alexametrics
30.7 C
Probolinggo
Thursday, 30 June 2022

Mahasiwa Probolinggo Pilih Bertahan di Tiongkok Karena Biaya Pulang Jutaan Rupiah

PAITON, Radar Bromo – Presiden Jokowi meminta masyarakat di tanah air agar tak panik berlebih untuk menyikapi ancaman virus korona, yang belakangan membuat geger. Pemerintah juga sudah melakukan langkah, bagi warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Kota Wuhan maupun di Tiongkok secara keseluruhan.

WNI yang ada di Tiongkok diperkirakan jumlahnya ada banyak. Tak terkecuali dari Probolinggo. SMA Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, saja memprediksi setidaknya ada sekitar 50 lebih alumni SMA Nurul Jadid yang tengah menempuh studi di Tiongkok. Sebagian dari mereka, masih belum pulang ke Indonesia.

Mereka memilih bertahan dengan beragam alasan. Selain karena transportasi dari Tiongkok dinonaktifkan, mereka memilih bertahan karena ongkos pulang memang tak murah.

Hanya saja, semua alumni SMA Nurul Jadid itu kondisinya semua sehat dan baik-baik saja. Sejauh ini mereka juga masih bisa melakukan komunikasi dengan keluarga, maupun lembaga sekolah.

Hal itu disampaikan Didik R. Windarto, kepala SMA Nurul Jadid Paiton. Saat dikonfirmasi kemarin, Didik mengatakan, memang ada sekitar 50 orang alumni Nurul Jadid yang tengah melanjutkan kuliah di Tiongkok. Lokasi kampusnya pun berbeda-beda dan hampir semuanya di luar Wuhan.

”Sebagian sudah pulang karena memang sekarang masuk liburan sementar. Alhamdulillah, kondisi mereka yang di Tiongkok semua sehat dan baik,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Didik menjelaskan, pihaknya terus berusaha berkomunikasi dan mencari perkembangan informasi yang dialami para alumni Nurul Jadid di Tiongkok. Termasuk menghubungi beberapa orang tua alumni Nurul Jadid untuk memastikan kondisinya.

“Alhamdulillah, semua dalam kondisi baik. Kami terus pantau perkembangan informasinya. Kabar baik juga, ternyata kondisi di Tiongkok terus membaik,” katanya.

SEPI: Perkampungan di Wuhan yang terlihat lengang. (Foto: Istimewa)

 

Jawa Pos Radar Bromo sempat berkomunikasi dengan Rahmat Hidayatullah, salah satu alumni SMA Nurul Jadid yang menjadi mahasiswa Hubei Polytechnic University, Kota Huangshi, Tiongkok. Ia mengungkapkan, ada sekitar 10 mahasiswa di kampus yang sama dan merupakan alumni SMA Nurul Jadid. Namun, dirinya dan teman-teman semua bertahan dan belum pulang ke Indonesia.

”Kami semua tidak bisa pulang karena semua transportasi sudah dinonatifkan. Semoga saja, kondisi terus membaik dan kembali normal,” harapnya.

Lain halnya dengan yang Lailatul Qomariyah Sa’adah, 20, mahasiswa jurusan Ilmu Bisnis asal Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Ela -sapaan akrabnya- memilih pulang ke tanah air.

Hanya saja untuk bisa pulang, harus merogoh kocek hingga Rp 10 juta. Karena kepulangan ke Indonesia, pakai dana pribadi.

”Kalau pulang karena keinginan pribadi, biayanya ditanggung sendiri. Biayanya lebih mahal, bisa sampai lipat tiga, Mas. Anak saya pulang tiketnya sampai Rp 10 juta.” kata Mugiantono, 58, orang tua Ela.

Mugiantono mengaku, dirinya mendengar kabar soal virus korona di Tiongkok, awalnya dari anaknya. Dia sempat panik saat melihat pemberitaan karena kondisi penyeberan virus korona. Akhirnya, anaknya diputuskan untuk pulang.

”Alhamdulillah, anak saya tadi (kemarin, Red) pagi sudah tiba di Jakarta. Tapi saya dengar, nanti di Jakarta sekitar 4 sampai 5 hari,” ungkapnya.

Imron Hamzah, kakak kandung dari Rahmad Hidayatullah mengungkapkan, dirinya dan keluarga terus berkomunikasi dengan adiknya yang ada di Kota Huangshi. Untuk memastikan kondisi adiknya aman dari virus korona.

