alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Warga Bantaran yang Tewas Ditembak di Papua Itu Hendak Menikah

Duka menyelimuti keluarga Mulya Syahrawi, 65, warga Dusun Tengah, Desa Kramatagung, Kecamatan Bantaran. Itu, setelah Sugeng Efendi, 30, anak ke empat Mulya Syahrawi tewas ditembak orang tak dikenal di Kampung Wiyukwi, Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

ARIF MASHUDI, Bantaran

Rumah duka Sugeng tidak jauh dari balai Desa Kramat Agung. Di depan rumah duka, sudah terpasang atap untuk para takziah. Di teras rumahnya, ada dua karangan bunga ucapan bela sungkawa dari Kodim 0820.

UCAPAN BELA SUNGKAWA: Karangan bunga dari Kodim 0820 Probolinggo di rumah duka. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Senin siang (4/2), jenazah Sugeng masih dalam perjalanan dari Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, ke Bantaran. Di rumah duka sendiri, tampak sejumlah warga dan kerabat yang datang untuk takziah. Termasuk keluarga sendiri sudah berkumpul menunggu kedatangan jenazah Sugeng.

Di raut wajah Mulya Syahrawi, masih tampak kesedihan setelah ditinggal anak ke empat dari lima saudara itu. Namun, Syahrawi tetap menyambut ramah para petakziah. Syahrawi pun bercerita, dirinya mendapatkan kabar yang menimpa anaknya itu sekitar pukul 01.00, Minggu.

Kalau kejadian penembakan yang menimpa anaknya itu, sekitar pukul 19.00, Sabtu. Sugeng meregang nyawa usai lehernya tertembus peluru. “Kejadiannya pukul 19.00, setelah Isya. Tapi, saya dapat kabar dari Sholeh, jam 1 malam. Sholeh ini tetangga yang juga kerja di sana (Papua),” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo.

Bapak lima anak itu menjelaskan, awalnya putranya yang masih bujang itu akan dipulangkan dari Papua, Minggu. Namun, ternyata di hari Minggu tidak ada pesawat yang ke Surabaya. Sehingga, rencana pemulangan baru bisa dilakukan Senin.

“Hari ini (Senin) baru dipulangkan. Keluarga dari sini sudah berangkat ke Bandara Juanda, bawa ambulans juga untuk jemput jenazah anak saya,” terangnya. Saat jenazah anaknya tiba, dikatakan Syahrawi, akan langsung disalatkan. Kemudian, anaknya langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat.

Saat ini, menurut Syahwari, tempat pemakaman sudah siap. ”Kalau datang malam hari, tetap langsung disalatkan dan dimakamkan. Karena semua sudah siap. Makamnya sudah digali. Jadi, tidak menunggu besok (Selasa, 5/2, Red),” terangnya. Sugeng sendiri, dikatakan Syahrawi, sudah sekitar 3 tahun lamanya kerja ke Papua.

Awalnya, anaknya itu bekerja sebagai tukang ojek. Namun, sekitar satu tahun lamanya, memilih untuk membangun kios sendiri dan berdagang. Alhamdulillah, usaha dagangnya sukses. ”Sejak kerja di Papua, pulang baru sekali. Terakhir pulang sekitar 2 tahun lalu. Tapi, sering telepon beri kabar kalau di sana (Papua) enak,” terangnya.

Suhaeni, 27, adik kandung Sugeng mengaku, dirinya sering kali dihubungi oleh Sugeng. Terakhir menghubungi sekitar seminggu lalu. Dimana, kakaknya itu rencana akan pulang dalam bulan ini atau bulan depan. Sebab, kakaknya ini rencana akan menikah bulan Rajab atau bulan Maret besok. “Calon istrinya asal Lumajang, tapi kerja di Papua juga. Saya dan keluarga juga belum tahu ke calon istri kakak saya itu,” terangnya.

Meski demikian, dikatakan Suhaeni, keluarganya sangat senang dan gembira mendengar kabar kakaknya itu akan menikah dalam waktu dekat. Bahkan, direncanakan, setelah menikah, istri kakaknya itu akan tinggal di rumah Bantaran bersama dirinya dan keluarga. Sedangkan kakaknya, kembali kerja ke Papua. “Tapi, ternyata rencana itu tidak sampai terlaksana. Kakak meninggal lebih dulu sebelum menikah,” ujarnya.

