 150 juta. Kemudian pada 9 April 2015 senilai Rp 50 juta; lalu masing-masing Rp 200 juta pada 13 April 2015 dan 4 Mei 2015; senilai Rp 100 juta pada 12 Juni 2015. Dan terakhir senilai Rp 200 juta pada 15 September 2015.

Suci menambahkan, Helmi juga berpesan kepada korbannya yakni Khamisa, ketika menyerahkan cek dan bilyet giro tersebut. Dia meminta agar Khamisa mengajaknya ketika hendak mencairkan cek dan bilyet giro yang diberikan. Sebab Helmi merasa malu apabila Khamisa mendatangi kantor bank sendiri untuk menguangkan cek dan bilyet giro darinya.

JPU juga menyinggung jika Helmi tak pernah menunjukkan dirinya tengah mengerjakan proyek yang dijanjikan kepada korban. Sehingga korban tidak mengetahui proyek apa yang sedang dikerjakan Helmi. Di samping itu, Helmi juga disebut tidak pernah memberikan komisi atau fee sebesar 5 persen dari nilai peminjaman. Padahal itu sudah menjadi kesepakatan sejak awal Helmi meminjam uang kepada Khamisa.

MOST READ

BERITA TERBARU

/