alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Sstttt… Ada Notaris Gugat Praperadilan Polres Pasuruan

BANGIL, Radar Bromo – Wahayu Krisma Suyanto menggugat praperadilan Polres Pasuruan. Perempuan 57 tahun yang berprofesi sebagai notaris itu ditetapkan sebagai tersangka kasus penggelapan meski tak merasa menerima uang. Polisi menilai itu hak tersangka.

”Saya trauma dan benar-benar tidak habis pikir,” katanya Rabu (5/1).

Kasus itu bermula dari transaksi jual beli tanah di Sidowayah, Kecamatan Beji. Jual-beli itu dilakukan antara Suciati dan Gatot Surachman. Posisi Wahayu sebagai notaris. Pada 16 Mei 2017, dia mengeluarkan dua lembar kuitansi. Masing-masing Rp 2,9 juta dan Rp 20 juta untuk membayar biaya proses hak tanggungan atas nama Suciati. Selain itu, untuk biaya roya, pengikat jual beli, hingga split sertifikat atas nama Gatot Surachman.

Dua kuitansi itu diserahkannya ke salah satu bank di Bangil. Sebab, pemilik tanah, Suciati, disebut-sebut masih memiliki pinjaman di bank itu. Wahayu sendiri mengaku tidak menerima uang tersebut.

Nah, karena suatu hal, Gatot membatalkan rencana pembelian tanah milik Suciati itu. Dari situ muncul persoalan. Wahayu dilaporkan oleh Harsono, selaku anak Suciati, telah menggelapkan uang Rp 22 juta tersebut. Padahal, sama sekali dia tidak menerimanya. Wahayu ditetapkan sebagai tersangka pada akhir 2020. Dia kemudian memutuskan mengajukan gugatan praperdailan. Sidang berlangsung sejak Kamis, 30 Desember 2021. Rabu (5/1), agendanya berupa pembuktian.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Adhi Putranto menyatakan, setiap orang berhak menyampaikan pendapat dan memperoleh keadilan. Namun, dia menegaskan, penetapan tersangka itu sudah sesuai ketentuan. ”Kami memiliki alat-alat bukti,” tegasnya. (one/far)

BANGIL, Radar Bromo – Wahayu Krisma Suyanto menggugat praperadilan Polres Pasuruan. Perempuan 57 tahun yang berprofesi sebagai notaris itu ditetapkan sebagai tersangka kasus penggelapan meski tak merasa menerima uang. Polisi menilai itu hak tersangka.

”Saya trauma dan benar-benar tidak habis pikir,” katanya Rabu (5/1).

Kasus itu bermula dari transaksi jual beli tanah di Sidowayah, Kecamatan Beji. Jual-beli itu dilakukan antara Suciati dan Gatot Surachman. Posisi Wahayu sebagai notaris. Pada 16 Mei 2017, dia mengeluarkan dua lembar kuitansi. Masing-masing Rp 2,9 juta dan Rp 20 juta untuk membayar biaya proses hak tanggungan atas nama Suciati. Selain itu, untuk biaya roya, pengikat jual beli, hingga split sertifikat atas nama Gatot Surachman.

Dua kuitansi itu diserahkannya ke salah satu bank di Bangil. Sebab, pemilik tanah, Suciati, disebut-sebut masih memiliki pinjaman di bank itu. Wahayu sendiri mengaku tidak menerima uang tersebut.

Nah, karena suatu hal, Gatot membatalkan rencana pembelian tanah milik Suciati itu. Dari situ muncul persoalan. Wahayu dilaporkan oleh Harsono, selaku anak Suciati, telah menggelapkan uang Rp 22 juta tersebut. Padahal, sama sekali dia tidak menerimanya. Wahayu ditetapkan sebagai tersangka pada akhir 2020. Dia kemudian memutuskan mengajukan gugatan praperdailan. Sidang berlangsung sejak Kamis, 30 Desember 2021. Rabu (5/1), agendanya berupa pembuktian.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Adhi Putranto menyatakan, setiap orang berhak menyampaikan pendapat dan memperoleh keadilan. Namun, dia menegaskan, penetapan tersangka itu sudah sesuai ketentuan. ”Kami memiliki alat-alat bukti,” tegasnya. (one/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/