Perkutut banyak jenisnya. Namun, semuanya merupakan jenis burung pemakan biji-bijian. Meski begitu, di habitat aslinya tidak menutup kemungkinan burung ini juga memakan serangga. Dari banyak jenis itu, salah satunya yang banyak digemari orang adalah perkutut bangkok.
SECARA fisik, bulu perkutut lokal lebih didominasi warna cokelat. Perkutut Bangkok warna bulunya cenderung lebih cerah atau cokelat keputihan.
Postur tubuh perkutut lokal lebih kecil dari perkutut Bangkok. Kemungkinan ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan keturunan.
Salah seorang penggemar sekaligus pemelihara burung jenis adalah Dhanang Kurniawan. Awalnya, ia lebih tertarik memelihara burung berkicau, seperti cendet dan murai. Namun, sejak 2016 memilih memelihara perkutut.
Dhanang menjual seluruh burung ocehannya. Kemudian membeli sepasang burung perkutut Bangkok. Namun, dalam percobaan pertama gagal. Sepasang urungnya mati.
Cobaan itu tak membuatnya patah semangat. Ia kembali membeli sepasang. Sial, kali ini malah tertipu pedagang. “Seharusnya harga burungnya tidak semahal itu. Sebab, suaranya masih belum tergolong yang bisa masuk kategori lomba,” katanya.
Namun, dari persoalan ini Dhanang banyak belajar. Ia pun mengetahui jika patokan harga perkutut Bangkok adalah suaranya. Suara antarburung bisa berbeda-beda. Aturan spesifiknya tertuang dalam Tata Cara Konkurs dan Penjurian Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI). “Meski mirip, tapi tidak sama persis. Ada yang bisa masuk lomba, ada juga yang tidak,” jelasnya.
Adanya aturan seabrek itu membuat Dhanang makin bersemangat menekuni hobinya. Di sela-sela padatnya jam kerja di pabrik, ia mengatur waktu untuk belajar seluk beluk tentang perkutut. Berlatih mendengarkan suara, menggali informasi cara pemeliharaan hingga perkembangbiakannya.
Menurutnya, suara perkutut tak dapat dipancing menggunakan kaset atau semacamnya, layaknya burung ocehan. Suara perkutut Bangkok memang asli dari lahir.
Dalam kejuaraan, penentuan juara biasanya didasarkan dengan sistem fair play. Artinya, murni dari suara burungnya. Meliputi suara depan, tengah, ujung, irama, dan dasar suara harus sesuai aturan.
Suara depan dengan kriteria panjang, mengayun atau melambat, bersih. Suara tengah dengan kriteria bertekanan, lengkap dan jelas. Suara ujung dengan kriteria bulat, panjang, dan mengalun. Irama dengan kriteria senggang, lenggang, elok, dan indah. Dasar suara dengan kriteria tebal, kering, bersih atau jernih atau sengau.
“Karena itu, juri lomba tidak dapat sembarang orang. Ia wajib mengikuti diklat (pendidikan dan pelatihan) sebelumnya,” ujar pria yang mempunyai ratusan perkutut ini.
Memelihara burung perkutut juga memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya perihal crossing suara antarindukan. Tak jarang, demi mendapat piyik yang suaranya bagus dan bisa dilombakan, Dhanang harus peka terhadap suara indukannya dulu.
“Jadi, misal jantan hanya punya suara depan dan tengah, harus dicarikan betina yang punya suara ujung yang bagus. Harapannya, anaknya bisa punya suara depan, tengah, hingga ujung yang bagus turunan dari induknya,” jelasnya.
Namun, bila sepasang indukan dalam tiga hingga lima kali bertelur, hasil suara anakannya kurang bagus, maka Dhanang menyarankan membongkarnya kembali. “Dicarikan pasangan baru sampai dapat suara anakan yang bagus. Begitu seterusnya,” ujar warga Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo ini.
PENILAIAN SUARA PERKUTUT
Suara depan
Dengan kriteria panjang, mengayun atau melambat, bersih.
Suara tengah
Dengan kriteria bertekanan, lengkap dan jelas
Suara ujung
Dengan kriteria bulat, panjang, dan mengalun.
Irama
Dengan kriteria senggang, lenggang, elok, dan indah.
Dasar suara
Dengan kriteria tebal, kering, bersih atau jernih atau sengau.
Dilengkapi Identitas dan Nasabnya Jelas
BILA sudah tahu ilmunya, memelihara perkutut tergolong mudah. Begitu juga dalam melahirkan burung siap tanding hingga lomba tingkat nasional. Seperti dialami Dhanang Kurniawan.
Dhanang memiliki ratusan ekor burung perkutut Bangkok. Ia juga telah tergabung dalam Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI). Ini membuatnya dapat mendaftarkan ring melalui P3SI pusat untuk anakan burung yang baru menetas.
Ring ini biasanya dipasang di kaki burung dan tertera nomor identitas setiap burung. Fungsinya agar burungnya bisa mengikuti kontes nasional. “Burung yang tidak memiliki ring, hanya bisa mengikuti lomba tingkat lokal,” ujarnya.
Ia mengaku juga melengkapi setiap burungnya dengan kitir. Sebagai kartu tanda lahir. Layaknya kartu keluarga, dalam kitir tertulis jelas silsilah ayah ibu hingga kakek nenek dari si burung. “Jadi, asal usul burung itu jelas,” katanya.
Dhanang mengatakan, selain pemeliharaannya mudah, hobi ini juga dapat mendatangkan pundi-pundi rupiah. Ia telah banyak memenangkan lomba kicau burung perkutut Bangkok. Salah satunya mendapatkan doorpize berupa satu unit sepeda motor.
Kemenangan itu sekaligus mengkatrol harga perkututnya. Bahkan, kini bisa mendapat omzet belasan juta rupiah per sebulan dari hobinya memelihara burung perkutut Bangkok.
Meski memiliki segudang keunggulan, burung perkutut dipercaya memiliki mitos oleh sebagian masyarakat. Salah satunya Hasan, 50, warga Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Ia percaya bahwa ada burung perkutut yang memiliki kekuatan mistis.
“Tapi, bukan perkutut yang diternak. Kebanyakan yang berasal dari alam. Itu sisi mistisnya kuat, aura, dan suaranya berbeda biasanya. Ada pula yang semacam jelmaan. Jadi, kalau misalnya burung itu minta dilepaskan, lepaskan saja. Ada juga yang datang sendiri ke orang tersebut. Biasanya untuk menjaga atau membawa rezeki. Ada yang semacam itu,” katanya. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando