alexametrics
25 C
Probolinggo
Sunday, 3 July 2022

Dewan: Korban Pencabulan Harus Didampingi

BANGIL, Radar Bromo– Pelecehan seksual bisa berdampak negatif terhadap mental anak-anak yang menjadi korban. Karena itu, perlu pendampingan dari instansi terkait agar mereka tidak trauma berkepanjangan.

Contohnya, kasus yang menimpa R, pelajar kelas VI SD asal Bangil. Menurut Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan Abu Bakar, trauma bisa dialami anak setelah menjadi korban pelecehan. Trauma itu tidak hilang dengan mudah.

Butuh waktu lama dan proses panjang. Juga dukungan dari berbagai pihak. ”Untuk itulah, perlu pendampingan dari instansi terkait agar mental anak bisa pulih. Tidak trauma berkepanjangan,” beber Bang Ayub –sapaan Abu Bakar.

Dia mengaku prihatin dengan kasus-kasus kekerasan anak di Kabupaten Pasuruan. Termasuk, kekerasan yang menimpa kaum perempuan. Kasus pelecehan yang dialami R bukan kali pertama terjadi. Hingga Juni 2021 ini, setidaknya sudah ada temuan 20 kasus kekerasan anak dan perempuan.

Berbagai faktor menjadi penyebab. Salah satunya, perkembangan teknologi informasi. ”Penggunaan smartphone juga bisa menjadi salah satu pemicunya,” ujarnya.

Bang Ayub berharap ada perhatian lebih dari pihak-pihak terkait. Termasuk, kepolisian. Para pelaku pelecehan dan kekerasan seksual harus dihukum setimpal. Mengapa? Supaya kasus-kasus serupa tidak terulang.

Kepala Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KBPP) Kabupaten Pasuruan Loembini Pedjati Lajoeng mengakui masih tingginya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan pada 2021 ini. Salah satu penyebabnya adalah interaksi anak-anak dengan smartphone.

Dengan dukungan internet, mereka leluasa menjelajah dunia maya. Apa pun bisa diakses jika tanpa pengawasan. Pikiran mereka terpengaruh. Hingga Juni 2021 atau pertengahan tahun saja, terdapat 20 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Padahal, selama 2020, ada 22 kasus dalam setahun.

Kanit PPA Satreskrim Polres Pasuruan Aiptu Nidhom mengungkapkan, anak-anak korban kekerasan memang mendapatkan pendampingan dari pekerja sosial. Contohnya R. Pendampingan bertujuan mengembalikan kondisi psikisnya. Supaya tidak trauma berkepanjangan. (one/far)

 

BANGIL, Radar Bromo– Pelecehan seksual bisa berdampak negatif terhadap mental anak-anak yang menjadi korban. Karena itu, perlu pendampingan dari instansi terkait agar mereka tidak trauma berkepanjangan.

Contohnya, kasus yang menimpa R, pelajar kelas VI SD asal Bangil. Menurut Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan Abu Bakar, trauma bisa dialami anak setelah menjadi korban pelecehan. Trauma itu tidak hilang dengan mudah.

Butuh waktu lama dan proses panjang. Juga dukungan dari berbagai pihak. ”Untuk itulah, perlu pendampingan dari instansi terkait agar mental anak bisa pulih. Tidak trauma berkepanjangan,” beber Bang Ayub –sapaan Abu Bakar.

Dia mengaku prihatin dengan kasus-kasus kekerasan anak di Kabupaten Pasuruan. Termasuk, kekerasan yang menimpa kaum perempuan. Kasus pelecehan yang dialami R bukan kali pertama terjadi. Hingga Juni 2021 ini, setidaknya sudah ada temuan 20 kasus kekerasan anak dan perempuan.

Berbagai faktor menjadi penyebab. Salah satunya, perkembangan teknologi informasi. ”Penggunaan smartphone juga bisa menjadi salah satu pemicunya,” ujarnya.

Bang Ayub berharap ada perhatian lebih dari pihak-pihak terkait. Termasuk, kepolisian. Para pelaku pelecehan dan kekerasan seksual harus dihukum setimpal. Mengapa? Supaya kasus-kasus serupa tidak terulang.

Kepala Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (KBPP) Kabupaten Pasuruan Loembini Pedjati Lajoeng mengakui masih tingginya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan pada 2021 ini. Salah satu penyebabnya adalah interaksi anak-anak dengan smartphone.

Dengan dukungan internet, mereka leluasa menjelajah dunia maya. Apa pun bisa diakses jika tanpa pengawasan. Pikiran mereka terpengaruh. Hingga Juni 2021 atau pertengahan tahun saja, terdapat 20 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Padahal, selama 2020, ada 22 kasus dalam setahun.

Kanit PPA Satreskrim Polres Pasuruan Aiptu Nidhom mengungkapkan, anak-anak korban kekerasan memang mendapatkan pendampingan dari pekerja sosial. Contohnya R. Pendampingan bertujuan mengembalikan kondisi psikisnya. Supaya tidak trauma berkepanjangan. (one/far)

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/