alexametrics
26.6 C
Probolinggo
Monday, 23 November 2020

Dilema Normalisasi Kalimati; Wacana Penggusuran demi Atasi Banjir  

Pemerintah Pusat melalui BBWS Brantas berencana memfungsikan lagi Kalimati yang melintas di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan hingga Sidoarjo. Bila rencana itu dijalankan, 1.208 bidang di tujuh desa/kelurahan yang ada di tiga kecamatan, Kabupaten Pasuruan bakal tergusur. Penolakan pun mulai muncul dari warga terdampak.

===========

RASA cemas menyelimuti Sri Rahayu, warga Desa Kedungringin Tengah, Desa Kedungringin, Kecamatan Beji. Menghadapi musim penghujan, tamu tak diundang bernama banjir itu kerap datang.

Air luapan dari Sungai Wrati setiap hujan turun, memang menjadi masalah setiap tahun. Bukan hanya memicu banjir. Tetapi juga jadi tempat mengalirnya limbah perusahaan yang mengakibatkan bau dan gatal-gatal pada warga setempat.

Ia pun hanya pasrah. Meski dalam hatinya berharap ada solusi nyata dari pemerintah, untuk mengatasi persoalan itu.

Persoalan banjir di wilayah Kedungringin, Kecamatan Beji, bukan hanya dirasakan Sri Rahayu. Ada kurang lebih 925 KK di desa setempat yang kerap terdampak banjir, ketika musim penghujan tiba. Dan hingga sekarang, persoalan tersebut tidak bisa terpecahkan sepenuhnya.

Ketika musim penghujan masuk puncak, desa setempat bisa dipastikan kebanjiran. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kedungringin. Tetapi juga di desa terdekatnya, Kedungboto. Bahkan, kondisi serupa biasanya juga melanda Kalianyar, Kalirejo dan Tambakan di Kecamatan Bangil.

Sejumlah upaya sebenarnya sudah dilakukan. Seperti, normalisasi Sungai Wrati. Namun, hal itu tak serta merta menghentikan banjir ke pemukiman warga.

Beberapa alternatif ke depan pun disiapkan untuk mengatasi banjir di wilayah Beji tersebut. Selain pembangunan kolam retensi, ada pengembalian fungsi Kalimati atau Bangiltak dengan jalan normalisasi.

LANGGANAN BANJIR: Wabup Mujib Imron (baju putih, bertopi) saat meninjau banjir di Beji, beberapa waktu lalu. Kawasan Beji dan Bangil langganan terendam banjir lantaran Kalimati yang tak lagi berfungsi. (Jawa Pos Radar Bromo Photo)

“Dari alternatif yang ada, pemerintah pusat melalui BBWS Brantas lebih melirik untuk pengembalian fungsi Kalimati,” kata Kepala Dinas SDA dan Tata Ruang Kabupaten Pasuruan, Misbah Zunib.

Beberapa hal menjadi pertimbangan. Normalisasi Kalimati tidak membutuhkan pembebasan lahan. Karena lahan yang akan difungsikan sudah ada dan tinggal pengerukan.

Berbeda dengan kolam retensi yang membutuhkan biaya lebih besar. Sebab, harus disertai dengan pembebasan lahan.

Di sisi lain, manfaat pengerukan Kalimati tidak hanya akan dirasakan dampaknya oleh warga Kedungringin dan Kedungboto. Tetapi juga warga di wilayah Gempol hingga luar Kabupaten Pasuruan, seperti Jabon, Kabupaten Sidoarjo.

“Salah satu pertimbangannya, karena pengerukan Kalimati tidak membutuhkan pembebasan lahan seperti pembangunan kolam retensi. Dan lagi, dampaknya lebih banyak dirasakan warga,” sambungnya.

Program tersebut sudah disosialisasikan, beberapa tahun terakhir. Bahkan, sejak 2019 telah dimatangkan dengan keluarnya Perpres RI Nomor 80/2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan Jatim.

Normalisasi Bangiltak masuk di dalamnya. Yakni penanggulangan banjir di wilayah Kedunglarangan-Pasuruan dan Sidoarjo. Program tersebut diagendakan untuk dilaksanakan secara multiyears, mulai tahun 2021 hingga 2023.

Melalui normalisasi, sungai yang tak lagi berfungsi itu akan dikeruk sepanjang kurang lebih 12 km. Anggaran jumbo pun disiapkan. “Sumber dananya dari APBN dengan nilai total Rp 568 miliar,” jelasnya.

Menurut Misbah, pengerukan Kalimati menjadi pilihan BBWS Brantas lantaran dianggap lebih efektif dalam mengatasi banjir di wilayah Pasuruan dan Sidoarjo. Bahkan, banyak wilayah Pasuruan, yang akan merasakan dampak bila pengerukan Kalimati direalisasikan.  Terutama daerah-daerah di wilayah langganan Banjir, mulai Gempol hingga Bangil.

