alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Pakai Tanah Kas Desa Warungdowo, Bos Bengkel Dijebloskan ke Penjara

BANGIL, Radar Bromo – Bos bengkel asal Parasrejo, Kecsmatan Pohjentrek, M. Romi, dijebloskan ke penjara. Lelaki yang dikenal sebagai Romi ini ditahan, setelah ditetapkan tersangka atas dugaan penyimpangan penggunaan tanah negara tanpa izin.

Romi ditahan Kejari Kabupaten Pasuruan di Rutan Bangil, Kamis (10/2). Penahanan itu dilakukan, lantaran tersangka dinilai tidak kooperatif. Selain itu, penahanan juga dilakukan agar tersangka tidak menghilangkan barang bukti yang ada.

Kajari Kabupaten Pasuruan, Ramdhanu Dwiyantoro menguraikan, Romi ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penggunaan tanah negara. Tanah negara yang dimaksudnya, berupa TKD Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek dan PT KAI Daop 9 Jember.

Tanah seluas total 9 ribu meter persegi itu, dipakainya sejak kisaran 2014. Tidak ada izin ataupun prosedur yang benar dalam menggunakan tanah negara. Padahal ada nilai dalam penggunaannya.

Karena dipakai untuk kepentingan bisnis. Yakni usaha bengkel dan yang lainnya. “Semua itu, dipakainya untuk kepentingan pribadinya,” ujar Ramdhanu.

Kasus ini sendiri, sudah ditelusuri Kejari Kabupaten Pasuruan sejak 2021 lalu. Hingga akhirnya masuk penyidikan awal Januari 2022. Romi dinilai melanggar pasal 2 jo pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 jo UU nomor 20 tahun 2021 tentang pemberantasan Korupsi. “Untuk kerugian negaranya, masih kami hitung,” terangnya.

Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan, Denny Saputra mengungkapkan, Romi dipanggil kejaksaan sebagai saksi, sejak pukul 14.00 kemarin. Ia kemudian ditetapkan sebagai tersangka, setelah alat bukti yang dimiliki kejaksaan cukup untuk menjebloskannya ke penjara. Selain saksi-saksi ada bukti dokumen.

Romi sendiri dibawa ke Rutan menggunakan mobil tahanan kejaksaan sekitar pukul 17.00. Denny menegaskan, ada beberapa pertimbangan, penahanan itu dilakukan. Salah satunya, tersangka tidak kooperatif. Ia masih tetap menempati tanah negara untuk usahanya tersebut.

Selain itu, langkah penahanan juga diambil, untuk mencegah tersangka menghilangkan barang bukti yang ada. “Kami menahannya selama 20 hari ke depan. Dan bisa saja diperpanjang untuk memudahkan proses penyidikan,” jelas Denny.

Sekedar mengingatkan, kasus tersebut dilaporkan oleh Kepala Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Muslik. Muslik, dibuat pusing bukan kepalang. Sejumlah program pemanfaatan Tanah Kas Desa (TKD), gagal berantakan.

Penyebabnya, lahan TKD  tersebut “diduduki” seorang pengusaha bengkel, Romi. Meski sempat diminta hendak pindah, namun pengusaha tersebut melawan. Bahkan, ia sempat dilaporkan ke pihak kepolisian, atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan.

Buntutnya, pihak kades pun melaporkan Romi ke kejaksaan. Kasus ini diproses hingga akhirnya Romi dijebloskan ke penjara.

Romi sendiri bakal menempuh jalur praperadilan atas penahanannya itu. Ia memandang ada kriminalisasi hukum dengan apa yang menimpanya. “Kejaksaan memang top. Ini semua kriminalisasi hukum.  Ada sandiwara-sandiwara cinta,” ungkap Romi.

Ia menegaskan, memiliki bukti atas kepemilikan tanah tersebut. Hal itulah yang membuatnya berani untuk menempati lahan yang diklaim miliknya itu. “Saya punya bukti-bukti kepemilikan,” akunya.

