alexametrics
33.9 C
Probolinggo
Wednesday, 20 October 2021

PKH Diduga Dipotong, Enam Emak-Emak asal Dringu Lapor Polres

DRINGU, Radar Bromo – Merasa bantuan PKH yang diterima dipotong, enam ibu-ibu yang merupakan keluarga penerima manfaat (KPM) mendatangi Polres Probolinggo. Mereka melaporkan dugaan pemotongan PKH yang mereka terima Kamis (7/10) siang.

Enam perempuan itu berasal dari Desa Randuputih, Kecamatan Dringu. Mereka yaitu Husnawiyah, 32; Sumina, 63; Suliana, 32; Suliati, 46; Misnaya, 48; dan Tumrah Kusumawati, 31.

“Kedatangan kami ini untuk mengadu kepada pihak kepolisian lantaran bantuan PKH saya dipotong,” Kata Tumrah Kusumawati saat ditemui di Mapolres Probolinggo, Kamis (7/10).

Tumrah menyebutkan, pemotongan dana bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut diduga dilakukan SU, oknum ketua kelompok PKH. Pemotongan dilakukan selama dua tahun terakhir, sejak 2020 hingga sekarang.

“Pemotongannya dilakukan sudah dua tahun ini. Dan itu jumlahnya bervariasi,” ujarnya.

Husnawiyah pelapor lain menambahkan, pemotongan itu diduga terjadi saat SU meminta Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) miliknya lantaran ada pencairan.  Dia pun menyerahkan KKS itu pada SU tanpa curiga.

“Lalu saya diberikan uang pencairannya saja. Kartunya dipegang langsung ketua kelompok PKH (SU, Red). Totalnya selama ini uang saya yang telah dipotong mencapai Rp 3,6 juta,” ujarnya.

Sumina juga mengaku mengalami hal yang sama. Menurutnya, bantuan PKH yang menjadi haknya juga dipotong. Sejak awal pencairan, Sumina mengatakan dirinya hanya menerima uang saja.

“Saat mau mencairkan, kartunya diambil oleh ketua kelompok. Mereka lantas memberikan uangnya pada saya dan itu pun bervariai jumlahnya. Kadang Rp 500 ribu. Pernah juga hanya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu tiap bulan,” ujar Sumina.

Terungkapnya dugaan pemotongan bantuan PKH itu berawal saat Sumina mendatangi Bank BNI KCP Probolinggo. Dia mencetak rekening koran miliknya untuk mengetahui bantuan yang diterima. Dirinya kaget, karena uang yang masuk dalam catatan rekening koran berbeda dengan uang bantuan yang dia terima setiap bulannya.

“Jika ditotal sekitar Rp 3,7 juta uang yang hilang di rekening saya. Berarti tiap bulan yang diberikan ke saya tidak sama dengan apa yang masuk ke buku tabungan,” ujarnya.

DRINGU, Radar Bromo – Merasa bantuan PKH yang diterima dipotong, enam ibu-ibu yang merupakan keluarga penerima manfaat (KPM) mendatangi Polres Probolinggo. Mereka melaporkan dugaan pemotongan PKH yang mereka terima Kamis (7/10) siang.

Enam perempuan itu berasal dari Desa Randuputih, Kecamatan Dringu. Mereka yaitu Husnawiyah, 32; Sumina, 63; Suliana, 32; Suliati, 46; Misnaya, 48; dan Tumrah Kusumawati, 31.

“Kedatangan kami ini untuk mengadu kepada pihak kepolisian lantaran bantuan PKH saya dipotong,” Kata Tumrah Kusumawati saat ditemui di Mapolres Probolinggo, Kamis (7/10).

Tumrah menyebutkan, pemotongan dana bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut diduga dilakukan SU, oknum ketua kelompok PKH. Pemotongan dilakukan selama dua tahun terakhir, sejak 2020 hingga sekarang.

“Pemotongannya dilakukan sudah dua tahun ini. Dan itu jumlahnya bervariasi,” ujarnya.

Husnawiyah pelapor lain menambahkan, pemotongan itu diduga terjadi saat SU meminta Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) miliknya lantaran ada pencairan.  Dia pun menyerahkan KKS itu pada SU tanpa curiga.

“Lalu saya diberikan uang pencairannya saja. Kartunya dipegang langsung ketua kelompok PKH (SU, Red). Totalnya selama ini uang saya yang telah dipotong mencapai Rp 3,6 juta,” ujarnya.

Sumina juga mengaku mengalami hal yang sama. Menurutnya, bantuan PKH yang menjadi haknya juga dipotong. Sejak awal pencairan, Sumina mengatakan dirinya hanya menerima uang saja.

“Saat mau mencairkan, kartunya diambil oleh ketua kelompok. Mereka lantas memberikan uangnya pada saya dan itu pun bervariai jumlahnya. Kadang Rp 500 ribu. Pernah juga hanya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu tiap bulan,” ujar Sumina.

Terungkapnya dugaan pemotongan bantuan PKH itu berawal saat Sumina mendatangi Bank BNI KCP Probolinggo. Dia mencetak rekening koran miliknya untuk mengetahui bantuan yang diterima. Dirinya kaget, karena uang yang masuk dalam catatan rekening koran berbeda dengan uang bantuan yang dia terima setiap bulannya.

“Jika ditotal sekitar Rp 3,7 juta uang yang hilang di rekening saya. Berarti tiap bulan yang diberikan ke saya tidak sama dengan apa yang masuk ke buku tabungan,” ujarnya.

MOST READ

BERITA TERBARU