Aktivitas normalisasi di Kali Kedunglarangan, beberapa waktu lalu. Rencana normalisasi juga direncanakan di Kalimati untuk mengatasi banjir yang kerap melanda Bangil dan Beji. (Jawa Pos Radar Bromo Photo)

Kali Sudah Jadi Permukiman

 

Rencana besar pemerintah untuk mengatasi banjir dengan cara normalisasi Kalimati, bukannya tanpa ‘korban’. Ada setidaknya 1.208 bidang berupa bangunan pribadi terancam digusur imbas kebijakan tersebut. Jumlah itu belum termasuk 72 aset negara dan desa yang juga terdampak.

Semua tersebar di Kecamatan Gempol, Beji dan Bangil. Angara lain di Kelurahan Kalianyar dan Desa Tambakan, Kecamatan Bangil. Sementara di Gempol, ada Desa Gempol dan Desa Legok. Sedangkan di Kecamatan Beji, ada Desa Cangkringmalang, Desa Kedungboto dan Desa Kedungringin.

Hal ini yang akhirnya memunculkan gelombang penolakan dari warga yang bakal  berdampak. Mereka menolak rencana itu, lantaran tak ingin rumah yang sudah bertahun-tahun mereka tempati digusur begitu saja.

Koordinator Penolakan Penggusuran Bangiltak, Henry Sulfianto menguraikan, penolakan muncul karena warga sudah menempati lahan setempat sekian lama. Bahkan, ada yang sebelum tahun 1990an. Selama itu pula, tidak ada peringatan dari instansi terkait.

“Tiba-tiba saja, ada wacana penggusuran. Padahal, selain kami sudah menghabiskan banyak uang untuk membangun tempat tinggal, kawasan setempat sudah menjadi kampung halaman kami,” akunya.

Ia pun berharap, ada kebijakan yang lebih arif dari pemerintah. Sehingga, tidak sampai membuat warga kehilangan tempat tinggalnya.

Misalnya dengan mengurangi lebar sungai yang akan dinormalisasi. Sehingga, warga masih bisa menempati kawasan setempat tanpa harus pindah ke tempat lain.

“Kami bukan menolak program normalisasi. Tapi seyogyanya kalau tidak sampai ada penggusuran,” harapnya.

TAK BERFUNGSI: Seorang warga menunjukkan Kalimati di Kedungringin yang ditumbuhi aneka tanaman liar dan jadi permukiman. (Mokhammad Zubaidillah/ Radar Bromo)

Kalimati sendiri, rata-rata memiliki lebar 120 meter. Ia berharap, hanya 80 meter yang dikeruk. Supaya warga masih bisa menempati kawasan setempat.

Jika pun tidak memungkinkan, ia berharap penggusuran yang dilakukan tidak sampai membuat warga bercerai-berai. Pemerintah diharapkannya bisa menyiapkan rumah tapak untuk warga dengan menggandeng pihak ketiga dengan sumber dana pembangunan dari pemerintah. Rumah tapak itu diharapkan bisa direalisasikan di TKD-TKD yang tak lagi berfungsi dan ditukargulingkan.

“Harapannya, warga bisa menempati rumah tersebut dengan mengangsur pembelian ke pihak ketiga. Tidak usah besar. Tipe 21 atau 27, yang penting bisa menjadi rumah tinggal. Kami ingin pemerintah, baik tingkat pusat, provinsi dan daerah hadir,” ungkapnya yang menyebut ada lebih dari 400 KK yang terancam digusur.

Ia juga berharap, normalisasi Kalimati bisa menjadi alternatif kesekian. Karena masih ada alternatif lain. Misalnya dengan pembangunan kolam retensi atau pengerukan Kali Wrati yang lebih maksimal. Sebab, sumber banjir di wilayah Kedungringin ataupun Kedungboto, adalah melubernya air dari Kali Wrati.

“Kalau kami, sepakat agar Kali Wrati dikeruk lebih dalam. Sehingga, tidak sampai terjadi luberan air kepemukiman,” ulasnya.

Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan, Najib Setiawan berharap, pengerukan Kalimati tidak sampai mengorbankan masyarakat. Penggusuran rumah warga jelas akan merugikan masyarakat yang telah tinggal bertahun-tahun di kawasan setempat.

“Kalaupun normalisasi direalisasikan, kami berharap tidak sampai menggusur warga. Bisa dilakukan dengan menyisakan tepian kali untuk tidak dikeruk. Supaya warga masih bisa tinggal di kawasan setempat,” jelasnya. (iwan andrik/hn)

 

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Seniman Ludruk Probolinggo Cak Mukadi Tutup Usia  

Rencananya jenazah Cak Mukadi akan dimakamkan di TPU setempat, Selasa (24/11)

Masuk Tengah Kota, Truk Terguling di Depan Yon Zipur Probolinggo

Truk terjatuh di jalur terlarang untuk dilewati kendaraan besar seperti truk.

Bertahan di Tengah Pandemi, UMKM Harus Adaptasi dengan Digitalisasi

Sayangnya, masih ada pelaku UMKM yang asing dengan perkembangan teknologi

Tak Berizin, Satpol PP Turunkan Baliho Habib Rizieq di Bangil

Ada 3 baliho Habib Rizieq yang diturunkan di Bangil. Sementara di Pasrepan diturunkan sendiri oleh pemasang.

Rem Blong, Truk Tabrak Pagar-Pos Sekuriti di Sumbersuko Gempol  

Sopir truk selamat usai melompat sesaat sebelum terjadi tabrakan.