alexametrics
28.6 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Dipolisikan Terkait Penipuan Investasi, Ini Kata Magnifera Indica

MAYANGAN, Radar Bromo – Dilaporkan ke polisi oleh 2 karyawan leasing, terlapor Magnifera Indica membantah telah melakukan penipuan. Bahkan, dia menegaskan, tidak pernah menjanjikan investasi di Mayang Collection pada Suwanti Qoriah dan Nurcholilah Fitri Riskiyah.

“Saya tidak menipu. Usaha yang saya jalankan bermasalah sejak Februari 2020,” tuturnya.

Fera –panggilannya- menjelaskan, dirinya memiliki usaha di Tuban bersama rekannya, Deddy Priyantoko, warga Desa Sugiharjo, Kabupaten Tuban. Namun, pada Februari, Deddy menutup usaha mereka. Uang miliknya pun tersangkut di rekannya itu sebesar Rp 43.380.000.

Fera pun menegaskan, dirinya tidak pernah menjanjikan investasi di Mayang Collection. Bahkan, Fera menantang dua pelapor untuk menunjukkan surat kerja sama investasi.

“Kalau memang betul pernyataan mereka bahwa saya menjanjikan investasi di Mayang Collection, tunjukkan surat kerja sama investasinya. Seharusnya kan ada seperti itu,” tambahnya.

Fera menduga, ada kesalahpahaman dari Wanti (panggilan Suwanti) dan Lila (panggilan Nurcholila Fitri Riskiyah) terkait penyebutan Mayang Collection. Menurutnya, dirinya menawarkan investasi baju mirip dengan busana di Mayang Collection.

“Yang saya sampaikan adalah investasi untuk PO baju yang mirip dengan koleksi busana dari Mayang Collection. Jadi, cuma mirip dengan baju di Mayang Collection. Bukan investasi di Mayang Collection,” ujarnya.

Fera menjelaskan, usaha investasinya bermasalah sejak Februari 2020. Saat itu rekannya, Deddy Priyantoko menutup toko dan usahanya. Yaitu, usaha jual sayur mayur dan toko busana.

“Usahanya ditutup dan uang saya sebesar Rp 43.380.000 masih nyantol di sana. Kalau uang itu dibayarkan, saya pasti akan bayar untuk Mbak Suwanti dan Nurcholila. Ini saya sampai mau jual rumah juga. Kalau terjual saya pasti bayar,” ujarnya.

Fera pun menunjukkan buku kas miliknya yang mencatat pengeluaran dan pemasukan investasinya. Dalam buku kas itu, ada data bahwa Fera telah membayarkan uang Rp 5 juta kepada Nurcholila dan Rp 3,5 juta untuk Suwanti di bulan April 2020.

“Jujur saat ini memang tidak ada uang sama sekali. Saya pernah menawarkan untuk membayar dengan cara mencicil Rp 100 ribu ke Suwanti, tapi ditolak. Dia minta dicicil Rp 500 ribu, padahal ini bentuk komitmen saya unutk membayar. Yang ada malah dimaki-maki, akhirnya saya stres juga,” ujarnya berterus terang.

Saat dikonfirmasi tentang Bilyet Giro yang kosong, Fera tidak memberikan penjelasan lengkap. Hanya dia menjawab harusnya BG itu tidak dilaporkan.

“Kenapa saya dilaporkan soal Bilyet Giro itu. Bilyet Giro itu kan atas nama saya. Punya saya kok bisa dilaporkan. Kecuali saya pakai Bilyet Giro orang lain, ya saya salah,” ujarnya. (put/hn)

MAYANGAN, Radar Bromo – Dilaporkan ke polisi oleh 2 karyawan leasing, terlapor Magnifera Indica membantah telah melakukan penipuan. Bahkan, dia menegaskan, tidak pernah menjanjikan investasi di Mayang Collection pada Suwanti Qoriah dan Nurcholilah Fitri Riskiyah.

“Saya tidak menipu. Usaha yang saya jalankan bermasalah sejak Februari 2020,” tuturnya.

Fera –panggilannya- menjelaskan, dirinya memiliki usaha di Tuban bersama rekannya, Deddy Priyantoko, warga Desa Sugiharjo, Kabupaten Tuban. Namun, pada Februari, Deddy menutup usaha mereka. Uang miliknya pun tersangkut di rekannya itu sebesar Rp 43.380.000.

Fera pun menegaskan, dirinya tidak pernah menjanjikan investasi di Mayang Collection. Bahkan, Fera menantang dua pelapor untuk menunjukkan surat kerja sama investasi.

“Kalau memang betul pernyataan mereka bahwa saya menjanjikan investasi di Mayang Collection, tunjukkan surat kerja sama investasinya. Seharusnya kan ada seperti itu,” tambahnya.

Fera menduga, ada kesalahpahaman dari Wanti (panggilan Suwanti) dan Lila (panggilan Nurcholila Fitri Riskiyah) terkait penyebutan Mayang Collection. Menurutnya, dirinya menawarkan investasi baju mirip dengan busana di Mayang Collection.

“Yang saya sampaikan adalah investasi untuk PO baju yang mirip dengan koleksi busana dari Mayang Collection. Jadi, cuma mirip dengan baju di Mayang Collection. Bukan investasi di Mayang Collection,” ujarnya.

Fera menjelaskan, usaha investasinya bermasalah sejak Februari 2020. Saat itu rekannya, Deddy Priyantoko menutup toko dan usahanya. Yaitu, usaha jual sayur mayur dan toko busana.

“Usahanya ditutup dan uang saya sebesar Rp 43.380.000 masih nyantol di sana. Kalau uang itu dibayarkan, saya pasti akan bayar untuk Mbak Suwanti dan Nurcholila. Ini saya sampai mau jual rumah juga. Kalau terjual saya pasti bayar,” ujarnya.

Fera pun menunjukkan buku kas miliknya yang mencatat pengeluaran dan pemasukan investasinya. Dalam buku kas itu, ada data bahwa Fera telah membayarkan uang Rp 5 juta kepada Nurcholila dan Rp 3,5 juta untuk Suwanti di bulan April 2020.

“Jujur saat ini memang tidak ada uang sama sekali. Saya pernah menawarkan untuk membayar dengan cara mencicil Rp 100 ribu ke Suwanti, tapi ditolak. Dia minta dicicil Rp 500 ribu, padahal ini bentuk komitmen saya unutk membayar. Yang ada malah dimaki-maki, akhirnya saya stres juga,” ujarnya berterus terang.

Saat dikonfirmasi tentang Bilyet Giro yang kosong, Fera tidak memberikan penjelasan lengkap. Hanya dia menjawab harusnya BG itu tidak dilaporkan.

“Kenapa saya dilaporkan soal Bilyet Giro itu. Bilyet Giro itu kan atas nama saya. Punya saya kok bisa dilaporkan. Kecuali saya pakai Bilyet Giro orang lain, ya saya salah,” ujarnya. (put/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/