Oknum LSM Pemeras Kades “Dilepas” Polisi, Hanya Dikenai Wajib Lapor

BANGIL – Polisi akhirnya “melepaskan” Kusairi, 45, warga Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Tersangka pemeras kepala desa itu ditangguhkan, setelah ada permohonan dari pihak keluarga.

Kasatreskrim Polres Pasuruan, AKP Dewa Putu Prima menyampaikan, pihaknya melakukan penangguhan penahanan tersangka pemeras kades tersebut, pekan lalu. “Ada permohonan dari pihak keluarga untuk penangguhan penahanan tersangka,” kata Dewa-sapaannya saat ditemui di Polres Pasuruan, Senin (3/11).

Meski begitu, kata Dewa, bukan berarti kasus yang melilit Kusari terhenti. Proses penyidikan atas kasus yang melilit Kusairi berlanjut. Bahkan, pengenaan wajib lapor diberlakukan. “Sekarang masih proses P19. Kasusnya masih berlanjut,” jelasnya.

Suami artis Kade Devi ini membantah, kalau penangguhan tersebut lantaran adanya tekanan dari beberapa pihak. Seperti yang diketahui, banyak LSM yang mendesak agar Kusairi diberikan penangguhan.

Penangguhan inipun, ditujukan pula untuk menghindari perkara tersebut bebas demi hukum. Karena, habisnya masa penahanan tersangka, yang selama 60 hari. Sementara, berkas kepolisian, belum sepenuhnya lengkap untuk dilimpahkan ke kejaksaan.

“Bukan karena ada desakan. Selain ada jaminan dari pihak keluarga, juga untuk menghindari bebas demi hukum. Masa penahanan kami kan 60 hari. Kalau lebih dari itu, bisa-bisa bebas demi hukum,” sambungnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, seorang oknum LSM, diamankan anggota Satreskrim Polres Pasuruan. Oknum LSM yang diketahui bernama Kusairi, 45, warga Kelurahan Wirogunan, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan tersebut diamankan, lantaran diduga melakukan tindak pemerasan.Korbannya, adalah Toyib, 41, seorang kades Karangasem, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.

Tersangka ditangkap Kamis silam (27/9) di warung Makan Anda, jalan raya Pasuruan Malang, Dusun Cobansari, Desa Cobanblimbing, Kecamatan Wonorejo, sekitar pukul 11.00. Sebelumnya, Kusairi disebut meminta uang Rp 3 juta, sebagai kompensasi adanya dugaan penyalahgunaan DD di Cobanblimbing, tak dilaporkan.

Karena merasa tertekan, korban akhirnya memilih untuk menyanggupinya. Mereka kemudian bertemu di sebuah toko waralaba depan pabrik teh pucuk Kejayan pada 7 Agustus 2018. Saat itulah, korban menyerahkan uang Rp 1 juta. Sementara sisanya sebanyak Rp 2 juta diserahkan dua minggu kemudian.

Mereka kembali bertemu di Alun-alun Contong, Desa/Kecamatan Wonorejo. Pembayaran itupun, membuat kasus tersebut dirasa korban selesai. Namun kenyataannya tidak demikian. Karena pada 24 September 2018 kemudian, korban mendapat somasi pertama dan terakhir dari LSM berbeda. Nah, saat itulah diduga terjadi tindak pemerasan karena Kusairi dituding meminta tambahan uang kembali.

Korban dan tersangka pun janjian bertemu kembali, Kamis (27/9). Sambil membawa uang Rp 7 juta, sebagai uang muka. Karena sisanya, akan dibayar sepekan lagi. Merasa menjadi korban pemerasan, korban akhirnya memilih untuk berkoordinasi dengan Polsek Wonorejo. Kemudian pihak Polsek menindaklanjuti dengan meneruskan ke Polres Pasuruan. Sehingga, petugas akhirnya sudah stand by di lokasi. Ketika transaksi terjadi, petugas langsung menggrebek tersangka. (one/fun)