”Sebenarnya cemas dan waswas, Mas. Kalau bisa pulang saja, tapi biaya untuk pulangnya mahal. Untuk itu, kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu proses pemulangan,” harapnya. (mas/fun)

PAITON, Radar Bromo – Presiden Jokowi meminta masyarakat di tanah air agar tak panik berlebih untuk menyikapi ancaman virus korona, yang belakangan membuat geger. Pemerintah juga sudah melakukan langkah, bagi warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Kota Wuhan maupun di Tiongkok secara keseluruhan.

WNI yang ada di Tiongkok diperkirakan jumlahnya ada banyak. Tak terkecuali dari Probolinggo. SMA Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, saja memprediksi setidaknya ada sekitar 50 lebih alumni SMA Nurul Jadid yang tengah menempuh studi di Tiongkok. Sebagian dari mereka, masih belum pulang ke Indonesia.

Mereka memilih bertahan dengan beragam alasan. Selain karena transportasi dari Tiongkok dinonaktifkan, mereka memilih bertahan karena ongkos pulang memang tak murah.

Hanya saja, semua alumni SMA Nurul Jadid itu kondisinya semua sehat dan baik-baik saja. Sejauh ini mereka juga masih bisa melakukan komunikasi dengan keluarga, maupun lembaga sekolah.

Hal itu disampaikan Didik R. Windarto, kepala SMA Nurul Jadid Paiton. Saat dikonfirmasi kemarin, Didik mengatakan, memang ada sekitar 50 orang alumni Nurul Jadid yang tengah melanjutkan kuliah di Tiongkok. Lokasi kampusnya pun berbeda-beda dan hampir semuanya di luar Wuhan.

”Sebagian sudah pulang karena memang sekarang masuk liburan sementar. Alhamdulillah, kondisi mereka yang di Tiongkok semua sehat dan baik,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.

Didik menjelaskan, pihaknya terus berusaha berkomunikasi dan mencari perkembangan informasi yang dialami para alumni Nurul Jadid di Tiongkok. Termasuk menghubungi beberapa orang tua alumni Nurul Jadid untuk memastikan kondisinya.

“Alhamdulillah, semua dalam kondisi baik. Kami terus pantau perkembangan informasinya. Kabar baik juga, ternyata kondisi di Tiongkok terus membaik,” katanya.

SEPI: Perkampungan di Wuhan yang terlihat lengang. (Foto: Istimewa)

 

Jawa Pos Radar Bromo sempat berkomunikasi dengan Rahmat Hidayatullah, salah satu alumni SMA Nurul Jadid yang menjadi mahasiswa Hubei Polytechnic University, Kota Huangshi, Tiongkok. Ia mengungkapkan, ada sekitar 10 mahasiswa di kampus yang sama dan merupakan alumni SMA Nurul Jadid. Namun, dirinya dan teman-teman semua bertahan dan belum pulang ke Indonesia.

”Kami semua tidak bisa pulang karena semua transportasi sudah dinonatifkan. Semoga saja, kondisi terus membaik dan kembali normal,” harapnya.

Lain halnya dengan yang Lailatul Qomariyah Sa’adah, 20, mahasiswa jurusan Ilmu Bisnis asal Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Ela -sapaan akrabnya- memilih pulang ke tanah air.

Hanya saja untuk bisa pulang, harus merogoh kocek hingga Rp 10 juta. Karena kepulangan ke Indonesia, pakai dana pribadi.

”Kalau pulang karena keinginan pribadi, biayanya ditanggung sendiri. Biayanya lebih mahal, bisa sampai lipat tiga, Mas. Anak saya pulang tiketnya sampai Rp 10 juta.” kata Mugiantono, 58, orang tua Ela.

Mugiantono mengaku, dirinya mendengar kabar soal virus korona di Tiongkok, awalnya dari anaknya. Dia sempat panik saat melihat pemberitaan karena kondisi penyeberan virus korona. Akhirnya, anaknya diputuskan untuk pulang.

”Alhamdulillah, anak saya tadi (kemarin, Red) pagi sudah tiba di Jakarta. Tapi saya dengar, nanti di Jakarta sekitar 4 sampai 5 hari,” ungkapnya.

Imron Hamzah, kakak kandung dari Rahmad Hidayatullah mengungkapkan, dirinya dan keluarga terus berkomunikasi dengan adiknya yang ada di Kota Huangshi. Untuk memastikan kondisi adiknya aman dari virus korona.

”Sebenarnya cemas dan waswas, Mas. Kalau bisa pulang saja, tapi biaya untuk pulangnya mahal. Untuk itu, kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu proses pemulangan,” harapnya. (mas/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/