alexametrics
24.4 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Guru MTs Dipolisikan, Ini Alasan Orangtua Siswa

GEMPOL – Seorang guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, harus berurusan dengan polisi. Senin (29/10), seorang guru bimbingan dan konseling (BK) berinisial St, 58, itu dipolisikan salah seorang wali muridnya berinisial Sk, 55.

Sk yang merupakan warga Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, itu tak terima putranya yang berinisial DS, 15, dipukul gurunya. Karenanya, sekitar pukul 09.00, dia bersama DS datang ke Mapolsek Gempol melaporkan St.

Setelah membuat laporan, anggota Reskrim Polsek Gempol membawa DS bersama Sk ke RS Bhayangkara, Pusdik Brimob, Watukosek, Kecamatan Gempol, untuk divisum. Usai divisum, keduanya kembali ke mapolsek untuk dimintai keterangan.

“Sebagai bapak sekaligus orang tuanya, saya tidak terima anak dipukul. Makanya, saya putuskan melapor kejadian ini ke Mapolsek,” ujar Sk kepada Jawa Pos Radar Bromo di Mapolsek Gempol.

Sk mengatakan, jika putranya berbuat nakal memang harus dihukum. Namun, ketika putranya melawan dengan kata-kata kotor, mestinya sang guru tidak langsung memukulnya. “Guru tidak boleh berbuat seenaknya saja. Ini sama saja dengan perbuatan arogan. Ke depan ini tidak boleh terulang. Wajar jika sebagai bapak saya tidak terima,” ujarnya. (zal/fun)

GEMPOL – Seorang guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, harus berurusan dengan polisi. Senin (29/10), seorang guru bimbingan dan konseling (BK) berinisial St, 58, itu dipolisikan salah seorang wali muridnya berinisial Sk, 55.

Sk yang merupakan warga Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, itu tak terima putranya yang berinisial DS, 15, dipukul gurunya. Karenanya, sekitar pukul 09.00, dia bersama DS datang ke Mapolsek Gempol melaporkan St.

Setelah membuat laporan, anggota Reskrim Polsek Gempol membawa DS bersama Sk ke RS Bhayangkara, Pusdik Brimob, Watukosek, Kecamatan Gempol, untuk divisum. Usai divisum, keduanya kembali ke mapolsek untuk dimintai keterangan.

“Sebagai bapak sekaligus orang tuanya, saya tidak terima anak dipukul. Makanya, saya putuskan melapor kejadian ini ke Mapolsek,” ujar Sk kepada Jawa Pos Radar Bromo di Mapolsek Gempol.

Sk mengatakan, jika putranya berbuat nakal memang harus dihukum. Namun, ketika putranya melawan dengan kata-kata kotor, mestinya sang guru tidak langsung memukulnya. “Guru tidak boleh berbuat seenaknya saja. Ini sama saja dengan perbuatan arogan. Ke depan ini tidak boleh terulang. Wajar jika sebagai bapak saya tidak terima,” ujarnya. (zal/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/