alexametrics
31.9 C
Probolinggo
Thursday, 29 July 2021

Seminggu Truk Pertamina Ini 2 Kali ”Kencing” 220 Liter Solar

BANGIL, Radar BromoTruk tangki BBM itu tak terlihat mencurigakan. Parkir di pangkalan truk Desa Legok, Gempol. Sopirnya santai-santai. Siapa yang mengira truk tersebut ternyata ”kencing” solar sampai 220 liter. Sekali ”kencing” hasilnya Rp 500 ribu.

Praktik curang sopir dan kernet pengiriman bahan bakar minyak (BBM) itu akhirnya terbongkar. Polisi mendengar. Truk yang disopiri Samuji dengan kernet Antonius kerap mengurangi isi tangki truknya setiap kali mampir ke Legok.

Pada Rabu (26/5), polisi mengintai mereka. Waktu itu, seperti biasa, Samuji tiba dengan truk berisi 24 ribu liter solar. Dia parkir. Setelah itu, dia memasukkan selang ke tutup tangki di bagian atas. Segelnya dirusak dulu. ”Kemudian mereka mengalirkan BBM tersebut ke drum,” jelas Kasatreskrim Polres Pasuruan Adrian Wimbarda.

Agar tidak terlihat, mereka memasang papan untuk menutupi selang yang menuju drum. Jadi, dengan aman truk ”kencing” solar dari tangki ke drum. Sekali kencing 220 liter. Jumlah yang sangat kecil dari total 24 ribu liter. Jadi, tidak mudah diketahui. Karena itulah, ulah lancung keduanya berjalan lancar hingga hampir satu tahun. Dalam seminggu, bisa dua kali aktivitas penyulingan dilakukan.

Nah, Rabu siang itu, sekitar pukul 14.00, Samuji dan Antonius mengulangi kecurangan mereka. Polisi diam-diam menyanggong. Melihat dari jauh truk Pertamina yang disopiri Samuji kencing solar lagi. Warga Oro-oro Ombo, Kecamatan Ngetos, Nganjuk, itu juga tidak tahu dirinya sedang diintai petugas.

Santai saja lelaki 43 tahun tersebut. Antonius pun demikian. Lelaki 40 tahun asal Tanjunganon, Nganjuk, itu tak mengira bakal disergap polisi. Begitu petugas muncul, keduanya gelagapan.

”Jangan bergerak,” ujar petugas. Waktu itu, ”kencing” solar sedang berlangsung. Samuji dan Antonius sama-sama tidak bisa mengelak. Mereka tertangkap tangan.

”Kami amankan di gudang milik Yuli Agus Prasetyo,” tambah Adrian yang mendampingi Kapolres Pasuruan AKBP Rofiq Ripto Himawan. Yuli diketahui sebagai warga Cepokomulyo, Kabupaten Malang. Namun, dia lah pemilik gudang sekaligus penadah solar curian. Jadi, dia tersangka juga.

Dari mulut ketiga tersangka, polisi memperoleh informasi bahwa solar itu diangkut dari Tanjung Perak, Surabaya. Tujuannya adalah sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Lumajang. Setiap sampai Legok, truk berbelok. ”kencing” dulu.

Tersangka Yuli menjual lagi solar curian itu ke truk-truk yang parkir di sekitar lokasi miliknya. Harganya lebih murah daripada di SPBU. Jika BBM solar di pom bensin Rp 5.400 per liter, dia menjual Rp 5 ribu saja per liter. “Jadi ada keuntungan dari praktik tersebut,” sambungnya.

Sopir Samuji, kernet Antonius, dan Yuli sebagai penadah digelandang ke Mapolres Pasuruan. Ketiganya terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara. ”Kami juga masih mengembangkan penyelidikan. Ada indikasi keterlibatan pihak lain,” tandas Adrian. (one/far)

 

 

 

 

BANGIL, Radar BromoTruk tangki BBM itu tak terlihat mencurigakan. Parkir di pangkalan truk Desa Legok, Gempol. Sopirnya santai-santai. Siapa yang mengira truk tersebut ternyata ”kencing” solar sampai 220 liter. Sekali ”kencing” hasilnya Rp 500 ribu.

Praktik curang sopir dan kernet pengiriman bahan bakar minyak (BBM) itu akhirnya terbongkar. Polisi mendengar. Truk yang disopiri Samuji dengan kernet Antonius kerap mengurangi isi tangki truknya setiap kali mampir ke Legok.

Pada Rabu (26/5), polisi mengintai mereka. Waktu itu, seperti biasa, Samuji tiba dengan truk berisi 24 ribu liter solar. Dia parkir. Setelah itu, dia memasukkan selang ke tutup tangki di bagian atas. Segelnya dirusak dulu. ”Kemudian mereka mengalirkan BBM tersebut ke drum,” jelas Kasatreskrim Polres Pasuruan Adrian Wimbarda.

Agar tidak terlihat, mereka memasang papan untuk menutupi selang yang menuju drum. Jadi, dengan aman truk ”kencing” solar dari tangki ke drum. Sekali kencing 220 liter. Jumlah yang sangat kecil dari total 24 ribu liter. Jadi, tidak mudah diketahui. Karena itulah, ulah lancung keduanya berjalan lancar hingga hampir satu tahun. Dalam seminggu, bisa dua kali aktivitas penyulingan dilakukan.

Nah, Rabu siang itu, sekitar pukul 14.00, Samuji dan Antonius mengulangi kecurangan mereka. Polisi diam-diam menyanggong. Melihat dari jauh truk Pertamina yang disopiri Samuji kencing solar lagi. Warga Oro-oro Ombo, Kecamatan Ngetos, Nganjuk, itu juga tidak tahu dirinya sedang diintai petugas.

Santai saja lelaki 43 tahun tersebut. Antonius pun demikian. Lelaki 40 tahun asal Tanjunganon, Nganjuk, itu tak mengira bakal disergap polisi. Begitu petugas muncul, keduanya gelagapan.

”Jangan bergerak,” ujar petugas. Waktu itu, ”kencing” solar sedang berlangsung. Samuji dan Antonius sama-sama tidak bisa mengelak. Mereka tertangkap tangan.

”Kami amankan di gudang milik Yuli Agus Prasetyo,” tambah Adrian yang mendampingi Kapolres Pasuruan AKBP Rofiq Ripto Himawan. Yuli diketahui sebagai warga Cepokomulyo, Kabupaten Malang. Namun, dia lah pemilik gudang sekaligus penadah solar curian. Jadi, dia tersangka juga.

Dari mulut ketiga tersangka, polisi memperoleh informasi bahwa solar itu diangkut dari Tanjung Perak, Surabaya. Tujuannya adalah sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Lumajang. Setiap sampai Legok, truk berbelok. ”kencing” dulu.

Tersangka Yuli menjual lagi solar curian itu ke truk-truk yang parkir di sekitar lokasi miliknya. Harganya lebih murah daripada di SPBU. Jika BBM solar di pom bensin Rp 5.400 per liter, dia menjual Rp 5 ribu saja per liter. “Jadi ada keuntungan dari praktik tersebut,” sambungnya.

Sopir Samuji, kernet Antonius, dan Yuli sebagai penadah digelandang ke Mapolres Pasuruan. Ketiganya terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara. ”Kami juga masih mengembangkan penyelidikan. Ada indikasi keterlibatan pihak lain,” tandas Adrian. (one/far)

 

 

 

 

MOST READ

BERITA TERBARU