Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jejak Pemilik Pabrik Simping di Kota Probolinggo, Milik Warga Malang yang Bangun Pabrik Sarung Terbesar

Fahrizal Firmani • Minggu, 19 November 2023 | 16:40 WIB
BERTAHAN: Wisma Sorrento di Jalan Mayjen Panjaitan Kota Probolinggo ini dibangun tahun 1963 oleh Muhammad Haniman, pemilik pabrik sarung terbesar di Probolinggo saat itu.
BERTAHAN: Wisma Sorrento di Jalan Mayjen Panjaitan Kota Probolinggo ini dibangun tahun 1963 oleh Muhammad Haniman, pemilik pabrik sarung terbesar di Probolinggo saat itu.

Sorrento dikenal sebagai kota kecil di Italia yang memiliki pemandangan tepi laut yang indah. Ini menginspirasi pengusaha pabrik sarung terbesar di Kota Probolinggo saat itu, Muhammad Haniman. Pada 1963, dia membangun rumah yang diberi nama Wisma Sorrento. Bangunannya bertahan sampai saat ini.

 

WISMA Sorrento terletak di sisi timur Jalan Mayjen Panjaitan, Kota Probolinggo. Tidak sulit menemukan bangunan ini. Sebab, di dinding bagunan depan tertulis nama “Wisma Sorrento”.

Rumah ini dibangun oleh Muhammad Haniman pada 1963. Ia adalah seorang pengusaha tenun sukses asal Dusun Simping, Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Setahun kemudian yaitu pada 1964, pembangunan selesai. Proses pengerjaan sebenarnya tidak membutuhkan waktu sampai satu tahun.

Namun, saat itu sedang terjadi erupsi Gunung Agung di Bali. Debu erupsinya sampai ke Probolinggo. Bahkan, cukup menganggu aktivitas sehari-hari warga saat itu. Termasuk juga memperlambat proses pembangunan Wisma Sorrento.

Setelah selesai dibangun, bangunan itu diberi nama Wisma Sorrento. Selain terinspirasi keindangan kota kecil di Itali, nama Sorrento dipilih karena istrinya suka dengan lagu Comeback Sorrento yang dibawakan Dean Martin. Setelah pembangunan selesai, Haniman dan istrinya bolak-balik Probolinggo-Malang.

“Sebelumnya Pak Haniman ini tinggal di Malang. Ia punya pabrik tenun besar di Lawang. Setelah punya rumah di Probolinggo, Pak Haniman juga membangun pabrik serupa di Probolinggo,” kata Edi Martono, pemerhati sejarah.

Memiliki pabrik di Malang dan Probolinggo membuat Haniman harus bolak balik Probolinggo-Malang untuk mengurus pekerjaannya. Barulah pada 1971, Haniman memutuskan untuk menutup pabrik di Malang. Ia memindahkan seluruh produksinya ke Kota Probolinggo.

Pabrik ini berlokasi di dekat perlimaan Mayangan. akhirnya, pabrik ini menjadi pabrik sarung terbesar di Probolinggo saat itu. Produksinya tidak hanya dikenal di Probolinggo. Banyak konsumennya dari luar daerah, seperti Malang dan Pasuruan.

Saat pertama kali dibangun, pabrik yang diberi nama Simping ini melakukan produksi dengan semimanual. Dalam waktu singkat, Haniman menjadi pengusaha sukses dan kaya di Probolinggo.

“Pabrik yang di Malang dijual dan fokus di Probolinggo untuk menggenjot produksinya. Akhirnya menjadi pabrik sarung terbesar di Probolinggo saat itu,” terang Edi.  (fahrizal firmani/hn)

 

PENGUSAHA: Sorrento selama menjalankan Pabrik Simping miliknya hingga meninggal. Kini wisma itu dirawat cucunya, Yahya Haniman.
PENGUSAHA: Sorrento selama menjalankan Pabrik Simping miliknya hingga meninggal. Kini wisma itu dirawat cucunya, Yahya Haniman.

Kini Sorrento Dirawat Cucu Haniman

YAHYA Haniman, cucu dari Muhammad Haniman menyebut, Wisma Sorrento memiliki luas lahan 2.558 meter persegi. Wisma itu ditempati oleh Muhammad Haniman sampai wafat pada 1997.