Karena itulah, ia bakal menempuh jalur praperadilan. Karena, apa yang dilakukan kejaksaan, dinilainya ada rekayasa. Untuk menjebloskannya ke balik jeruji penjara. (one/fun)

BANGIL, Radar Bromo – Bos bengkel asal Parasrejo, Kecsmatan Pohjentrek, M. Romi, dijebloskan ke penjara. Lelaki yang dikenal sebagai Romi ini ditahan, setelah ditetapkan tersangka atas dugaan penyimpangan penggunaan tanah negara tanpa izin.

Romi ditahan Kejari Kabupaten Pasuruan di Rutan Bangil, Kamis (10/2). Penahanan itu dilakukan, lantaran tersangka dinilai tidak kooperatif. Selain itu, penahanan juga dilakukan agar tersangka tidak menghilangkan barang bukti yang ada.

Kajari Kabupaten Pasuruan, Ramdhanu Dwiyantoro menguraikan, Romi ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penggunaan tanah negara. Tanah negara yang dimaksudnya, berupa TKD Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek dan PT KAI Daop 9 Jember.

Tanah seluas total 9 ribu meter persegi itu, dipakainya sejak kisaran 2014. Tidak ada izin ataupun prosedur yang benar dalam menggunakan tanah negara. Padahal ada nilai dalam penggunaannya.

Karena dipakai untuk kepentingan bisnis. Yakni usaha bengkel dan yang lainnya. “Semua itu, dipakainya untuk kepentingan pribadinya,” ujar Ramdhanu.

Kasus ini sendiri, sudah ditelusuri Kejari Kabupaten Pasuruan sejak 2021 lalu. Hingga akhirnya masuk penyidikan awal Januari 2022. Romi dinilai melanggar pasal 2 jo pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 jo UU nomor 20 tahun 2021 tentang pemberantasan Korupsi. “Untuk kerugian negaranya, masih kami hitung,” terangnya.

Kasi Pidsus Kejari Kabupaten Pasuruan, Denny Saputra mengungkapkan, Romi dipanggil kejaksaan sebagai saksi, sejak pukul 14.00 kemarin. Ia kemudian ditetapkan sebagai tersangka, setelah alat bukti yang dimiliki kejaksaan cukup untuk menjebloskannya ke penjara. Selain saksi-saksi ada bukti dokumen.

Romi sendiri dibawa ke Rutan menggunakan mobil tahanan kejaksaan sekitar pukul 17.00. Denny menegaskan, ada beberapa pertimbangan, penahanan itu dilakukan. Salah satunya, tersangka tidak kooperatif. Ia masih tetap menempati tanah negara untuk usahanya tersebut.

Selain itu, langkah penahanan juga diambil, untuk mencegah tersangka menghilangkan barang bukti yang ada. “Kami menahannya selama 20 hari ke depan. Dan bisa saja diperpanjang untuk memudahkan proses penyidikan,” jelas Denny.

Sekedar mengingatkan, kasus tersebut dilaporkan oleh Kepala Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Muslik. Muslik, dibuat pusing bukan kepalang. Sejumlah program pemanfaatan Tanah Kas Desa (TKD), gagal berantakan.

Penyebabnya, lahan TKD  tersebut “diduduki” seorang pengusaha bengkel, Romi. Meski sempat diminta hendak pindah, namun pengusaha tersebut melawan. Bahkan, ia sempat dilaporkan ke pihak kepolisian, atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan.

Buntutnya, pihak kades pun melaporkan Romi ke kejaksaan. Kasus ini diproses hingga akhirnya Romi dijebloskan ke penjara.

Romi sendiri bakal menempuh jalur praperadilan atas penahanannya itu. Ia memandang ada kriminalisasi hukum dengan apa yang menimpanya. “Kejaksaan memang top. Ini semua kriminalisasi hukum.  Ada sandiwara-sandiwara cinta,” ungkap Romi.

Ia menegaskan, memiliki bukti atas kepemilikan tanah tersebut. Hal itulah yang membuatnya berani untuk menempati lahan yang diklaim miliknya itu. “Saya punya bukti-bukti kepemilikan,” akunya.

Karena itulah, ia bakal menempuh jalur praperadilan. Karena, apa yang dilakukan kejaksaan, dinilainya ada rekayasa. Untuk menjebloskannya ke balik jeruji penjara. (one/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/