Syahrawi mengaku, dirinya hanya bisa pasrah menerima kejadian yang menimpa anaknya. Padahal, anaknya sendiri selama ini tidak pernah berbuat neko-neko. Sekarang malah ditembak oleh orang tidak dikenal. ”Kalau proses hukumnya, saya pasrah pada pihak penegak hukum. Saya hanya bisa pasrah,” ujarnya. (rf)

Duka menyelimuti keluarga Mulya Syahrawi, 65, warga Dusun Tengah, Desa Kramatagung, Kecamatan Bantaran. Itu, setelah Sugeng Efendi, 30, anak ke empat Mulya Syahrawi tewas ditembak orang tak dikenal di Kampung Wiyukwi, Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

ARIF MASHUDI, Bantaran

Rumah duka Sugeng tidak jauh dari balai Desa Kramat Agung. Di depan rumah duka, sudah terpasang atap untuk para takziah. Di teras rumahnya, ada dua karangan bunga ucapan bela sungkawa dari Kodim 0820.

UCAPAN BELA SUNGKAWA: Karangan bunga dari Kodim 0820 Probolinggo di rumah duka. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Senin siang (4/2), jenazah Sugeng masih dalam perjalanan dari Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, ke Bantaran. Di rumah duka sendiri, tampak sejumlah warga dan kerabat yang datang untuk takziah. Termasuk keluarga sendiri sudah berkumpul menunggu kedatangan jenazah Sugeng.

Di raut wajah Mulya Syahrawi, masih tampak kesedihan setelah ditinggal anak ke empat dari lima saudara itu. Namun, Syahrawi tetap menyambut ramah para petakziah. Syahrawi pun bercerita, dirinya mendapatkan kabar yang menimpa anaknya itu sekitar pukul 01.00, Minggu.

Kalau kejadian penembakan yang menimpa anaknya itu, sekitar pukul 19.00, Sabtu. Sugeng meregang nyawa usai lehernya tertembus peluru. “Kejadiannya pukul 19.00, setelah Isya. Tapi, saya dapat kabar dari Sholeh, jam 1 malam. Sholeh ini tetangga yang juga kerja di sana (Papua),” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo.

Bapak lima anak itu menjelaskan, awalnya putranya yang masih bujang itu akan dipulangkan dari Papua, Minggu. Namun, ternyata di hari Minggu tidak ada pesawat yang ke Surabaya. Sehingga, rencana pemulangan baru bisa dilakukan Senin.

“Hari ini (Senin) baru dipulangkan. Keluarga dari sini sudah berangkat ke Bandara Juanda, bawa ambulans juga untuk jemput jenazah anak saya,” terangnya. Saat jenazah anaknya tiba, dikatakan Syahrawi, akan langsung disalatkan. Kemudian, anaknya langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat.

Saat ini, menurut Syahwari, tempat pemakaman sudah siap. ”Kalau datang malam hari, tetap langsung disalatkan dan dimakamkan. Karena semua sudah siap. Makamnya sudah digali. Jadi, tidak menunggu besok (Selasa, 5/2, Red),” terangnya. Sugeng sendiri, dikatakan Syahrawi, sudah sekitar 3 tahun lamanya kerja ke Papua.

Awalnya, anaknya itu bekerja sebagai tukang ojek. Namun, sekitar satu tahun lamanya, memilih untuk membangun kios sendiri dan berdagang. Alhamdulillah, usaha dagangnya sukses. ”Sejak kerja di Papua, pulang baru sekali. Terakhir pulang sekitar 2 tahun lalu. Tapi, sering telepon beri kabar kalau di sana (Papua) enak,” terangnya.

Suhaeni, 27, adik kandung Sugeng mengaku, dirinya sering kali dihubungi oleh Sugeng. Terakhir menghubungi sekitar seminggu lalu. Dimana, kakaknya itu rencana akan pulang dalam bulan ini atau bulan depan. Sebab, kakaknya ini rencana akan menikah bulan Rajab atau bulan Maret besok. “Calon istrinya asal Lumajang, tapi kerja di Papua juga. Saya dan keluarga juga belum tahu ke calon istri kakak saya itu,” terangnya.

Meski demikian, dikatakan Suhaeni, keluarganya sangat senang dan gembira mendengar kabar kakaknya itu akan menikah dalam waktu dekat. Bahkan, direncanakan, setelah menikah, istri kakaknya itu akan tinggal di rumah Bantaran bersama dirinya dan keluarga. Sedangkan kakaknya, kembali kerja ke Papua. “Tapi, ternyata rencana itu tidak sampai terlaksana. Kakak meninggal lebih dulu sebelum menikah,” ujarnya.

Syahrawi mengaku, dirinya hanya bisa pasrah menerima kejadian yang menimpa anaknya. Padahal, anaknya sendiri selama ini tidak pernah berbuat neko-neko. Sekarang malah ditembak oleh orang tidak dikenal. ”Kalau proses hukumnya, saya pasrah pada pihak penegak hukum. Saya hanya bisa pasrah,” ujarnya. (rf)

MOST READ

BERITA TERBARU

/