Setelah meninggal, Haniman dimakamkan di Kota Surabaya. Ini sesuai dengan permintaannya agar saat meninggal dimakamkan di Surabaya. Mengingat banyak keluarganya yang dimakamkan di Surabaya. Lagipula, Haniman memang dirawat di Surabaya saat sakit sebelum akhirnya meninggal.

Haniman sendiri memiliki tiga anak. Dua putri dan satu putra. Yang tertua, Faridah Haniman, lalu Mustofa Haniman dan yang terakhir Fadlun Haniman. Sepeninggal Haniman, Sorrento dirawat oleh Faridah Haniman, putri sulungnya atas wasiat Haniman.

Faridah memiliki tiga anak. Dua putra dan satu putri. Yang tertua, Hafifa Haniman, sementara Yahya nomor dua. Dan yang bungsu, Zakaria Haniman.

Faridah merawat Sorrento sejak 1997 hingga ia wafat pada 2014. Sepeninggal Faridah, Yahya kemudian yang merawat dan tinggal di Sorrento.

Alasannya, kakaknya Hafifa ikut suaminya di Palembang. Sementara adik bungsunya Zakaria tinggal bersama keluarganya di Jakarta.

Adapun anak-anak dari pamannya, yaitu Mustofa tinggal di Surabaya. Sementara anak-anak dari pamannya yang lain, yaitu Fadlun, memilih tinggal di Kota Malang.

Alhasil, hanya Yahya yang tinggal di Probolinggo. Karena itu, dialah akhirnya yang merawat dan tinggal di Sorrento.

"Jadi saya yang merawat, karena kebetulan saya di Probolinggo. Kalau yang lainnya di luar kota semua," jelas Yahya

Namun setiap tahunnya anak keturunan Haniman selalu pulang ke Probolinggo. Saat mereka datang, mereka biasa menempati bangunan baru di sisi selatan Sorrento.

Memang pada awal dibangun, Sorrento ini terdiri atas dua bangunan. Bentuknya memanjang ke arah belakang seperti hurup L. Modelnya khas bangunan lama dengan warna luar bangunan dominan biru.

Baru pada tahun 2020, dibangun bangunan baru di sebelah selatan Sorrento ini. Bentuknya jauh lebih modern dengan warga dominan pastel. (fahrizal firmani/hn)

 

KLASIK: Bangunan  Sorrento yang bertahan sampai sekarang.
KLASIK: Bangunan  Sorrento yang bertahan sampai sekarang.

Selalu Mengingat Warga Miskin

Sebagai pengusaha sukses, Muhammad Haniman memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia tidak pernah melupakan orang miskin yang hidup di sekitarnya. Setiap tahun, Haniman selalu bersedakah pada warga kurang beruntung di Probolinggo.

Edi menyebut, Haniman suka bersedekah di dua momen suci dalam kalender umat Islam. Yakni, saat bulan Ramadan dan Syawal atau Hari Raya Idul Fitri. Pemberian sedekah selalu dikoordinasikan dengan ketua RT/RW setempat.

Saat Ramadan, Haniman selalu memprioritaskan janda miskin. Mereka diberi paket sembako. Sehingga saat Ramadan, para janda itu tetap bisa berpuasa dengan baik tanpa merasa kelaparan.

Sementara saat Syawal, Haniman biasanya melakukan open house untuk masyarakat sekitar. Mereka yang datang ke Wisma Sorrento selalu disambut dengan ramah, diberi paket Lebaran, dan sedekah uang.

“Pak Haniman ini sangat dermawan. Banyak warga berusia lanjut yang mengenal Pak Haniman selalu bersaksi bahwa beliau ini luar biasa,” kata Edi.

Meski yang datang bisa ratusan orang, namun tidak pernah ada kejadian kisruh karena antre menunggu santunan dari Haniman. Warga yang datang menunggu dengan teratur hingga dapat giliran.

Menurutnya, kegiatan rutin ini dilakukan oleh Haniman dari tahun 1971 sampai 2003. Sejak pabrik Siping tutup karena penjualan yang lesu pada 2003, kegiatan ini tidak lagi dilakukan oleh keluarga Haniman.

“Pak Haniman meninggal karena sakit pada tahun 1997. Namun, masih diteruskan oleh anak keturunannya hingga 2003. Barulah setelah pabrik sepi dan ditutup pada 2003, kegiatan ini tidak berlanjut,” tutur Edi. (fahrizal firmani/hn)

Editor : Ronald Fernando
#wisma lawas #sorrento