Kehamilan di Kab Pasuruan Meningkat selama Pandemi, Jampersal Melesat

BANGIL, Radar Bromo – Selama pandemi Covid-19, jumlah pengajuan warga tidak mampu yang mengajukan bantuan biaya untuk Jaminan Persalinan (Jampersal) meningkat tajam. Sampai akhir Juni ini, sudah tercatat ada 5.211 pengajuan. Jumlah itu sangat tinggi bila dibandingkan 2019 lalu yang hanya ada 136 pengajuan.

Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) pada Dinsos Kabupaten Pasuruan Mahmuda Nur mengatakan, jumlah ibu hamil kurang mampu yang mengajuan bantuan biaya persalinan memang sangat tergantung situasional di lapangan.

“Tiap tahun trennya memang naik-turun. Namun, saat pandemi korona saat ini memang ada lonjakan pengajuan bahkan mencapai 5.211 pengajuan ke Dinsos,” terangnya.

Dari Dinsos dan Dinas Kesehatan memang tidak bisa menolak jika ada calon ibu yang kurang mampu dan mengajuan program Jampersal. Hal itu untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi termasuk membantu warga kurang mampu untuk biaya persalinan.

Di tengah wabah korona ini, pengajuan Jampersal bisa diajukan oleh bidan setempat di Dinsos lewat WhatsApp dan e-mail untuk melengkapi administrasi. Termasuk juga ada konfirmasi dari bidan koordinasi di puskesmas. Syaratnya, ibu yang mendapatkan Jampersal harus memiliki Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa.

Program Jampersal adalah untuk mengatasi masalah biaya persalinan dari pemerintah. Meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas, termasuk KB pascapersalinan dan pelayanan bayi baru lahir.

Cukup tingginya pengajuan Jampersal awal semester ini dikatakan diduga tingkat kehamilan yang tinggi di masyarakat. “Juga dengan kondisi ekonomi saat ini sehingga masyarakat banyak yang mengajukan Jampersal. Namun, tetap harus dengan syarat tertentu yaitu masuk warga tidak mampu,” terangnya.

Mahmuda mengatakan, diharapkan untuk ibu yang baru hamil sudah rutin memeriksanakan ke bidan desa. “Sehingga sebelum melahirkan sudah terdata menjadi penerima Jampersal sehingga tidak bingung lagi menjelang Hari Prediksi Lahir (HPL),” terangnya.

Dengan jumlah saat ini yang sudah mencapai 5.211 pengajuan.

Jumlah ini diprediksi bisa terus bertambah sampai akhir tahun 2020 mendatang. Diharapkan dengan program jampersal bisa memberikan perlindungan keamanan proses melahirkan bagi warga tidak mampu agar ibu dan bayinya selamat selama proses melahirkan dan tidak terbebani dengan biaya persalinan. (eka/mie)