Ayah Tiri yang Hamili Anaknya Suruh Gugurkan Kandungan, Untungnya Gagal Karena Ini

PURWOREJO – Kisah pilu Bunga (nama samaran), 15, mendapat respons dari banyak pihak. Selain lembaga pendidikan tempat Bunga bersekolah, Pemkot Pasuruan juga siap memberikan pendampingan terhadap keluarga korban.

Bahkan, Selasa (26/2) Bunga yang berstatus anak berkebutuhan khusus (ABK) tersebut, diantar dan didampingi untuk memeriksakan kandungannya di Puskesmas Kandangsapi. Saat itulah diketahui bahwa jabang bayi yang ada di dalam perutnya sudah berusia tiga bulan.

Yang membuat terhenyak, Bunga sempat diajak ke Malang oleh MS, ayah tiri yang menghamilinya. Di Malang, MS mengajak untuk menggugurkan kandungan. Namun, akhirnya urung dilakukan usai ada kerabat di Malang memberinya nasihat.

Pengakuan itu diungkapkan NS, ibu Bunga yang ikut mengantar Bunga ke Puskesmas. Mereka tiba di Puskesmas Kandangsapi sekitar pukul 12.30 untuk mengecek dugaan kehamilan Bunga. Dari hasil pemeriksaan, dipastikan jika Bunga memang sedang mengandung tiga bulan.

NS mengungkapkan, dirinya sempat berniat pergi ke Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Tujuannya untuk menggugurkan kandungan Bunga. Namun, niat ini diurungkan usai dirinya dihalangi oleh salah satu saudaranya yang tinggal di Kota Malang.

NS bersama Bunga memang sempat menuruti perintah MS, sang suami. Bahkan, wanita yang mengalami tunagrahita ini, mengaku ketakutan untuk melaporkan ke polisi. Namun, setidaknya NS kini aman lantaran dia diizinkan untuk tinggal di yayasan sekolah Bunga.

Kepada media ini, NS mengaku, dirinya sudah curiga dengan kehamilan Bunga sejak Desember lalu. Saat itu, ia sempat melihat ada perubahan bentuk tubuh. Kecurigaannya semakin besar usai melihat Bunga sedang memasang celana di kamar MS, sementara MS sedang berbaring di dalam kamar itu.

“Saya tambah yakin setelah mengetahui Bunga sudah tidak menstruasi dua bulan. Awalnya, saya sempat mau menggugurkan kandungannya. Cuma tidak jadi saya lakukan, usai kakak saya mengingatkan tentang masa depan Bunga,” ungkap NS saat ditemui di sekolah.

Insiden ini sudah diketahui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Pemkot Pasuruan. Bahkan, saat Bunga diperiksa di Puskesmas Kandangsapi, BPPKB ikut mendampingi. Selain BPPKB, juga Bunga didampingi pihak kepolisian.

Kabid Perlindungan Anak pada Kota Pasuruan di BPPKB Ani Hariri menjelaskan pihaknya belum mengetahui apakah Bunga ini masuk kategori kehamilan dengan risiko tinggi. Jika demikian, maka dilakukan pendampingan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Pendampingan ini bertujuan untuk mengantisipasi kematian pada ibu.

Namun, Pemkot sudah berkomitmen untuk memberikan rasa aman pada Bunga dan ibunya. Menurutnya, Bunga masih dalam kondisi kritis dan pihaknya bakal mendalami apakah Bunga mengalami trauma atau tidak.

“Yang jelas, kami siap memberikan pendampingan pada Bunga dan ibunya. Namun masalahnya, kami belum menerima laporan secara resmi dari pihak sekolah. Kalau mereka datang membawa KTP dan KK korban serta bukti surat uji kehamilan, pasti langsung ditindaklanjuti,” jelasnya.

Jika memang ada laporan dan Bunga ini mengalami trauma, Pemkot bakal memberikan bantuan hukum, psikososial pada korban dan ibu korban, serta memberikan tempat penampungan sementara. Bahkan, pemulangan kembali ke rumah asal, juga bakal didampingi.

“Kami pasti bakal melakukan yang terbaik. Kami sendiri sudah menyiapkan shelter bagi Bunga dan ibunya sampai kasus ini selesai. Cuma saat ini, Bunga dan ibunya memilih tinggal di yayasan sekolah,” pungkas Ani.

Kondisi keluarga Bunga sendiri, memang cukup pelik. Betapa tidak, Bunga mengalami tunagrahita. Pun demikian dengan NS, sang ibu. NS yang menikah dengan MS, juga masih memiliki anak yang kini duduk di bangku SD.

Dalam keluarga ini, MS adalah tulang punggung keluaga. MS diketahui memiliki usaha jahit. MS pun sudah tidak ada di rumahnya. Begitu juga di lokasi usahanya.

Sementara itu, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Pasuruan Ipda Suwondo menyebut, pihak kepolisian belum menerima laporan resmi tentang dugaan pencabulan ini. Sehingga, Polresta pun belum melakukan penyidikan.

“Kami tadi (Selasa) memang sempat mendampingi Bunga dan ibunya di Puskemas Kandangsapi untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Memang hasilnya positif, namun karena laporan resmi belum kami terima, tentu kami tidak bisa melakukan langkah lebih jauh,” pungkasnya. (riz/fun)