Bekuk Dua Residivis Pengedar Sabu, Satu Asal Tegalsiwalan, Satu Asal Leces

MAYANGAN, Radar Bromo – Dua residivis asal Kabupaten Probolinggo kembali harus berurusan dengan polisi. Mereka diamankan Satreskoba Probolinggo Kota karena kendapatan mengedarkan narkotika jenis sabu-sabu.

Dua residivis itu adalah Supriyanto, 27, warga Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan dan Rohim, 26, warga Desa Jorongan, Kecamatan Leces. Keduanya sempat membantah tuduhan kepolisian sebagai pengedar. Namun, akhirnya tidak bisa mengelak setelah polisi menemukan barang bukti sabu-sabu seberat 1,27 gram.

Kasat Reskoba Polres Probolinggo Kota AKP Suharsono mengaku, mendapatkan informasi dari warga tentang aktivitas dua residivis yang mengedarkan sabu-sabu. Setelah mendapatkan kepastian dan melakukan penyelidikan, pihaknya berhasil mengamankan keduanya di tempat terpisah. “Penangkapan pertama pada Supriyanto. Dia residivis kasus curanmor (pencurian kendaraan bermotor),” ujar Suharsono.

Supriyanto diamankan saat mengendarai sepeda motor di Jalan Ir. Sutami, Kelurahan Wonoasih, pada Selasa (2/7). Setelah digeledah, polisi menemukan sabu-sabu yang disimpan dalam plastik klip dan ditaruh di dalam bungkus rokok.

Kepada penyidik, Supriyanto mengatakan, barang haram itu milik Rohim. Karenanya, polisi memburunya. Ia pun berhasil diamankan di di rumahnya di Dusun Campuran, Desa Jorongan, pada hari yang sama pukul 22.30. “Awalnya dia tidak mengaku jika mengedarkan sabu-sabu, tapi petugas melakukan penggeledahan dan menemukan 4 klip berisi sabu-sabu. Dengan ditemukan barang bukti itu, dia tidak bisa mengelak,” jelasnya.

Rohim merupakan seorang residivis yang sempat dipenjara di Lapas Kelas IIB Kota Probolinggo dalam kasus yang sama. Dia baru bebas sekitar dua bulan lalu dan diketahui kembali mengedarkan sabu-sabu.

Suharsono mengaku, masih terus mendalami kasus ini. Termasuk mengenai jaringan pengedar yang memasok barang haram itu kepada Rohim. “Keduanya dijerat dengan pasal 114 ayat (1) Undang-Undang tentang Narkotika. Dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara. Serta, denda paling sedikit Rp 1 miliar dan paling banyak Rp 10 miliar,” ujarnya.

Tak hanya itu, mereka juga bisa dikenakan pasal pasal 112 ayat (1) Undang-Undang yang sama. Ancaman hukumannya minimal 4 tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara. “Denda paling sedikit Rp 800 juta dan paling banyak Rp 8 miliar,” kata Suharsono. (put/rud/fun)