APD di RSUD Bangil Hanya Cukup 11 Hari

BANGIL, Radar Bromo – Makin tingginya jumlah pasien dalam pengawasan (PDP), membuat kebutuhan alat pelindung diri (APD) bagi tim medis di RSUD Bangil makin tinggi juga. Faktanya, saat ini APD di RSUD Bangil diperkirakan hanya cukup untuk 11 hari ke depan.

Agung Basuki, Plt direktur RSUD Bangil mengatakan, APD untuk penanganan medis PDP di RSUD Bangil masih tersedia. Saat ini APD tersedia untuk 11 hari ke depan.

“Untuk tim medis dari perawat dan dokter siap. APD masih menggunakan APD milik RSUD Bangil dan kami upayakan untuk membeli lagi,” terang lelaki yang juga Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasuruan ini.

Dijelaskannya, dalam sehari ada tiga sif tim medis yang berjaga di ruang isolasi penanganan PDP atau suspect Covid-19. Dalam satu sif ada tiga tim medis yang bertugas.

Dengan demikian, kebutuhan APD ini mencapai kurang lebih 9-10 set per hari. Sedangkan satu APD hanya bisa dipakai sekali saja.

Dilanjutkan dr Agung, saat ini APD untuk tim medis di ruang isolasi Covid-19 tersedia 100 set. “Jadi andaikata sehari dipakai sembilan orang, maka kurang lebih masih aman untuk 11 hari ke depan,” lanjutnya.

Namun, RSUD Bangil sudah mengupayakan untuk membeli lagi APD. Menurut dr Agung, distributor akan mengirimkan set APD pada tanggal 4-5 April.

“Jadi, ketersediaan APBD kami rasa masih aman. Untuk tambahan APD diperkirakan datang pada tanggal 4-5 April,” terangnya.

Namun, berapa jumlah APD yang akan datang, dr Agung tidak bisa memastikan. Dipastikan, jumlahnya mencapai ratusan set untuk tim medis di ruang isolasi Covid-19.

Harganya, satu set APD mencapai Rp 1,2 juta. “Jadi, kalau sehari dipakai 9 sampai 10 tim medis, maka sehari kurang lebih ya Rp 10 juta. Kalau sepuluh hari kebutuhan ya Rp 100 juta. Sumber anggaran APD itu dari APBD Kabupaten Pasuruan, dari bantuan tidak terduga (BTT),” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pasuruan dr Sujarwo mengatakan, tim medis di rumah sakit rujukan RSUD Bangil wajib menggunakan APD untuk penanganan Covid-19. Juga, wajib menggunakan APD untuk tindakan non medis. Yaitu, masker bedah dan handscoon atau sarung tangan.

“Dan dari pengamatan kami, untuk puskesmas dan rumah sakit yang dibawahi pemerintah, masih cukup APD itu. Sedangkan tim medis di klinik ataupun rumah sakit swasta diupayakan oleh pihak manajemen rumah sakit,” terangnya.

Namun, yang menjadi perhatian justru dokter-dokter yang praktik mandiri. Saat ini menurutnya, masker cukup sulit didapat. Termasuk handscoon bahkan hand sanitizer. Padahal, dokter praktik mandiri ini setiap hari juga bersentuhan langsung dengan pasien.

“APD nonmedis seperti masker dan handscoon ini wajib dipakai karena kita tidak tahu mana pasien yang sudah terkena virus korona atau tidak. Jadi, dokter wajib memakai APD tindakan nonmedis tersebut,” terangnya.

Di Kabupaten Pasuruan tercatat kurang lebih ada 80-90 dokter yang praktik mandiri. IDI kemarin (30/3) mulai membuka donasi untuk kebutuhan masker, handscoon, dan hand sanitizer.

“Sudah ada beberapa yang donasi hari ini. Tapi, karena kebutuhan juga tinggi, harapan kami juga ada perhatian untuk donasi APD kepada dokter dan tim medis yang praktik mandiri,” ujarnya. (eka/hn/mie)