alexametrics
31C
Probolinggo
Saturday, 23 January 2021

Swab Dinilai Tak Transparan, Keluarga Pasien Positif di Kraton Protes

KRATON, Radar Bromo – Keluarga seorang pasien positif Covid-19 memprotes penjemputan terhadap Ys, 48. Sebabnya, pihak RSUD Bangil dinilai tidak transparan menyampaikan hasil tes swab pada Ys.

Ys, warga Dusun Ngemplak, Desa/Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, itu dijemput petugas Gugus Tugas, Sabtu (25/7). Ys dijemput karena hasil tes swab-nya positif.

Jumali, pendamping keluarga Ys bercerita, Ys sempat dirawat di RSUD Bangil pada 6 Juli. Keluarganya membawa Ys ke IGD RSUD Bangil karena dadanya bengkak setelah jatuh dari motor di depan rumahnya.

Saat dirawat di IGD, petugas medis melakukan rapid test pada Ys. Sebab, Ys mengalami gejala sesak di dada. Hasilnya reaktif, karena itu petugas medis melakukan tes swab pada Ys dan hasilnya positif.

Ys pun dikarantina selama 15 hari di RSUD Bangil sejak 8 Juli. Namun, hasil swab ini tidak pernah ditunjukkan pada keluarga. Karena merasa kondisinya sudah sehat, Ys pun pergi dari RSUD Bangil dan pulang ke rumahnya.

Jumali lantas menghubungi Gugus Tugas Kecamatan dan menceritakan kondisi Ys. Hasilnya, Ys diperbolehkan karantina mandiri di rumahnya. Dengan syarat, Ys tetap melakukan karantina dan tidak melarikan diri.

Namun, Sabtu (25/7) sekitar pukul 19.00, Gugus Tugas Kabupaten Pasuruan menjemput Ys di rumahnya. Gugus tugas meminta Ys dikarantina di ruang BLK di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.

Mereka berdalih, dua kali tes swab pada Ys hasilnya masih positif. Keluarga Ys pun menolak. Terutama istrinya, J. Alasannya, tidak ada kejelasan pada status Ys. Selama ini, keluarga tidak pernah mendapatkan penjelasan terkait hasil swab dan hanya diberikan keterangan secara lisan.

Adu mulut dan penolakan antara Ys dan Gugus Tugas pun sempat terjadi. J meminta pada Gugus Tugas agar Ys di-swab lagi. Jika positif, maka pihak keluarga minta ditunjukkan hasilnya. Dan jika negatif, keluarga minta Ys dikarantina mandiri di rumah.

Namun, Ys akhirnya berhasil dibujuk untuk dikarantina usai petugas Polsek Kraton datang. Saat itu, Polsek Kraton mengancam akan memidanakan J jika bersikeras menghalangi Gugus Tugas untuk menjalankan tugas mereka. Ys pun dibawa ke BLK Rejoso oleh Gugus Tugas didampingi petugas Polsek dan Koramil Kraton.

“Keluarga Ys sebenarnya tidak keberatan asalkan Gugus Tugas transparan dengan hasil tes swab. Selama ini keluarga dan korban hanya diberi penjelasan secara lisan. Pihak keluarga meminta agar swab dilakukan ulang. Jika memang positif, tidak masalah dijemput,” jelas Jumali.

Camat Kraton Ahmad Harris menjelaskan, Ys dijemput karena memang terkofirmasi positif Covid 19. Bahkan, dia sempat dirawat di RSUD Bangil selama beberapa hari.

Namun, Ys meninggalkan ruang isolasi tanpa sepengetahuan petugas medis saat belum dinyatakan sembuh. Karena itulah, Gugus Tugas datang menjemput Ys agar pengobatan dan pengawasan pada Ys bisa optimal dilakukan hingga tuntas.

Pihak keluarga Ys memang sempat meminta agar dikarantina mandiri di rumah mereka. Namun, hal ini tidak bisa dilakukan. Sebab, hasil dari surveyor beberapa waktu lalu menyebutkan, rumah Ys tidak layak.

Salah satunya, mereka tidak memiliki tempat mandi cuci dan kakus (MCK) sendiri. Karena itulah, Ys diminta untuk dikarantina di BLK Rejoso agar kondisinya bisa lebih terjamin.

“Kami pastikan Ys ini memang belum sembuh dari Covid-19. Dia sengaja dijemput petugas karena rumahnya tidak bisa digunakan untuk karantina mandiri. Makanya, dia dipindah ke BLK Rejoso,”sebut Harris.

Humas RSUD Bangil Hayat memastikan, Ys berstatus positif Covid-19. Dan dari hasil swab yang dilakukan, Ys terpapar Covid-19. Namun, ia malah meninggalkan ruang perawatan tanpa seizin pihak rumah sakit.

“Ada surat penyataan dari keluarga yang menyatakan mereka mengetahui dan menerima kondisi Ys bahwa ia terpapar Covid-19. Jadi, statusnya sudah jelas dan dia malah meninggalkan rumah sakit saat belum sembuh,” terang Hayat. (riz/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU