Pasutri asal Jati Jual Kavling Abal-abal, Dibekuk setelah 3 Tahun Buron

DITAHAN: Pasutri Bahrul dan Sumarti, digelandang anggota Polsek Kademangan, Polres Probolinggo Kota. Mereka dibekuk karena kasus penjualan tanah kavling. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KADEMANGAN, Radar Bromo – Pasangan suami istri (pasutri) Bahrul, 54 dan Sumarti, 50, warga Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, akhirnya dibekuk polisi. Kedua tersangka kasus penjualan tanah kavling itu dibekuk setelah sempat buron selama tiga tahun.

Kapolsek Kademangan AKP Sumardjo mengatakan, kasus ini merupakan kasus lama, yakni pada 2017. Hanya saja, pasutri tersebut kabur ke luar daerah selama tiga tahun. Mereka baru ditangkap pada 28 Januari 2020. “Kami mendapatkan informasi keduanya pulang ke rumahnya. Kami lakukan penangkapan di rumahnya,” ujarnya.

Sumardjo mengatakan, ada empat korban yang melapor ke Polsek Kademangan atas penjualan tanah kavling abal-abal ini. Keempat korban sudah memberikan uang muka dengan nominal berbeda. Ada yang Rp 30 juta hingga Rp 73 juta. “Total kerugian dari keempat korban yang telah menyerahkan uang muka Rp 222,5 juta,” ujarnya.

KASUS LAMA: Pasutri ini dibekuk karena kasusnya yang terjadi tahun 2017 silam. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Namun, ketika keempat korban hendak mengurus tanahnya agar terbit akta jual beli, diketahuilah tanah seluas sekitar 1 hektare itu bukan milik tersangka. Melaikan milik orang lain yang dikavling oleh tersangka dengan ukuran 9 meter kali 10 meter.

Para korban berusaha menghubungi tersangka. Karena tak kunjung bisa dihubungi, mereka merasa tertipu. Keempat korban pun melaporkan kasus ini ke Polsek Kademangan.

Karena perbuatannya ini, polisi menetapkan Bahrul dan istrinya, Sumarti sebagai tersangka. Mereka disangka melanggar pasal 372 dan 378 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan. Ancaman hukumannya maksimal 4 tahun penjara.

Kepada awak media, Bahrul mengaku tanah yang dikavlingnya di Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, itu hasil membeli kepada rekannya. Namun, pihaknya belum melunasinya dan hanya menyerahkan uang muka.

Sedangkan, uang muka dari para korban yang terkumpul Rp 222,5 juta, sebagian digunakan untuk membangun jembatan menuju lokasi tanah kavlingnya. Alasannya, lokasinya masih pesawahan yang membutuhkan akses transportasi. Selebihnya, digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Karena dipolisikan, Bahrul mengaku bersama istrinya kabur ke Bali. Di pulau dewata itu, ia kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya lari ke Bali. Di sana selama tiga tahun saya kerja serabutan,” ujarnya. (rpd/rud/fun)