Cerita Mahasiswi Probolinggo Pulang dari Tiongkok saat Korona Merebak

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Mahasiswa asal Probolinggo yang kuliah di Tiongkok, mulai berdatangan ke tanah air. Mereka rata-rata pulang karena khawatir penyebaran virus korona di Tiongkok.

Salah satunya, Virliana Yuniar, 20, warga Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Virliana tiba di Kota Probolinggo Selasa (28/1) malam. Putri pasangan Muhammad Erjik, 50, dan Purwati, 44, itu diminta pulang orang tuanya lantaran di Tiongkok mewabah virus korona. Virliana kuliah di Universitas Fuzhou, Kota Fuzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok.

Menurutnya, wabah virus korona di Fuzhou belum separah di Wuhan. “Jarak dari Fuzhou ke Wuhan yakni 13 jam dengan menggunakan kereta cepat,” terangnya.

Artinya, kondisi di Fuzhou masih stabil. Bahkan, hasil pemeriksaan sementara, di kampusnya tidak ada warga yang terdampak virus korona.

“Entah ditutupi atau tidak. Namun yang jelas, yang saya pahami, virus korona itu tidak sampai ke kampus kami. Bahkan, tidak ada mahasiswa yang terdampak,” beber mahasiswi semester 3 Jurusan Bisnis dan Ekonomi Internasional ini.

Virliana pun mengaku sangat beruntung bisa pulang. Meskipun atas desakan orang tua. Mengingat, bandara internasional di Tiongkok tutup pada 31 Januari. Otomatis warga asing yang berada di Tiongkok, tidak bisa pulang ke kampung halaman.

“Mulai 31 Januari bandara akan off sementara. Semua transportasi di Wuhan juga telah diberhentikan sementara,” tambahnya.

Dia sendiri mengaku membeli tiket tanggal 27 dan tanggal 28 sampai di tanah air. Dia pulang setelah orang tuanya mentransfer uang untuk tiket pesawat.

Hal ini dibenarkan Erjik, ayah dari Virlia. Erjik mengaku sangat cemas dengan penyebaran virus korona. Sehingga, ia bersama istrinya memutuskan untuk memulangkan anak sulungnya itu.

“Pokoknya harus pulang dulu. Entah darimana uangnya, yang penting saya segera transfer uang agar anak saya bisa pulang,” tambah Erjik.

Sebetulnya, menurut Erjik, putrinya baru pulang bulan Juni-Juli. Namun, karena ada virus ini, dia pun memulangkan putrinya.

Dia berharap Pemerintah Indonesia bisa memfasilitasi warganya yang tertahan dan tidak bisa pulang. Sehingga, keluarga yang ada di Probolinggo tidak khawatir.

“Saya mewakili orang tua lainnya yang anaknya tidak bisa pulang, berharap bisa difasilitasi pemerintah,” harapnya. (rpd/hn/mie)