alexametrics
28.1 C
Probolinggo
Sunday, 3 July 2022

Erwin Eks Pejabat Dishub yang Tersandung Korupsi Masih Belum Dipecat

PASURUAN, Radar Bromo– Meski divonis bersalah dan mendekam di balik penjara, Erwin Hamonangan masih sah berstatus PNS Pemkot Pasuruan. Ia belum dipecat. Pemkot masih terkendala dengan salinan putusan pengadilan terpidana kasus korupsi pengadaan traffic light tersebut.

“Di internal (Pemkot) sudah kami bahas soal itu. Laporan ke Pak Sekda juga sudah,” ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Pasuruan Supriyanto.

Hanya saja, kata Supriyanto, pemecatan seorang PNS tidak bisa dilakukan serta-merta. Di lingkungan birokrasi, semua ada prosedurnya. Eksekusi Erwin tidak bisa begitu saja bisa ditindaklanjuti dengan pemecatannya sebagai PNS. “Kami juga harus punya dasar (untuk memecatnya),” katanya.

Menurutnya, Pemkot memerlukan salinan putusan yang dikeluarkan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Sudah beberapa kali pihaknya mengajukan salinannya ke pengadilan. Namun, belum didapatkan. Ia berharap bisa segera mengantonginya.

“Sehingga pemkot memiliki dasar untuk melakukan pemberhentian tidak dengan hormat kepada yang bersangkutan,” jelas Supriyanto.

Diketahui, Erwin divonis bersalah. Dijatuhi hukuman pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan. Ia dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam pengadaan traffic light di Dinas Perhubungan Kominfo Kota Pasuruan.

Proyek dengan anggaran Rp 542 juta dari dana alokasi khusus (DAK) itu seharusnya dilelang. Namun, setelah diusut aparat penegak hukum didapat fakta, proyek ini dipecah menjadi lima paket pekerjaan. Sehingga mekanisme pengadaannya dilakukan dengan metode penunjukan langsung.

Erwin yang saat itu menjabat sebagai kepala Bidang Angkutan Darat, dinyatakan terlibat dalam korupsi ini. Termasuk Didik Rame, yang kala itu menjabat sebagai kepala dinas. Kasus ini menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 180 juta.

Mereka diyakini memotong anggaran yang dicairkan kepada pihak ketiga selaku penyedia barang dan jasa pengadaan traffic light. Akibatnya, kualitas pekerjaannya buruk. Baru beberapa bulan dipasang, sudah banyak yang rusak. (tom/rud)

 

PASURUAN, Radar Bromo– Meski divonis bersalah dan mendekam di balik penjara, Erwin Hamonangan masih sah berstatus PNS Pemkot Pasuruan. Ia belum dipecat. Pemkot masih terkendala dengan salinan putusan pengadilan terpidana kasus korupsi pengadaan traffic light tersebut.

“Di internal (Pemkot) sudah kami bahas soal itu. Laporan ke Pak Sekda juga sudah,” ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kota Pasuruan Supriyanto.

Hanya saja, kata Supriyanto, pemecatan seorang PNS tidak bisa dilakukan serta-merta. Di lingkungan birokrasi, semua ada prosedurnya. Eksekusi Erwin tidak bisa begitu saja bisa ditindaklanjuti dengan pemecatannya sebagai PNS. “Kami juga harus punya dasar (untuk memecatnya),” katanya.

Menurutnya, Pemkot memerlukan salinan putusan yang dikeluarkan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Sudah beberapa kali pihaknya mengajukan salinannya ke pengadilan. Namun, belum didapatkan. Ia berharap bisa segera mengantonginya.

“Sehingga pemkot memiliki dasar untuk melakukan pemberhentian tidak dengan hormat kepada yang bersangkutan,” jelas Supriyanto.

Diketahui, Erwin divonis bersalah. Dijatuhi hukuman pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan. Ia dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam pengadaan traffic light di Dinas Perhubungan Kominfo Kota Pasuruan.

Proyek dengan anggaran Rp 542 juta dari dana alokasi khusus (DAK) itu seharusnya dilelang. Namun, setelah diusut aparat penegak hukum didapat fakta, proyek ini dipecah menjadi lima paket pekerjaan. Sehingga mekanisme pengadaannya dilakukan dengan metode penunjukan langsung.

Erwin yang saat itu menjabat sebagai kepala Bidang Angkutan Darat, dinyatakan terlibat dalam korupsi ini. Termasuk Didik Rame, yang kala itu menjabat sebagai kepala dinas. Kasus ini menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 180 juta.

Mereka diyakini memotong anggaran yang dicairkan kepada pihak ketiga selaku penyedia barang dan jasa pengadaan traffic light. Akibatnya, kualitas pekerjaannya buruk. Baru beberapa bulan dipasang, sudah banyak yang rusak. (tom/rud)

 

MOST READ

BERITA TERBARU

/