Wali Kota Probolinggo Gatot sempat memerintah Kota Probolinggo selama sembilan tahun. Ia adalah wali kota pertama yang memimpin Kota Probolinggo usai kemerdekaan yaitu pada 1950-1959. Ia dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan pekerja keras.
Wali Kota Probolinggo Gatot lahir di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Masa kecilnya dihabiskan di sana. Saat beranjak dewasa, ia memutuskan pindah ke Kota Probolinggo.
Ia melamar kerja di Pemkot Probolinggo dan diterima di bagian keuangan. Setiap harinya, ia mengurus uang masuk ke kas daerah. Termasuk membayarkan gaji bagi pegawai pemkot.
Dari sinilah, ia bertemu dengan istrinya, Srialin yang bekerja sebagai perawat. Mereka menikah dan memiliki satu putri, Menik Widarini dan tinggal di Jalan Teratai bersama adik dari Gatot.
“Mbah Kakung dan Mbah Putri kebetulan sama-sama pegawai pemkot. Mbah putri asal Kabupaten Lumajang. Mereka bertemu dan menikah. Dan memiliki satu putri,” kata Oktijono Gambiranto, cucu Wali Kota Gatot.
Menurutnya, Gatot adalah pribadi yang sangat teliti dan bertanggung jawab. Ia tipe pria yang tidak akan pulang sebelum pekerjaannya selesai. Hal ini, disebut membuat Pemerintah Indonesia puas.
Karena itu, Gatot lantas diminta pemerintah Indonesia menjadi wali kota Probolinggo. Sebab, saat itu di Kota Probolinggo tidak ada wali kota yang menjabat selama lima tahun. Mulai 1945 sampai 1950. Begitu ditunjuk menjadi wali kota, Gatot pindah ke rumah dinas di kantor PMI saat ini.
“Tiga Wali Kota pertama dari Hindia Belanda. Wali Kota keempat itu orang Jawa. Namun, ia memerintah sebelum kemerdekaan dari 1942 sampai 1945. Mbah saya ini wali kota pertama setelah kemerdekaan,” tutur Toni, sapaan akrabnya.
Mengasingkan Diri di Awal Menjabat
Awal masa pemerintahan Wali Kota Gatot tidaklah mudah. Sebab, ia dilantik bersamaan dengan masa agresi militer Belanda. Ia pernah harus mengasingkan diri dari rumah dinas selama beberapa pekan.
Oktijono Gambiranto, cucu dari Wali Kota Gatot menceritakan, Kota Probolinggo juga tidak lepas dari agresi militer kedua Belanda. Bahkan, tentara Belanda sempat mendatangi rumah dinas Wali Kota Gatot.
Tentara Belanda pun langsung menodongkan senjata ke arah kakeknya yang saat itu tengah bersantai di kursi kayu. Mereka juga sempat menembakkan senapan ke arah kakeknya karena kakeknya melarikan diri.
Syukurnya, tembakan ini meleset dan hanya mengenai kursi kayu tersebut. Sementara, Wali Kota Gatot melarikan diri lewat halaman belakang. Dan pergi ke rumah adiknya di Jalan Teratai. Di sana, Wali Kota Gatot sempat mengasingkan diri.
“Kalau cerita dan Mbah Kung, waktu itu ia sedang duduk. Namun, tiba-tiba tentara Belanda masuk ke rumah dinas. Cuma Mbah Kung yang bisa melarikan diri,” jelas Toni.
Cucu pertama dari lima bersaudara ini mengaku tidak banyak inovasi yang dilakukan oleh Wali Kota Gatot selama pemerintahannya. Namun, ia dikenal sebagai pribadi yang suka turun ke bawah.
Setiap akhir pekan, Wali Kota Gatot bersama pejabat pemkot berkeliling Kota Probolinggo menggunakan sepeda pancal. Mereka berupaya mendengarkan keluh kesah dan keinginan warga.
“Kalau terobosan yang dilakukang Mbah Kung, saya tidak pernah dengar dari Mbah Putri. Apalagi saat itu kan Indonesia baru merdeka. Cuma saya tidak pernah dengar omongan jelek tentang Mbah Kung,” tuturnya.
Wali Kota Gatot lantas diberhentikan secara hormat pada 1959. Usai tidak lagi menjadi pejabat publik, ia menghabiskan masa tuanya bersama istri dan adiknya di rumah Jalan Teratai.
“Mbah kung meninggal karena tua. Setelah Mbah Kung meninggal, Mbah Putri beli rumah di Jalan Suyoso. Ibu diajak pindah ke sana,” terang Toni panggilannya. (fahrizal firmani/hn)
Editor : Ronald Fernando