DESA Rejoso Lor merupakan salah satu desa yang ada di wilayah Kecamatan Rejoso.
Desa ini, memiliki sejarah yang unik. Di mana sebelumnya, kawasan setempat merupakan hutan yang luas.
Hingga akhirnya di bagi menjadi dua bagian oleh pembabat alas desa setempat.
Sosok tersebut adalah Mbah Daiwono. Ia memiliki nama lengkap, Raden Ki Ageng Daiwono.
Dialah pembabat alas desa yang kemudian membaginya menjadi Rejoso Lor dan Rejoso Kidul.
Bagian utara diberi nama Rejoso Lor. Sementara bagian selatan menjadi Rejoso Kidul.
Nama Rejoso sendiri, berasal dari pohon "Njoso" yang merupakan tempat orang-orang beristirahat, setelah bercocok tanam.
Sementara kata "Rejo", berartikan ramai atau makmur. Sedangkan "So" yang dalam bahasa Jawa berarti "siapa yang mau".
“Sampai sekarang, di Rejoso Lor identik dengan lahan pertanian yang ada di Rejoso Kidul maupun Lor,” ujar Kasun Kedulon, Desa Rejoso Lor, Nur Sulaiman, 56.
Sulaiman menjelaskan, lahan di Rejoso Lor merupakan tempat tinggal Mbah Daiwono.
Di sanalah dia membabat alas, bersama istrinya Raden Ajeng Dewi Murniati. Keduanya hidup pada tahun 1800-an.
Saat Mbah Daiwono membabat alas, orang berdatangan untuk bermukim di lahan tersebut.
Konon, hutan di wilayah setempat, terlalu luas. Sehingga, Mbah Daiwono memutuskan untuk membagi wilayah. Kidul dan Lor.
“Mbah Daiwono menyuruh orang yang tinggal Rejoso Kidul waktu itu, untuk menyediakan tumpeng selamatan,” sampainya.
Sejak saat itulah penamaan Rejoso Lor dan Kidul muncul. Hal ini, sesuai ciri khas wilayah, di mana ada utara dan selatan.
Pemerintahan desa pun terbentuk, hingga kisaran 1851, sudah ada kepala desa.
Konon, Mbah Daiwono bukanlah orang sembarangan. Ia dikenal memiliki pengawal dari bangsa jin.
Bahkan, makhluk tak kasat mata itu, disebut-sebut sering dijumpai di maklamnya, yang berada di utara Jalan Raya Pantura Rejoso, wilayah persawahan Dusun Kedulon.
“Kata mbah-mbah saya terdahulu, beliau ini orang sakti,” sampainya.
Warga Antusias Merawat Makam Mbah Daiwono
Tak banyak peninggalan Mbah Daiwono usai dia wafat. Namun kisahnya dikenang sampai sekarang.
Warga pun antusias merawat makamnya, yang dikeramatkan. Mereka yang melakukan tirakat di sana, dipercaya akan mendapatkan pertolongan.
Bahkan, warga yang hendak menjabat akan lebih dahulu melakukan tirakat di makam Mbah Daiwono.
Karena untuk memimpin suatu wilayah di Desa Rejoso Lor, sosok Mbah Daiwono harus disowani bagi yang meyakininya.
Kepala Desa Rejoso Lor Abdur Rohman menyampaikan, tidak ada peninggalan selain cerita.
Selain hanya, batu bata kuno yang sampai saat ini berada di area makam. Konon, batu bata kuno itu merupakan salah satu batu bata yang dibongkar dari rumah Mbah Daiwono.
“Ada tulisan Jawa kuno pada batu bata itu. Itu katanya batu bata yang dibongkar dari rumah Mbah Daiwono,” ujarnya.
Bangunannya tampak sederhana. Lokasinya di sekitar area pemakaman Mbah Daiwono. Namun sampai kini, bangunan itu telah hilang jejaknya.
Konon, ada peninggalan lain dari Mbah Daiwono. Yakni baju perang gaib. Baju ini kerap datang ke salah satu kiai yang ada di Rejoso. Baju itu, disebut-sebut akan datang ke orang yang tepat.
“Cerita ini sudah diketahui masyarakat. Tapi saya sendiri belum bisa memastikan kebenarannya,” katanya.
Kepala Dusun Kedulon, Desa Rejoso Lor Nur Sulaiman menambahkan, selain cerita memang ada histori gaib yang kerap menjadi perbincangan masyarakat. Konon katanya baju perang Mbah Daiwono masih ada.
Karenanya makam orang sakti ini dikeramatkan. Sehingga banyak warga antusias merawat makam Mbah Daiwono bersama istrinya.
“Tidak ada jadwal maupun penugasan warga. Bahkan juru kunci. Semua warga antusias merawat dan menyatu di pesarean. Siapa yang berada di sana akan membersihkan lokasi pesarean,” jelasnya.
Peziarah Juga dari Kalangan Pejabat
Makam Mbah Daiwono merupakan makam keramat di Desa Rejoso Lor, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.
Karena dia dianggap sakti dan orang pertama yang membabat alas wilayah Desa.
Bukan hanya masayarakat biasa yang pernah mendatangi makam Mbah Daiwono.
Para pejabat terdahulu pun pernah berkunjung ke makam Mbah Daiwono.
Kapala Desa Rejoso Lor, Abdur Rohman mengatakan, banyak yang berziarah ke makam Mbah Daiwono. Selain orang Jawa Timur, banyak juga peziarah asal Jawa Tengah.
“Terkadang, mereka datang untuk menginap. Ada yang seminggu bahkan hingga sebulan,” jelasnya.
Mayoritas, mereka datang untuk menginap karena menderita penyakit. Kemudian datang karena mendapat petunjuk dari orang maupun dari mimpinya sendiri.
Tak heran, jika ada peziarah yang tinggal seminggu hingga berbulan-bulan.
Kepala Dusun Kedulon, Desa Rejoso Lor Nur Sulaiman menambahkan, peziarah tak hanya masyarakat biasa. Ada peziarah dari golongan pejabat.
Mayoritas orang yang datang ke makam Mbah Daiwono, mereka mendoakannya.
Meski kadang ada menyalahgunakannya, seperti minta togel dan mengambil pusaka.
“Ada sih (minta nomor, red) semacam itu. Tapi dua kali saya dengar, katanya pernah ada yang dilempar ke sawah,” ujarnya.
Masalah dikabulkan, dirinya tidak mengetahuinya. Karena jawabannya, ada pada individu yang pernah datang dan ziarah ke makam Mbah Daiwono.
Namun ia memiliki pengalaman, sebelum menjabat menjadi kepala dusun.
Selama sebulan, ia tinggal di pesarean Mbah Daiwono. Dalam mimpinya, ia melihat peti. Saat terbangun, ia mendapati cincin akik.
“Saat saya tanyakan ke orang ahli silat, mayoritas menyebut akik tersebut merupakan benda kuno. Hendak ditukar dengan motor dan uang Rp 250 ribu, saya tidak mau,” akunya.
Setiap pertengahan bulan Safar, acara haul Mbah Daiwono pasti digelar. Semua area pemakaman, ramai dengan orang luar kota. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin